Mantan Preman Amplas di Penang

Jarak tempuh Penang dan Medan hanya 30 menit dengan menggunakan pesawat udara

Mantan Preman Amplas di Penang
IST
Febry Ichwan Butsi, Dosen UMN-Al Washliyah Menamatkan Master Komunikasi di Universiti Sains Malaysia 2011
Laporan Wartawan Tribun Medan, Liston Damanik

TRIBUN-MEDAN.com - Jarak tempuh Penang dan Medan hanya 30 menit dengan menggunakan pesawat udara. Apalagi dengan MoU sister city kedua kota, rute internasional ini makin sibuk seperti penerbangan domestik.


Intensitas keluar masuknya masyarakat ini memang tinggi, berbagai keperluan mulai dari wisata, pendidikan, kesehatan ataupun bisnis. Tapi jangan bayang Medan serupa dengan Penang. Kesemrawutan imigrasi di Bandara Polonia tidak akan ditemui di Penang. Semua sudut Kota Penang jauh berbeda dengan Medan. Utamanya dalam kebersihan, disiplin dan teratur.

Uniknya, kita sebenarnya tetap serasa di Medan. Wajah Melayu Indonesia sering kita jumpai. Mulai dari angkutan Rapid Penang, pusat perbelanjaan bahkan jika ada proyek pembangunan dipastikan kita akan bertemu dengan saudara sebangsa se Tanah Air kita.

Pada kunjungan akhir tahun lalu, saya sempat ber-kombur sewaktu naik Rapid Penang dengan Abang Sianturi. Saya tahu ia  orang Batak, setelah mendengarnya menelepon rekannya menggunakan Bahasa Batak Toba. Sianturi  yang mengaku tinggal di Tanjungmorawa, sudah lima tahun tidak ke Tanah Air.

Ia bekerja di Kedah sebagai pembuat sangkar burung. Lima tahun tidak pulang, pastilah ia seorang TKI (Tenaga Kerja Indonesia) ilegal. "Itulah hidup Bang. Aku preman di Amplas dulu. Tak jelas kerjaku. Mending aku ke sini," ujar Sianturi dengan mimik serius.

Jelasnya, banyak lagi Sianturi-sianturi lain di negeri jiran ini. Saya kebetulan mengangkat soal TKI dalam pemberitaan media massa di Malaysia dalam tesis. Saat riset pengerjaan tesis, saya menemukan hasil kajian Asian Development Bank (ADB) yang menyebutkan pekerja luar negara terutama yang datang dari Indonesia banyak membantu kemajuan negara Malaysia.

Sumbangan pekerja luar negara dalam bidang ekonomi adalah banyaknya penggunaan jasa bank untuk keperluan transfer uang ke negara asal. Demikan juga di bidang telekomunikasi operator selular banyak mendapat keuntungan dari pekerja luar negara ini karena mereka sering menggunakan telepon selular dengan  fasilitas international calling bila menghubungi sanak keluarga di negara asal.

Suksesnya Malaysia menjadi pengekspor Crude Plam Oil (CPO) nomor satu di dunia juga tidak lepas sokongan para buruh migran Indonesia. Dari sekian banyak pekerjaan, Pembantu Rumah Tangga (PRT) yang didominasi kaum perempuan merupakan pilihan favorit karena hanya memerlukan skill  rendah. Namun, berdasarkan pengamatan saya pekerjaan informal ini tidak ada peraturannya. Akibatnya saudara-saudara kita ini sering tidak diperhatikan nasibnya.

Mayoritas PRT berusia di bawah 30 tahun dan berasal dari daerah di mana fasilitas pendidikan dan kesempatan kerja terbatas.  Tjoet Njak Dien, sebuah LSM yang mengurusi kajian  PRT di Yogyakarta (Indonesia), menemukan separuh dari sampel survei di tiga kota besar para PRT hanya berpendidikan dasar rendah, kebanyakan belum menikah, memiliki sedikit keahlian formal, dan bertanggungjawab atas kesejahteraan keluarga mereka.

Rentannya para PRT ini terhadap pelecehan seksual, kekerasan hingga perlakuan yang tidak manusiawi memang menjadi dilema bagi PRT sendiri. Posisi tawar mereka terhadap majikan atau agen yang mengontrak mereka memang kecil bahkan tidak ada sama sekali. Berdasarkan penelitian saya, banyak PRT yang menderita tidak mendapat perlindungan hukum kerena mereka sendiri tidak tahu hak-hak mereka sebagai pekerja. Pemerintah Indonesia adalah pihak yang harus bisa memastikan bahwa duta devisa mereka mendapatkan perlindungan hukum. Selain itu, tentu Pemerintah harus secepatnya mempercepat pembangunan di segala bidang sehingga tenaga kerja dalam negeri bisa terserap dan tak perlu mengadu nasib di luar negeri.(ton)

Penulis: Liston Damanik
Editor: Ismail
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved