Moerdiono Meninggal
Moerdiono Bukan Sekadar Mensesneg
Letnan Jenderal Moerdiono, yang menjabat Menteri Sekretaris Negara tiga kali berturut-turut,
Meski demikian, ia bukan sosok yang mau menonjolkan diri di hadapan publik. Almarhum sosok yang terbuka dan apa adanya.
Penilaian itu disampaikan Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia Sofjan Wanandi dan mantan Menteri Negara Lingkungan Hidup, yang kini anggota Dewan Pertimbangan Presiden, Emil Salim secara terpisah di sela-sela pemakaman Moerdiono di Taman Makam Pahlawan Nasional, Kalibata, Jakarta Selatan, Sabtu (8/10).
Pemakaman secara militer yang berlangsung khidmat dan membuat haru itu dipimpin Menteri Sekretaris Negara Sudi Silalahi selaku inspektur upacara dan dihadiri tokoh dari berbagai kalangan, yang dapat menggambarkan luasnya pergaulan Moerdiono. Di antaranya Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad, anggota Dewan Pertimbangan Presiden Ginandjar Kartasasmita, Sekretaris Kabinet Dipo Alam, mantan Kepala Badan Intelijen Negara AM Hendropriyono, dan mantan Kepala Bulog Beddu Amang.
Hadir pula putri mantan Presiden Soeharto, Siti Hediati Herijadi (Titiek) dan Siti Hutami Endang Adiningsih (Mamiek); Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto; Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie; Camelia Malik; Jimly Asshiddiqie; OC Kaligis; dan Peter Gontha.
Sebelum dimasukkan ke liang lahat, istri almarhum, Marijati, diberi kesempatan melihat jasad suaminya yang meninggal di Singapura, Jumat petang waktu setempat. Ia didampingi anaknya, Ninuk Mardiana dan Indrawan Budi Prasetyo. Dua anak lainnya, Novianto Prakoso dan Baroto Joko Nugroho, sudah meninggal. Makam Moerdiono berada di samping makam mantan Kapolri Jenderal (Pol) Kunarto. ”Almarhum orang penting dan sangat bisa dipercaya oleh Pak Harto karena dinilai paling bisa membaca apa kemauan Pak Harto. Tak hanya lewat bahasa, juga gerak tubuhnya,” ujar Sofjan.
Menurut dia, karena dipercaya, Moerdiono bertahun-tahun menjadi penulis pidato Presiden Soeharto, terutama saat memberikan pengantar RAPBN dan nota keuangan tiap tahun.
”Khusus untuk membuat pidato Pak Harto, almarhum harus menyepi di Cibulan, Puncak, untuk mempersiapkan diri sungguh-sungguh,” kata Sofjan, yang mengaku namanya sempat disingkat LB Koen oleh Moerdiono agar bisa mengelabui Presiden Soekarno yang menolak aktivis mahasiswa menjadi anggota DPR-GR, 1966.
Loyal
Menurut Emil Salim, setiap menteri di era Presiden Soeharto, adakalanya mendatangi Moerdiono sebelum bertemu Presiden Soeharto. ”Kami hanya ingin tahu apa yang sedang dirasakan Pak Harto dan bagaimana mood-nya Pak Harto agar kami tak salah omong,” ungkap Emil.
Oleh sebab itu, lanjut Emil, almarhum bisa dinilai lamban sekali untuk menyampaikan hasil sidang kabinet ataupun apa yang dimaui Soeharto kepada publik, tanpa membuka rahasia dan hal-hal yang tak ingin diutarakan ke luar dari pembahasan.
”Di situlah, hebatnya Moerdiono mengomunikasi hasil sidang kabinet yang perlu diketahui publik dan tidak perlu diketahui publik,” kata Emil.
Pendapat Sofjan dan Emil diperkuat oleh putri almarhum Presiden Soeharto, Siti Hediati Herijadi (Titiek) bersama Mamiek.
”Buat kami, Pak Moer bukan seperti seorang menteri. Dia seperti kakak sendiri. Sulit mencari menteri seperti almarhum, yang menguasai persoalan dan serius, tetapi bisa menjadi orang yang periang dan senang melucu,” ujar Titiek.
Titiek mengaku, Moerdiono juga sosok yang loyal kepada ayahandanya. ”Sampai Bapak sakit pun, beliau masih membantunya,” kata Titiek lagi.
Adapun Prabowo Subianto mengaku, Moerdiono seorang negarawan yang loyal terhadap Pancasila dan UUD 1945. (har/oin)