Citizen Reporter

Kedai Lontong Medan di Bandung

Bandung memang pusat pendidikan. Banyak perguruan tinggi hadir di kota yang dijuluki sebagai Paris Van Java.

TRIBUN-MEDAN.com - Bandung memang pusat pendidikan. Banyak perguruan tinggi hadir di kota yang dijuluki sebagai Paris Van Java. Inilah yang membuat banyak orang dari berbagai daerah mulai Sabang hingga Merauke datang untuk mengenyam pendidikan di sini. Tidak cuma itu, Bandung juga pusat belanja, factory outlet, kafe maupun restoran menjamur. Kalau hari libur tiba, tempat-tempat tersebut disesaki pengunjung.

Masing-masing restoran, kafe menawarkan menu berbeda, dari yang tradisional hingga luar negeri. Semuanya tinggal disesuaikan dengan selera dan kantong pengunjung. Tidak Cuma itu restoran dan kafe yang ada umumnya menawarkan suasana nyaman dengan desain ruangan menarik.

Namun, berbeda dengan kedai sederhana yang menawarkan masakan khas Medan ini. Orang menyebutnya dengan Kedai Lontong Medan. Di sini tamu hanya dijamu dengan meja dan bangku panjang yang terbuat dari kayu. Meski begitu kehangatan kental terasa di kedai ini.

Sesuai namanya, kedai yang berada di Jalan Dipatiukur Bandung dekat kampus Unpad ini memang menyajikan makanan ala Medan berupa lontong medan, jus martabe, mie rebus, mie gomak, daun ubi tumbuk, gulai ikan sale, kopi sidikalang, dan lainnya. Semua disediakan untuk memenuhi kerinduan masyarakat Sumatera Utara di Bandung akan hidangan ala Medan.

Tahun 1984, Tagor Lubis hijrah dari Sumatera Utara ke Bandung untuk melanjutkan pendidikannya. Ia mengaku ketika itu kesulitan menemukan makanan yang sesuai seleranya. Hal demikian ternyata juga dirasakan sebagian mahasiswa asal Medan lainnya. Kepuasaan mencicipi makanan khas Medan baru bisa diperoleh apabila ia pulang ke kampung.

Berawal dari pengalaman membuat Tagor memiliki ide untuk mendirikan sebuah kedai yang menyediakan makanan khas Sumatera Utara. Namun karena beberapa hal idenya baru terealisasi tahun 2011 dengan nama Kedai Lontong Medan.

Seiring waktu, kedai lontong Medan mengalami perubahan. Kedai tidak lagi berdiri di bawah tenda bongkar pasang namun sudah berada di bangunan permanen. Kedai juga tidak hanya melayani pengunjung di pagi hari tetapi buka hingga 24 jam. Ini seolah menjadi daya pikatnya. Alhasil, pengunjung yang sebagian besar mahasiswa asal Sumatera Utara menjadikan kedai ini tempat berkumpul hingga subuh menjelang. Mereka berbicara berbagai topik dengan dialek dan bahasa prokem ala Medan.

Halmidar, mahasiswa Unpad asal Medan mengaku sering datang ke sini. Kedatangannya bukan sekadar menikmati makanan khas Medan tapi berkumpul dengan mahasiswa lainnya yang masih satu daerah. Menurutnya, banyak mahasiswa asal Sumatera Utara menetap di Bandung, hanya tidak saling mengenal. Di kedai inilah tali silaturahmi itu terjalin sekaligu menjadi saksi sebuah komunitas anak muda Medan khususnya dan Sumatera Utara terbentuk.(*)


Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved