Olah Sampah Jadi Sabun

TIM Sekolah Tinggi Manajemen Informatika Komputer (STMIK) Mikroskil Medan yang saya sertai mengadakan Pekan Kreativitas Mahasiswa

Olah Sampah Jadi Sabun - recycle-cans-and-bottles.jpg
Internet
IST
Olah Sampah Jadi Sabun - IMG01782-20111013-1500.jpg
Tribun Medan / Akbar
Laporan Wartawan Tribun Medan / Akbar

Dita A Kesuma
Mahasiswi STMIK Mikroskil

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - TIM Sekolah Tinggi Manajemen Informatika Komputer (STMIK) Mikroskil Medan yang saya sertai mengadakan Pekan Kreativitas Mahasiswa (PKM) di Kelurahan Tanjungpinggir Siantar Martoba Pematangsiantar, 8 April lalu.
Kami mengadakan penyuluhan Green Innovative with ecOenzym (GIO) Daur Ulang Sampah. Yakni mengubah sampah dapur menjadi cairan pencuci tangan, sabun dan cairan pembersih lantai.

Pada pertemuan yang berlangsung dua jam, kami menunjukkan bagaimana memproses sampah dapur jadi bahan pembersih pada
103 peserta. Di antaranya 15 orang ikut langsung mempraktikkan proses pembuatan temuan pakar pertanian Thailand, Dr Rosukon. Ecoenzyme atau ekoenzim yang dihasilkan melalui proses fermentasi selama tiga bulan.
Awalnya, masyarakat tidak begitu antusias. Tapi situasi berubah drastis setelah Sekretaris Lurah Tanjungpinggir memberikan  pengertian.

Kami berharap 15 peserta bisa menularkan pengetahuan mendaur ulang sampah dapur ini kepada warga lain.
Sebenarnya, tim kami sudah berada di Kelurahan Tanjungpinggir sejak 5 April. Kami mengkoordinasikan tempat, peralatan dan perlengkapan sekaligus memberitahu informasi secara details kepada masyarakat.

Selama tiga hari kami mengumpulkan sampah yang berada di desa itu. Sebelumnya Dikti telah menentukan PKM STMIK Mikroskil ini, masuk dalam 10 judul terpilih dari 80 judul. Hasil PKM di Tanjungpinggir ini nantinya akan  dibandingkan dengan laporan finalis lain untuk merebut piagam penghargaan PKM 2012 dari Dirjen Dikti.

Saya dan tim sepakat, tujuan kami semata-mata bukan untuk menjadi juara dan mendapat penghargaan PKM dari Dirjen Dikti. Kami punya target memberikan penyuluhan dan penelitian yang berguna dan bermanfaat bagi warga Siantar Martoba.
Fermentasi sampah dapur, berupa sisa sayur dan buah dilakukan dengan dimasukkan bahan ini ke dalam ember besar selama tiga bulan dalam keadaan tertutup.

Setelah satu bulan pertama, setiap hari penutupnya dibuka satu kali dan kemudian ditutup kembali. Hal itu dilakukan untuk mentransformasikan oksigen ke nitrat dan karbon dioksida yang baik untuk tanah. Bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat ekoenzim di antaranya sisa sayuran yang dapat diperoleh dari dapur, sisa buah-buahan khususnya kulit jeruk (aroma kulit jeruk cukup baik dan dapat dijadikan pewangi), air bersih dan gula jawa atau gula aren.

Wadah penampung, dapat menggunakan botol plastik minuman yang tidak terpakai. Penggunaan botol plastik bekas sangat dianjurkan mengingat tingginya jumlah botol plastik yang terbuang menjadi sampah. Komposisi yang digunakan untuk menjadikan sabun, pencuci piring dan pembersih lantai, diperlukan 1 kg gula merah, 3 kg sampah organik yang sudah difermentasikan dan 10 liter air.

Cara kerjanya, sampah organik berupa sayuran dipotong halus dan dimasukkan kedalam air kemudian diaduk sampai menyatu dengan air. Kalau sudah menyatu, air akan berubah warna. Sedangkan untuk pupuk organik, diambil dari ampas sayuran. (akb/tribun-medan.com)

Penulis: Sofyan Akbar
Editor: Sofyan Akbar
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved