Nano-Nano Reflexy, Terbesar di Medan

Kini, tempat reflexy atau pijat kaki sedang marak-maraknya di Medan. Tuntutan kerja dan tingkat setress yang tinggi membuat

Tayang:

Laporan Wartawan Tribun Medan/Averiana Barus

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Kini, tempat reflexy atau pijat kaki sedang marak-maraknya di Medan. Tuntutan kerja dan tingkat setress yang tinggi membuat masyarakat urban terus mencari kenyaman diri di waktu-waktu senggang di sela-sela pekerjaan atau sehabis bekerja.

Hampir di setiap daerah terdapat tempat reflexy. Melihat permintaan yang begitu tinggi tersebut, membuat beberapa pengusaha tergelitik untuk menawarkan tempat reflexy yang tidak biasa.

Jika di tempat-tempat reflexy umumnya kita hanya menjumpai sofa-sofa kulit atau massage bed, di Nano-nano mereka menawarkan tempat reflexy yang fiturnya membuat kita betah berlama-lama di tempat yang berada di kompleks  Kompleks Multatuli Blok CC 1 sampai 4 Medan ini. Dengan tempat sebesar itu, Nano-Nano Reflexy Keluarga menyediakan 53 sofa dan dan 57 Teraphist.

"Kenapa namanya Nano-Nano, karena kita menawarkan teknik reflexy yang bervariasi, dari banyak negara kita jadikan konsep baru yang beda dari
yang lain," ujar Syawaludin, Public Relations Nano-Nano (1/11/2012).

Selain teknik reflexynya yang menyegarkan, mereka menawarkan fasilitas yang tidak biasa kita temui di sofa reflexy seperti LCD TV flexibel. "Setiap sofa ada TV yang bisa digeser-geser ketika mereka mau menonton, akses wi fi, sementara kalau memilih tidur tinggal pakai terapi mata," ujarnya.

Konsep reflexy keluarga menurut Syawal terlihat dari ruang reflexy tanpa sekat dan terbuka untuk semua orang. 53 sofa itu dipajang berderet-deret dalam ruangan beraroma lavender dengan warna biru temaram itu memungkinkan setiap keluarga datang dan dipijat bersamaan. Teraphistnya menurut pria ini telah ditrining hingga dianggap siap turun ke lapangan oleh seorang ahli.

Sebagai pusat reflexy terbesar pertama di Medan, Nano-Nano terbilang berani menawarkan konsep gila-gilaan yang tentu saja membutuhkan modal besar karena menurut Syawal satu sofa saja membutuhkan modal hingga Rp 20-an juta.

"Di Multatuli ini, kita tempat reflexy pertama. Setelah 3 tahun ini sudah banyak bermunculan reflexy baru, itu berarti kita sukses karena Multatuli malah jadi center reflexy," ujarnya lagi.

Munculnya reflexy-reflexy baru itu tidak membuat Nano-Nano gentar. Dengan bangunan marketing yang kuat, Syawal yakin Nano-Nano Reflexy sudah memiliki tempat di hati warga Medan, bahkan dari luar Medan.

"Tiga bulan pertama dulu kita asik bagi-bagi voucher aja dan demo Nano-Nano kemana-mana dengan harapan efek marketing kita berkepanjangan," tuturnya. Kerja keras Syawal dan timnya tidak sia-sia. Kini, reflexy dengan tarif reguler Rp 60 ribu per 1,5 jam ini mampu mendatangkan pengunjung hingga 5000 orang per bulannya.

"Mungkin karena kita punya Happy Hour yang cuman 35 ribu per 1,5 jam mulai jam 9 pagi sampai jam 1 siang, jadi semua orang sudah mampu reflexy mulai dari karyawan swasta sampai anak kuliahan," tuturnya. Selain itu Syawal mengatakan jika kesadaran tentang kesehatan sekarang ini memang sudah besar. "Orang-orang pribumi juga sudah banyak yang datang untuk reflexy. Jika dulu banyakan orang Chinese," katanya lagi.

Bukan berarti tidak mengantri walau sofa reflexynya sebanyak itu. Syawal mengaku di akhir pekan kadang mereka kewalahan menghadapi pasien yang tidak sabar menunggu.

"Makanya kita sediakan televisi di waiting room, Play Station untuk menghilangkan kebosanan atau untuk anak-anak yang menunggu orang tuanya dipijat, dan lebih asik kita punya compliement food untuk yang reflexy," tuturnya.

Setiap orang yang reflexy di Nano-Nano berhak meendapatkan makanan ringan dari restoran sebelah Nano-Nano seharga Rp 15 ribu dan air mineral. Jika pengunjung datang tanpa persiapan kostum, Nano-nano akan menyediakan celana pendek yang bersih untuk anda gunakan, dan selimut bagi orang yang tidak terlalu nyaman dibawah dinginnya AC ruangan.

Nano-nano menyadari pijat di kaki untuk merilekskan urat-urat syaraf dan otot saja tidak cukup. "Walau sebetulnya pijat kaki sudah cukup untuk kesehatan yang dilakukan kuntinyu, tetap saja rasanya kalau tidak pijat badan seperti punggung, tidak puas. Makanya kita pijat tangan, punggung, dan kepala," katanya.

Jika tidak puas hanya dengan waktu 90 menit, Syawal menuturkan jika mereka menawarkan banyak paket atau penambahan-penambahan lainnya. "Yang penting mereka nyaman dan pulang dari sini merasakan perbedaan direflexy," katanya.

(cr2/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved