Citizen Reporter

Senyuman Khas Indonesia di Costa Concordia

PEKERJA kapal pesiar Costa Concordia sangat profesional dan pekerja keras.

TRIBUN-MEDAN.com - PEKERJA kapal pesiar Costa Concordia sangat profesional dan pekerja keras. Mereka berasal dari beberapa negara, seperti Filipina, Chili, Peru, Argentina, Eropa, termasuk Indonesia. Menurut data KBRI Italia ada 170 WNI bekerja di kapal nahas yang disebut tragedi Titanic di era modern.

Kerja keras kru Indonesia di atas Costa Concordia menyentuh hati saya. Pria dan perempuan tergolong bertangan besi,  sanggup bekerja di atas 8 jam kerja setiap hari. Mereka bekerja di berbagai divisi, seperti restoran, kamar kabin tempat penumpang, kolam renang, bahkan bagian kantor.

Mereka adalah anak negeri yang siap berbulan-bulan di atas permukaan air laut berada di dalam kapal pesiar ini, bekerja dengan semangat yang luar biasa.
Ada banyak pelajaran baru tentang hidup dan perjuangan yang saya temukan dari mereka. Semuanya tercermin dari anak-anak negeri Indonesia tercinta. Kerja keras mereka dibalut senyuman khas Indonesia, yang sangat menyentuh saya.

Hal yang tidak bisa hilang dari ingatan saya adalah ketika bercanda bersama seorang gadis wanita muda Indonesia saat saya sarapan di restoran. Aku lupa namanya. Tapi perempuan keturunan Manado, tapi sudah besar di Jakarta. Senang bisa bertemu dan bercanda bersamanya. Di pagi berikutnya, saya kembali ke restoran dan bercanda. Namun, di suatu pagi, saat aku berharap  bisa bertemu, tapi dia tidak ada di restoran tersebut.

Dari pegawai lain, aku dapat informasi  dia sakit, sehingga diwajibkan istirahat selama dua hari. Di hari berikutnya, saya memandang wajahnya dari tempat duduk di mana saya biasanya duduk sarapan. Hati saya sangat senang melihat dia berjalan dengan senyum seraya menyapa,"Selamat pagi Mas Charles".

Saya bersemangat menyambutnya. Namun terlihat jelas wajahnya sedikit pucat. Saya bertanya sakit apa.

"Saya kecapekan, tekanan darah saya turun, jadi saya disuruh berbaring dan istirahat di tempat tidur agar di hari berikutnya bisa fit dan kembali bekerja seperti biasanya,'' ujarnya sangat lembut.
Dua hari dua malam lamanya berbaring dalam kondisi tidak sehat di dalam kapal di atas ombak laut, tidaklah nyaman, karena gelombang laut masih terasa saat air laut berombak.

Pekerja lain, seorang bapak muda dari Bali, yang bekerja di bagian kolam renang. Ia memiliki seorang anak putri, anak pertama dari pernikahannya. Saat ia sedang membersihkan deck kapal, saya mencoba menghampirinya hingga saya melihat  nama dan bendera merah-putih sebagai tanda pengenal kru yang bekerja di kapal tersebut. Saya sangat tersentuh dengan percakapan kami waktu itu. Ia ingin pulang, rindu anak dan istri di Bali.

Ia berkata, "Dari atas kapal ini, jika saya teringat akan mereka, saya selalu memandang foto putri kecilku dan istriku, semoga semuanya baik-baik dengan mereka berdua. Saya sudah kumpulkan gajiku semuanya guna pulang ke tanah air menjenguk keluarga baruku.''

Sejenak saya terdiam dan memandangi foto putri dan istrinya yang ada di dalam dompet hitamnya.
"Saya sebenarnya kepingin pulang cepat-cepat, namun harus disabarkanlah menunggu waktu pulang nantinya," serunya. Hati saya menjerit begitu mendengarkan kata-katanya. Aku sangat bangga dengannya.

Seorang bapak muda yang bekerja keras, sangat menyenangi kerja ekstra atau lembur demi membangun masa depan bersama keluarganya tercinta di masa datang. Bahkan ia berbicara tentang usaha yang kelak dia bangun di negeri tercinta.

Saya terkejut mendengar kabar dari radio di dalam mobil, bahwasanya kapal yang sangat indah dan bahkan penuh dengan pelajaran dan pengalaman hidup bagi saya, tenggelam pada Jumat malam 13 Januari 2012 di sekitar kawasan Italia.
Setelah mengetahui berita ini, sejenak saya kembali membuka foto kenangan saat saya menggunakan layanan kapal ini. Seonggok doa dan harapan agar kiranya semua kru pekerja dan penumpang bisa baik dan selamat. Terutama bagi kru dari Indonesia, semoga kuat menghadapi cobaan kecelakaan yang dialami. Terdengar sangat egois sebenarnya, karena saya mengutamakan keselamatan buat anak-anak bangsa, namun saya ada alasan khusus, karena saya mengetahui kerja keras mereka, impian dan harapan mereka. Mereka layak saya sebutkan sebagai insan unik, karena mereka sangatlah unik. Bekerja demi masa depan di tengah lautan bukanlah hal yang sangat mudah. Mereka adalah insan luar biasa. Bravo buat anak-anak bangsa yang bekerja demi masa depan dan juga keluarga mereka.(habis/*)


Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved