Uniknya Kuliner Medan

Sebelum bermukim di Medan, saya terlebih dahulu bekerja di dua kota besar di luar Sumatera Utara yaitu Jambi dan Pekanbaru.

Belman Boy

Sales Regional Manager Sumatera PT Comworks Indonesia

TRIBUN-MEDAN.COM, MEDAN - Sebelum bermukim di Medan, saya terlebih dahulu bekerja di dua kota besar di luar Sumatera Utara yaitu Jambi dan Pekanbaru. Namun di Medan saya melihat ada sesuatu yang berbeda. Bukan karena bisnis lebih berkembang di sini, tetapi tren wisata yang dikembangkan sedikit unik.

Wisata kuliner. Memang sedikit aneh mendengarnya. Namanya wisata seharusnya berekreasi di pusat-pusat hiburan dan bukan malah makan. Tetapi di Medan pusat-pusat makanan enaknya yang justru berada di pinggiran kota, membuat saya dan beberapa rekan kerja harus mengatur waktu hanya untuk hunting makanan enak. Dan itu sama saja istilahnya jalan-jalan.

Saya tidak mengatakan bahwa makanan di restoran atau rumah makan yang berada di pusat kota Medan tidak enak, tetapi beberapa kali menyinggahi rumah makan atau lebih tepatnya gubuk yang berada di pinggiran kota seperti arah Medan Tuntungan dan Medan Belawan, mata saya terpana melihat jejeran mobil terparkir hanya untuk mengantri makan.

Acap kali ketika memiliki waktu segang, saya menyempatkan diri makan di kedai yang letaknya jauh dari pusat kota. Jujur saya tidak berani mengatakan bahwa sebenarnya makanan terenak di Medan sebenarnya adalah makanan yang lokasi penjualnya berada di pinggiran kota. Tetapi saya yakin, banyak masyarakat sudah mengetahui dan menyadari hal itu.

Saya juga curiga dengan teman-teman sekantor atau bahkan relasi saya yang sangat minim merekomendasikan tempat makanan enak selain yang berada di pusat kota. Keramaian yang ditimbulkan plus antrian yang merajalela ketika pusat makanan itu terpromosikan, saya pikir satu alasan logis kenapa teman-teman saya urung mempromosikan tempat makan enaknya.

Coba bayangkan, tak jauh dari jembatan Tuntungan, ada sebuah warung kecil yang menjual beberapa menu berbahan baku seperti ayam dan belut. Ketika jam makan siang datang, warung itu selalu saja ramai dikunjungi pembeli yang malah datang dari kawasan pusat kota Medan.

Ada pula penjual sop daging di Jalan Kapten Sumarsono dan Jalan Gaharu yang sekilas tampilan bangunan warung sama tetapi jangan harap Anda bisa duduk lama di dalamnya. Kita harus berlapang dada memberikan kesempatan pengunjung lain untuk duduk dan mencicipi makanan. Begitu seterusnya.

Apa yang saya temukan di Medan menyangkut makananan, menyadarkan saya bahwa karakter makanan asli Medan lebih power full dan kompleks. Artinya, banyak makanan yang dijual di luar Sumatera Utara mencoba meniru tetapi hanya berhasil dalam hal tampilan. Sementara untuk rasa, saya pikir tidak banyak yang mampu mensejajarkan masakan dengan gaya khas Medan. Dan itu yang membuat banyak orang yang sudah klop terhadap satu masakan tidak akan beralih ke lokasi makan lain.

Saya setuju dengan beberapa pendapat praktisi pariwisata dan ekonomi yang mengatakan Medan yang bisa ditonjolkan adalah kulinernya. Bagaimana tidak, hampir seluruh jenis kuliner ada di Medan, dan saya pikir pedagang atau pengusaha makanan di Medan menyadari hal itu dengan membuka outlet cabang usahanya di beberapa titik.

Ketika bermukim dan bekerja di Pekanbaru saya menemukan kerapian dan kebersihan di sana. Begitu juga dengan Jambi. Meski tergolong kalah besar di banding Medan, untuk urusan tata kota Jambi saya pikir lebih unggul. Namun di Medan hal baru saya temukan di sini. Wisata kuliner yang membuat saya rela menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk mencari lokasi makanan yang pas dilidah.(Irf/tribun-medan.com)

Penulis: Irfan Azmi Silalahi
Editor:
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved