Breaking News:

Suara Suporter

Situasi yang Bisa Dikalkulasi

Keterpurukan PSMS Medan IPL merupakan situasi yang bisa dikalkulasi secara matematis.

Penulis: Randy P.F Hutagaol | Editor: Ismail
Situasi yang Bisa Dikalkulasi
IST
Harry Saragih - Marketing Comunication PSMS Medan Fans Club (PFC)
Laporan Wartawan Tribun Medan, Randy Hutagaol

TRIBUN-MEDAN.com - Keterpurukan PSMS Medan IPL merupakan situasi yang bisa dikalkulasi secara matematis. Meski, suar pesimistik justru sudah muncul pascapembentukan "tim emergensi" ini. Sepakbola berkaitan erat dengan hukum alam yang meletakkan kematangan pada proses. Cukup mudah ditebak bentukan dadakan dengan hasil prematur.

Apa kalkulasi matematisnya? Pertama, kompetisi Indonesia Premier League (IPL) dikelola PT Liga Prima Indonesia Sportindo (LPIS). Badan usaha bentukan PSSI yang membuktikan kerja-kerja konyol dan inkonsisten. Sederhananya, rumah bisnis yang dihuni orang-orang yang tak memahami sepakbola.

Sangat iba kita melihat  PSMS Medan IPL yang harus melakoni lima laga tandang beruntun.  Kontra Persema Malang, Persibo Bojonegoro, PSM Makassar, Bontang FC, dan Persiba Bantul. Skuad Fabio Lopez harus terbang dari Jawa Timur lalu balik ke Medan (karena PSSI entah atas alasan apa menunda pertandingan), kemudian terbang lagi ke Makassar, ke Kalimantan, dan kembali Medan. Bila dihubungkan dengan durasi laga, sungguh tak efektif dan menguras stamina ekstra besar. Bukan hanya waktu tempuh penerbangan, tapi juga jarak dari bandara ke lokasi terbilang jauh.

Kompetisi elit semisal Liga Inggris, tidak demikian. Jarak antara Manchester-Liverpool tak kurang dari 30 menit ditempuh menggunakan bus. Demikian juga jarak antar kota-kota lain. Meski demikian, mereka tetap punya durasi pertandingan yang normal. Tidak ada tim yang bertanding berkali-kali dalam tempo dua pekan.

Kedua, Fabio Lopez sebagai pelatih tidak memahami kultur sepakbola Indonesia. Ia cenderung membawa kultur Italia disini. Jelas saja tak ada kesesuaian.

Ia terlalu sering meliburkan pemain sebagaimana di Italia. Padahal ini berpotensi merusak ritme performa tim. Paling mendasar dengan kebijakan mengubah pola konsumsi. Lha, jelas ini aneh. Di negara beriklim tropis yang menggantungkan hidup dari pangan beras, lalu tiba-tiba diubah drastis berakibat fatal.

Nah, dua hal inilah yang mengakibatkan PSMS tetap terpuruk. Bukan hanya PSMS tetapi 13 klub peserta IPL nyaris memainkan komeptisi yang sebetulnya tidak kompetitif. Salam Hijau. (raf)

Sumber: Tribun Medan
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved