Euro 2012
Majulah Majulah Menang...
Mengulik tim sepak bola Inggris ibarat menyusuri gang dan toko-toko
TRIBUN-MEDAN.com, KIEV - Mengulik tim sepak bola Inggris ibarat menyusuri gang dan toko-toko di mal-mal di Jakarta. Sulit untuk berhenti dan puas dengan cepat. Banyak sisi menarik bisa dikupas.
Inggris, negara ”ibu” sepak bola itu, berlimpah pemain bagus, memiliki liga primer paling masyhur sejagat, tetapi tidak pernah memenangi satu turnamen utama internasional pun sejak tahun 1966. Timnas Inggris menjadi ejekan media-media di negaranya. Simon Kuper dan Stefan Szymanski dalam buku Soccernomics (2010) dengan sadis menyebut ”The Three Lions” memiliki takdir nyata untuk menang, tetapi kenyataannya tidak pernah menang. Bertolak belakang.
Akan tetapi, kini kondisinya berbeda. Inggris melaju ke perempat final Piala Eropa 2012. Lupakan pengalaman pahit empat tahun lalu saat Inggris bahkan tidak lolos kualifikasi Piala Eropa 2008. Publik Inggris berharap, laga melawan Italia di Kiev, Ukraina, Senin (25/6), menjadi momentum kebangkitan Inggris.
Pelatih Inggris yang pragmatis, Roy Hodgson, memandang pertemuan dengan Italia ini adalah kesempatan untuk membuktikan progresivitas tim sejak kalah 1-2 dari Italia di Leeds, Maret 2002. Ia mungkin seperti biasa akan memakai formasi 4-4-2 yang fleksibel.
Melihat suguhan kedua tim di penyisihan, Inggris dan Italia bisa dikatakan sama kuat. Inggris bisa menahan imbang Perancis 1-1 dan Italia membuat laga melawan Spanyol juga seri 1-1. Inggris lebih unggul setelah menekuk Swedia 3-2 serta Ukraina 1-0. Sementara laga Italia hanya berakhir 1-1 melawan Kroasia dan 2-0 atas Irlandia.
Bertabur Pemain Bagus
Inggris
tentu memiliki pasukan dengan pemain yang memiliki keterampilan
individual di atas rata-rata. Tim ”St George Cross” mempunyai kiper yang
mampu bergerak sangat cepat dan sensitif, Joe Hart (25). Kiper Italia,
yang kini berusia 34 tahun, Gianluigi Buffon, pun memuji Hart sebagai
penjaga gawang yang sangat potensial menjadi nomor satu di dunia. ”Hart,
Manuel Neuer (kiper Jerman), dan Salvatore Sirigu (kiper Italia) bisa
menjadi yang terbaik di dunia,” katanya kepada BBC Sport.
Sebagai
mercon, Inggris memiliki Wayne Rooney, pencetak satu-satunya gol
melawan Ukraina di penyisihan Grup D, yang sekaligus meloloskan Inggris
ke delapan besar. Bersama Rooney, tidak ada lagi keraguan bagi Hodgson
untuk tampil agresif dan menyerang.
Inggris saat melawan Italia,
Senin (25/6) dini hari WIB, adalah Inggris yang gegap gempita. Ashley
Cole bertekad menyelesaikan ”urusan yang belum beres”, yakni tampil
untuk ke-100 kali bersama timnas. Penampilan ke-100 itu bisa ia capai di
babak final. Dengan catatan, Inggris mengalahkan Italia dan menang di
semifinal. ”Saya beruntung sudah bermain 97 kali bareng timnas dan
berharap yang ke-100 di final. Saya belum pernah merayakan kemenangan
untuk negara,” katanya.
Tekad kuat juga mengaliri darah gelandang
idola publik Inggris, Scott Parker. ”Kami sudah melihat Italia bermain
dan kami tahu apa yang harus dilakukan. Kami harus bermain benar jika
ingin menang atas Italia, tim yang sangat bagus,” katanya, seperti
dikutip Reuters.
Hodgson memuji pemain tengah-belakang John Terry
atas penampilannya menyusul kontroversi pemilihannya di skuad Inggris.
Terry menunjukkan penampilan baiknya sejak akhir musim hingga turnamen
ini. ”Bagus saat ia bisa bersanding dengan Joleon Lescott,” katanya.
Kerja
sama antara Terry dan Lescott, menurut Hodgson, adalah faktor utama
kemajuan timnya. Duo ini akan sangat penting saat melawan Italia.
Hodgson menegaskan, menang atas Italia adalah terobosan signifikan.
”Akan menjadi langkah besar ke depan, tak disangkal,” ujarnya.
Jika mampu mewujudkan harapan menekuk Italia, Inggris akan menorehkan sejarah baru. Bagi Hodgson, tugasnya adalah menyiapkan para pemain hingga mencapai performa terbaik. Setelah itu, mereka akan bertempur dengan kondisi fisik dan mental siap menang.
”Saya tidak akan menambah beban, misalnya, dengan berkata, ”Oh, bisakah kalian membuat sejarah, ayo menangkan pertandingan ini”. Ya, kalau bisa menang itu fantastis, akan membuat kami lebih berkilau,” sambung pelatih yang pernah dipuji cerdas oleh Roberto Mancini ini. ”Kami semua bermimpi untuk menang,” kata Hodgson. Sayangnya, hanya empat tim terbaik yang akan bertahan. (REUTERS/AP/AFP)