Bintang Medan Merapat ke PSMS
Djohar Isyaratkan Merger
Media Mei 2011 lalu, wacana merger (penyatuan) antara klub-klub Liga Primer Indonesia (LPI)
Penulis: Randy P.F Hutagaol |
TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Media Mei 2011 lalu, wacana merger (penyatuan) antara klub-klub Liga Primer Indonesia (LPI) dengan klub-klub yang berkompetisi di bawah koordinasi PSSI, digaungkan. Penggaungnya adalah "orang-orang LPI". Termasuk di Medan. Dua klub LPI, Medan Chief dan Bintang Medan, digadang-gadang digabungkan dengan Pro Titan dan PSMS.
Merger Medan Chiefs dan Pro Titan disambut dingin karena dua perkara. Pertama, klub ini dimiliki satu orang, yakni Sihar Sitorus, pengusaha yang kini menjabat Executive Comitee (biasa disingkat Exco) PSSI. Kedua, dan ini harus diakui, suporter yang fanatis pada kedua klub ini tak banyak.
Sebaliknya terjadi pada PSMS dan Bintang Medan. Kelompok-kelompok suporter Ayam Kinantan -julukan PSMS- ramai-ramai menyuarakan penolakan. Masyarakat Medan yang jadi suporter atas nama individu juga bereaksi keras. Mereka tak rela, klub tercinta yang berdiri tahun 1950, ini ujug-ujug digabung dengan klub yang masih seumur jagung.
Tidak hanya di Medan, suara penolakan juga datang dari daerah lain. Terutama dari kelompok suporternya. The Jak menolak Persija dimerger, baik dengan Batavia Union atau Djakarta 1927 FC. Viking tak ingin Persib dimerger dengan Bandung FC. Demikian pula Semen Padang, Persipura Jayapura, dan belakangan Persiraja Banda Aceh. Wacana ini kemudian senyap.
Kurang lebih tiga bulan berlalu sudah. Wacana tadi mencuat lagi. Ia muncul seiring opsi yang sekarang sedang digodok "rezim" baru PSSI. Opsi-opsi terkait kompetisi, gerangan seperti apa nasib LPI ke depan. Apakah akan digabung ke ISL, ke Divisi Utama, atau divisi lain di bawahnya. Opsi lain adalah merger tadi. Klub-klub LPI dan LI yang berada di satu daerah "dianjurkan" untuk bergabung.
Mana yang akan jadi garis tegas PSSI? Ketua Umum PSSI Djohar Arifin Husin mengatakan, format kompetisi kemungkinan besar sudah akan rampung digodok pada minggu pertama Agustus.
"Kita memang punya beberapa opsi. Satu dua sudah jadi isu di tengah masyarakat. Yang lainnya masih jadi pembicaraan di antara pengurus PSSI. Ada misalnya, opsi untuk meneruskan kompetisi model lama, yaitu pemberlakuan kompetisi dua lajur. Dengan catatan minimal ada 12 klub profesional. Kedua, penyesuaian prestasi atau kemapanan klub di level ISL, Divisi Utama, Divisi I,II dan III. Ketiga, seperti Anda bilang, merger," katanya saat dihubungi Tribun melalui sambungan telepon dari Medan, Rabu (27/7).
Pengurus PSMS Medan, eks asisten maneger musim kompetisi 2010-2011, Benny Tomasoa, mengatakan pihaknya masih menunggu keputusan PSSI. Tapi soal merger, Benny mengisyaratkan keengganan PSMS.
"Maaf ya, PSMS itu punya herritage value (nilai sejarah) yang tinggi. Sedangkan Bintang Medan masih baru bergulir di bawah satu tahun. Logis tidak ini? Sah-sah saja usulan merger. Tapi saya masih yakin kami bisa membawa PSMS menjadi klub profesional. Kalau alasannya soal Badan Hukum, apa susahnya. Kami bisa persiapkan, kok," katanya.
Hal profesionalitas ini jelas akan jadi perdebatan panjang. "Pendataan kami hanya ada enam klub ISL yang profesional. Klub divisi utama lebih sedikit dari itu. Merger barangkali yang paling memungkinkan. Tapi harus saya tegaskan semua diputuskan berdasarkan kesepakatan," kata Djohar Arifin.(raf)