Rindu Mie Aceh di Medan

Tahun pertama berada di Kairo, beradaptasi bahasa, makanan dan tempat. Saya harus belajar menggunakan bahasa Arab

Mahasiswa Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir, Ahmad Syauqi.

TRIBUN-MEDAN.com, KAIRO - Tahun pertama berada di Kairo, beradaptasi bahasa, makanan dan tempat. Saya harus belajar menggunakan bahasa Arab agar bisa berkomunikasi dan mengetahui bagaimana negara Mesir. Terlebih disana tinggal di asrama Al-Azhar dan tidak  ada sanak saudara.

Di Al-Azhar mahasiswa belum memilih fakutas dan jurusan berbeda dengan Indonesia, ketika kita masuk udah milih fakultas dan di semester tiga memilih jurusan. Kalau di Al-Azhar masuk di tahun pertama semua sama dan mengikuti semua mata kuliah, ditahun kedua baru bisa milih fakultas dan jurusan.

Tapi mahasiswa Indonesia memiliki perkumpulan dan sering melaksana seminar untuk mahasiswa Indonesia. Seperti semalam (15/2) kami baru mengikuti pelatihan jurnalistik Indonesia.

Selama berada di Mesir saya paling sulit beradaptasi dengan makanan, karena rumah sendiri pasti selalu lebih enak, tanah kelahiran yang pasti punya aneka khas makanan dan makanan dengan cita rasa yang cocok di lidah.

Medan sendiri punya banyak sekali makanan yang akan langka atau mungkin tidak akan kita temukan di tempat lain seperti tempat saya berkuliah saat ini. Kairo dan bahkan sekota Mesir ini ketika saya jelajahi tidak punya mie yang menandingi mie Aceh asal Medan.

Sudah hampir setengah tahun berada di negara Onta, Kairo. tapi masih saja teringat-ingat dengan kota asal. Keluarga, teman, semua yang ada di kota Medan, termasuk makanan favoritku, mie aceh.

Karena makanan sehari-hari disini tidak seperti makanan yg biasa aku makan di Medan, di rumah biasanya ada nasi terus makannya pakai sambal, tahu tempe, kangkung dan khususnya mie aceh daerah rumah yang rasanya super pedas dan enak. Tapi di Mesir gak ada nasi apalagi mie Aceh. Tapi, aku mencoba membiasakan diri.

Untuk jajanan sendiri pun, Mesir terbilang tidak memiliki aneka kue-kuean basah dan mie-mie yang aneka ragam seperti di Medan. Disini makanan menu-menu yang mengadung protein hewani seperti daging sapi, ayam,itik, juga ikan,nyaris setiap hari.

Bagi orang asli Mesir, mereka biasa makan besar justru agak malam, sementara bagi warga urban, makan besar dilakukan sore hari atau setelah jam kantor. Setiap kali memperingati kelahiran Nabi Muhammad, misalnya, warga Mesir biasa menyantap apa yang disebut Halawet al-mulid, yaitu kue-kue manis yang didalamnya terdapat beragam jenis kacang.  Disini orang Indonesia khususnya mahasiswa masih memilih-milih makanan apa yg cocok dgn lidah.

Susah memang berada di kota yg tidak memiliki begitu banyak ragam jajanan seperti di Medan, rasanya untuk mengemil atau mengganjar perut saja harus dengan makanan berat seperti daging, atau martabak dan roti.

Harapanku, aku segera berlibur dan bisa pulang ke Medan, bertemu rindu dengan semua keluarga, termasuk menyantap mi aceh di tengah-tengah aneka macam cemilan lainnya, tapi itu masih lama akan saya rasakan karena libur panjang baru bisa pulang. (Cr1/tribun-medan.com)

Penulis:
Editor: Sofyan Akbar
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved