Citizen Reporter

Anggaran Trafiking Tak Terserap

Selama empat hari, sejak 20 Februari, saya mewakili Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A)

Anggaran Trafiking Tak Terserap
TRIBUN MEDAN/DOK
RINA SITOMPUL Pekerja Sosial
Laporan Reporter Tribun Medan

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Selama empat hari, sejak 20 Februari, saya mewakili Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A), mengikuti pelatihan nasional tentang pendampingan saksi dan atau korban perdagangan manusia atau trafiking dalam pemulangan dan reintegrasi sosial di Hotel Salak, Bogor.

Acara ini melibatkan peserta dari 20 provinsi yang terdiri atas unsur terkait yakni kepolisian, panti-panti penampungan dari Kementerian Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).

Acara yang digelar Kementerian Sosial dan IOM ini penting untuk Sumut, karena provinsi ini kerap menjadi sending area atau tujuan, transit, dan asal untuk sejumlah kasus perdagangan manusia.

Dalam pelatihan ini terungkap, ternyata ada pos-pos anggaran untuk pemulangan korban trafiking di dinas-dinas sosial yang cenderung tidak diketahui bahkan tidak termanfaatkan.

P2TP2A sendiri lebih sering dan aktif berkoordinasi dengan pihak pemberdayaan dalam proses pelayanan pemulangan korban, bukan ke dinas sosial.

Saat ini, di Medan hanya punya satu Rumah Aman, tempat sementara yang dirujuk jaringan dalam upaya perlindungan dan pemulangan korban-korban perdagangan.

Di sini korban akan mendapatkan pelayanan fisik berupa sandang, pangan, dan papan, serta kebutuhan lain yang akan membuat korban merasa nyaman.

Rumah Aman juga memberikan kebutuhan lain berupa upaya konseling awal untuk mengidentifikasi keinginan korban sambil menunggu proses penyidikan di kepolisian.

Jika korban membutuhkan pelayanan medis, rumah aman akan berkoordinasi dengan institusi terkait lainnya yang bekerjasama dengan biro pemberdayaan perempuan selaku fasilitator Rumah Aman.

Guna mengurangi tingkat kejenuhan korban menunggu proses pemulangan ke tempat asal, korban juga diberikan pengetahuan dan keterampilan mengelola barang-barang bekas untuk dikelola sehingga bisa dimanfaatkan.

P2TP2A sendiri saat ini fokus menggali keterampilan mengelola limbah kertas untuk bisa dibuat menjadi cinderamata.

Di sisi lain, poin penting yang akan kita angkat pada pelatihan ini yakni lemahnya upaya penanganan hukum di tingkat penyidikan dan penyelidikan jika korban di area Jawa. Ada kalanya kesulitan dan keengganan pihak penyidik untuk melanjutkan kasus. Kendala tersebut misalnya jika korban telah kembali dan ke asal, berkas banyak yang tidak pernah sampai ke phak kejaksaan.

Tujuan pelatihan ini adalah memperkuat sistem jaringan pelayanan dan pendampingan dalam menangani korban trafiking. Di samping itu, untuk lebih memahamkan kepada para pendamping dan institusi lainnya terutama kepolisian agar lebih sensitif dalam melakukan proses penyidikan di lapangan.(ew)

Penulis: Eti Wahyuni
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved