Wisatawan Kalteng Terpana Saksikan Tarian Adat Karo
Setelah tarian, beberapa lagu dikumandangkan oleh S3. Salah satu
TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Taman Jubileum GBKP mendadak ramai di sore yang basah sehabis hujan deras Sabtu siang itu (31/3/2012). Tiga bus pariwisata besar memasuki gedung pertemuan, membawa kurang lebih 130 wisatawan dari perkumpulan ibu-ibu Gereja Evangelis Kalimantan Tengah. Sebagian disertai oleh suami dan anak-anak mereka.
Terbang dari Pelangkaraya mereka mendarat di Bandara Polonia sekitar Pkl. 15.00. Setelah mengaso di Medan, rombongan menuju Museum GBKP di Taman Jubelium GBKP Sukamakmur (Kecamatan Sibolangit, Deliserdang). Di sana, rombongan disongsong oleh para penari Sanggar Seni Sirulo (S3) dengan musik, busana dan tarian Karo tradisional. Wajah-wajah terpana, tak menyangka menemukan penampilan setradisional ini hanya sekitar 45 kilometer dari Medan.
Setiba di tengah ruang pertemuan, tak jauh dari panggung tempat para pemusik S3 memainkan berbagai alat musik Karo, para wisatawan disuguhi tarian yang menggambarkan beberapa dukun Karo (guru) melaksanakan upacara. Dua laki-laki menarikan Tungkat Malekat dan Piso Tumbuk Lada. Seorang perempuan menari sambil menjunjung keranjang rotan (baka) berisi daun-daun obat. Seorang perempuan lagi menari sambil membawa tempat persembahan sirih (kampil). Semua berbusana sangat tradisional, mengingatkan kita pada Jaman Pra Kebaya.
Tepukan gemuruh dari penonton yang sebagian besar keturunan Dayak Ngaju beragama Kristen ini menyusul semakin cepatnya ketukan musik yang mengetengahkan kulcapi, ketteng-ketteng, gendang, penganak dan gung. Bagai kilat menyambar-nyambar, tak henti-hentinya para wisatawan menjempretkan kamera foto maupun HP. Wajah cengang semakin terlihat ketika para penari meliuk-liukkan tubuh bagai kesurupan. Tepuk tangan riuh dari penonton ketika musik dan tarian berhenti.
“Kami tidak mengira tarian Karo seperti ini. Tadi kami bayangkan seperti tortor Batak yang sering terlihat di TV,” terang seorang ibu separuh baya sambil mengambil foto. “Ini mirip tarian dan musik kita Dayak Ngaju di Kalimantan,” timpal temannya.- Setelah tarian, beberapa lagu dikumandangkan oleh S3. Salah satu yang cukup unik adalah belobat yang diiringi ketteng-ketteng dan mangkuk. Seusai penampilan, satu di antara wisatawan bertanya tentang belobat kepada John Tarigan, si peniup belobat.
(tribun-medan.com/cr2)
