Ginkgo Biloba, Alternatif Baru Bagi Penyakit Glaukoma
Penyakit glaukoma atau glukoma pada mata sampai saat ini dianggap m
TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Penyakit glaukoma atau glukoma pada mata sampai saat ini dianggap menjadi salah satu penyakit yang paling ditakuti manusia. Setidaknya 50 juta orang di dunia sudah terkena glaukoma. Penyakit glaukoma yang menjadi penyebab kebutaan nomor dua di Indonesia setelah penyakit katarak hingga saat ini belum diketahui secara pasti penyebabnya.
Meski demikian, ternyata masih ada secercah harapan bagi penderita glaukoma untuk mencegah mata mereka dari kebutaan lebih lanjut. Harapan itu adalah ditemukannya terapi herbal yang dinamakan ginkgo biloba. Dari hasil penelitian terungkap bahwa ginkgo biloba menjadi alternatif baru untuk orang yang didiagnosa terkena penyakit glaukoma.
Demikian disampaikan Dr. dr. Masitha Dewi Sari Sihotang, M.Ked (Oph), Sp.M, dihadapan Sidang Senat Terbuka Universitas Sumatera Utara (USU) di Biro Rektor USU, Padang Bulan, Medan yang dipimpin Rektor USU Prof.Dr.dr.Syahril Pasaribu, DTM&H,M.Sc (CTM), Sp.A(K) Kamis (31/1) siang.
Dr.dr. Masitha Dewi Sari Sihotang, M.Ked (Oph), SpM, yang juga dokter ahli mata pada Rumah Sakit Khusus Mata “Medan Baru” Jalan Abdullah Lubis Medan ini berhasil mempertahankan disertasinya di hadapan Sidang Senat Terbuka Universitas Sumatera Utara dengan predikat kelulusan sangat memuaskan.
Masitha selanjutnya dinyatakan berhak menyandang gelar doktor pada Program Ilmu Kedokteran pada Fakultas Kedokteran USU Medan. Staf pengajar Bagian Mata Fakultas Kedokteran USU ini, lebih jauh memaparkan, sampai saat ini para ahli kesehatan mata merasa kesulitan menemukan obat perlindungan syaraf mata jika seseorang sudah didiagnosa mengidap penyakit glaukoma.
“Sampai saat ini pengobatan glukoma hanya tertuju pada obat yang menurunkan tensi mata. Sedangkan obat untuk perlindungan syaraf mata masih sulit,” kata perempuan kelahiran Medan tanggal 24 Oktober 1976 ini.
Ginkgo biloba, jelas Masitha, adalah merupakan tanaman yang berasal dari negeri China yang dianggap dapat melindungi syarat mata sehingga dapat mencegah kebutaan lebih lanjut pada penderita glaukoma. Seperti di Amerika dan China, ginklo biloma dapat ditemukan di Indonesia.
“Hasil penelitian menunjukkan bahwa ginkgo biloba memiliki potensi sebagai antioksidan dan sekaligus neuroprotektif yaitu adanya flavonoids dan glikosida. Namun penggunaanya harus sesuai dosis. Namun penggunaan ginkgo biloba secara berlebihan akan menyebabkan pendarahan di otak, sakit kepala, mual, dan kelelahan,” tambah Masitha.
Lebih lanjut Masitha mengatakan, bahwa memang populasi penderita glaukoma di Indonesia saat ini baru di bawah satu persen, yakni 0,2 persen atau sekitar tiga jutaan penduduk Indonesia. Jumlah ini bisa saja sewaktu-waktu akan meningkat, seiring dengan peningkatan gaya hidup di masyarakat.
Data menunjukkan bahwa biasanya penyakit glaukoma dialami oleh orang yang usianya di atas 40 tahun. “Namun kini orang yang usianya di bawah 40 tahun pun sudah terkena penyakit glaukoma,” tambah istri dr. Heri Hendri, SpPD ini.
Yang pasti, tambah Masitha, glaukoma yang menyerang syaraf mata itu terjadi pada manusia diduga disebabkan beberapa faktor yang mempengaruhinya, yakni faktor keturunan (genetik), penyakit gula (diabetes mellitus), stress, dan traumatik.
Untuk itu Masitha menganjurkan agar tidak terjadi glaukoma, sebaiknya hindari mengkonsumsi alkohol, rokok, kopi, dan minuman yang mengandung soda. Keberhasilan Masitha Dewi Sari Sihotang mempertahankan disertasinya akhirnya ini mengkukuhkan dirinya sebagai satu-satunya dan dokter mata pertama di Sumatera Utara yang meraih gelar doktor.
Bertindak selaku promotor Masitha Dewi Sari Sihotang dalam Sidang Senat Terbuka USU ini adalah Prof. dr. H. Aslim D. Sihotang, Sp.M (KVR) yang juga Guru Besar Tetap Ilmu Kesehatan Mata FK USU. Dewi juga didampingi dua guru besar yang bertindak selaku ko-promotor yakni Prof.dr.H. Aznan Lelo, Ph.D, Sp,FK (Guru Besar Tetap Farmakologi Klinik FK USU) dan Prof.dr.Ropilah Abdul Rahman,MD,M.S.Opthal (Guru Besar Tetap Departement of Ophthalmology Universiti Kebangsaan Malaysia, Kuala Lumpur).(*/Irf)