Citizen Reporter : Anita Maysarah Samosir

Tidak jauh dari tipologi kota besar di Indonesia, komposisi masyarakat Medan sangat heterogen

Citizen Reporter : Anita Maysarah Samosir
Anita Maysarah Samosir
Sisi Lain Komunitas Punk di Medan

Anita Maysarah Samosir
Mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Muslim Nusantara (UMN) Medan

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Tidak jauh dari tipologi kota besar di Indonesia, komposisi masyarakat Medan sangat heterogen. Berbagai latar belakang suku, agama bahkan golongan masyarakat.Satu daripada golongan yang cukup menyorot perhatian belakangan ini adalah hadirnya komunitas yang menamakan diri anak Punk.Perempatan jalan protokol Medan merupakan sering dijadikan tempat mangkal mereka.Sebut saja perempatan jalan Titi Kuning, perempatan Simpang Melati, Simpang Pos, hingga diterminal Pinang Baris.

Dari hasil observasi penulis, komunitas ‘punker’ ini kebanyakan dari  kaum ataupun golongan yang berbeda-beda. Beberapa diantara mereka ada yang bersekolah sebagaimana anak-anak lainnya bersekolah, namun mereka putus sekolah dan tidak dapat meneruskan sekolahnya.

Rasa ingin bebas dan tidak ingin dikekang merupakan dasar pendorong yang kuat bagi para punker mania.Mereka merasa bosan ataupun jenuh dengan kehidupan yang banyak aturan.Mereka sendiri mengatakan kalau kalau hidup yang banyak aturan itu adalah hidup yang ribet dan mereka tidak mau dikekang dalam segala hal.

Selain itu mereka berusaha untuk belajar mandiri dalam melakukan apapun untuk kelangsungan hidup mereka kelak. Hidup dijalanan dengan berlandaskan keegoisan yang kuat  yang akhirnya menempah diri mereka untuk belajar lebih bekerja keras dalam melakukan apapun yang dibutuhkan.

Menurut penuturan anak punk di perempatan Titi Kuning mereka memiliki banyak pengalaman, dimana mereka menjalani hidup lebih banyak dijalanan.Mereka memiliki cerita sedih dan senang.Hal-hal yang lucu kerap mewarnai kehidupan mereka sebagaimana mereka menjalani hari-hari mereka dengan ‘nongkrong’ yang disertai canda tawa yang bisa mempererattali persahabatan mereka.“Sering kami duduk diteras rumah orang dan diusir karena dianggapkami adalah orang gila.” Tutur seorang anak punk (sebut saja namanya Jack).

Hidup mereka saling tolong menolong antara satu dengan lainnya.Tidak ada rasa individualisme didalam diri mereka, merekapun selalu menjalani hidup dengan perasaan yang senang karena mereka selalu bersama.

Biasanya,mereka mengisi hari-hari mereka dengan berbagai kegiatan yang menurut mereka itu sangat menyenangkan, seperti membuat tattoo, nyablon, mengarasemen lagu, ngebanddan tidak jarang dari mereka untuk sharingdengan anggota lainnya.Merekapun sering berkumpul untuk membicarakan komunitas mereka.Tak jarang dari mereka kucing-kucingan dengan petugas satpol PP, ketika petugas satpol PP mengadakan razia, mereka bergegas lari dan mencari tempat yang aman untuk bersembunyi.

Menjalani hidup dengan rasa kebersamaan adalah dorongan terbesar yang ada dalam diri mereka untuk terus bertahan hidup menjadi punker sejati. Menurut mereka dari kebersamaan akan tercipta sebuah kebahagiaan dan kebahagiaan tersebut selalu mereka dapatkan. Selain itu, rasa senasib sepenanggungan menjadi faktor mereka bertahan hidup dijalanan, saling membantu yang dapat membuat mereka merasa senang dan bertahan hidup sebagai anak punk.

Menjadi punker mania adalah pilihan hidup mereka dimana mereka yakin bahwa mereka yakin bahwa mereka akan tetap hidup bahagia dengan pilihannya. Para punker juga memiliki hatijuga sama seperti manusia pada umumnya yang mana dapat merasakan rasa kagum terhadap lawan jenisnya sesama punker. Hal itu juga dapat menjadi penyemangat mereka untuk terus bergabung menjadi punker mania selalu dianggap negatif bagi masyarakat awam.

Para punker mania tidak ingin disebutdengan kriminal. Namun pada kenyataannya tidak sedikit diantara kita  menganggap mereka identik dengan kriminal. Perasaan atau hal tersebut muncul karena hidup mereka kebanyakan dijalanan dan disertai dengan penampilan yang aneh dan urak-urakan, tetapi memang begitulah gaya dan penampilan mereka.

Para punker bingung terhadap asumsi masyarakat yang selalu menganggap bahwa mereka selalu dianggap berdampak negatif.Masyarakat selalu menganggap para punker adalah sampah hidup yang berada dijalananyang tak pernah sedikitpun dihargai aspirasinya untuk negara.Bahkan mereka merasa sangat dikucilkan dalam kelompok sosial lainnya. Sebagai masyarakat heterogen ada baiknya mencoba mengerti keadaan dan kondisi yang memaksa mereka.Tindakan yang selama ini kita lakukan seperti menghina, menghindar dan meremehkan mereka bukanlah tindakan yang baik.Mereka perlu juga dihargai dan diterima dalam kehidupan masyarakat umum.

Editor:
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved