Sofyan Tan: Saya Lebih Kaya, Tidak Ada yang Bisa Sogok Saya

Tokoh pendidikan Sumut, Sofyan Tan, kembali menceburkan diri ke du

Laporan Wartawan Tribun Medan : Eris Estrada Sembiring

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Tokoh pendidikan Sumut, Sofyan Tan, kembali menceburkan diri ke dunia politik praktis dan kali ini memilih kursi di Senayan sebagai medianya untuk mengabdi. Meski mengaku tanggungjawab ini adalah penugasan yang diberikan PDI Perjuangan, namun ia mengaku keinginan ini juga dilandasi untuk mengabdikan pemikirannya untuk memperbaiki kondisi bangsa. Apa alasan sebenarnya tokoh nasionalis Sumut ini kembali mengibarkan benderanya di kancah politik?

“Banyak aspirasi terlebih persoalan di Sumut yang tidak mampu disampaikan para wakil rakyat di Senayan. Saya ingin berada disana dan memberikan pressure langsung kepada pemerintah. Agar mereka lebih peduli. Selama ini saya bersuara lewat media massa, tapi tidak digubris. Ibarat jualan di tepi jalan saja. Nanti tiap hari kita ributin, pasti pemerintah nggak tahan juga. Pokoknya harus perhatikan Sumut,” katanya sembari tertawa.

Sektor pertama yang ingin ia bangun adalah sektor pendidikan. Sebagai praktisi di bidang pendidikan selama 33 tahun, ia mengaku sudah memiliki banyak solusi atas carut marutnya dunia pendidikan selama ini. Ia bahkan bercita-cita untuk bisa duduk di Komisi X DPR RI, agar bisa terkait langsung untuk membahas pendidikan anak bangsa.

“Pendidikan ini kan bukan soal anggaran 20 persen dari APBN yang itu-itu saja. Pendidikan ini adalah program. Bukan soal anggaran yang menjadi isu utama. Orang di Sumut ini kan banyak yang pintar. Tapi pendidikan memang harus dibenahi,” tegasnya.

Selain pendidikan, masalah dunia usaha, khususnya UKM dan kelestarian lingkungan juga akan menjadi konsentrasi mantan calon walikota Medan 2010-2015 ini. Ia mengaku miris melihat kondisi lingkungan saat ini, ditengah maraknya aksi illegal logging, terkesan dilakukan pembiaran. Namun jika harus memilih, caleg DPR RI dari PDIP dengan nomor urut 2 dapil Medan, Tebingtinggi, Deliserdang dan Serdangbedagai ini mengaku lebih menyenangi komisi bidang pendidikan karena basic fundamentalnya.

Kalau terpilih dan harus ke Jakarta, bagaimana dengan istri dan keempat anaknya?

“Syukurlah, tiga orang anak saya tidak akan berada di Medan karena masih harus sekolah di luar negeri. Satunya lagi berada di Jakarta. Justru bagus karena saya bisa jadi lebih dekat dengan dia,” katanya tertawa.

Sementara untuk menggenjot elektabilitasnya, ia mengaku akan menyiapkan strategi khusus yang langsung menyentuh ke persoalan masyarakat. Ia optimistis kerja-kerja sosial yang selama ini dilakukannya, termasuk relasi yang baik dengan masyarakat berbagai suku, golongan dan agama, akan menghantarkannya sebuah kursi di Senayan.

“Ya, walaupun tidak terpilih nanti, paling tidak saya sudah meninggalkan sesuatu di masyarakat. Itu kan tidak ternilai harganya,” katanya.
Bagaimana dengan fakta belakangan ini maraknya anggota DPR yang menerima suap?

“Wah, mana ada yang berani nyogok saya. Saya sudah mapan. Saya bahkan lebih kaya daripada yang mau nyogok. Lagian di umur seperti sekarang ini, untuk apa lagi korupsi? Hidup saya sudah berkecukupan. Saya cuman ingin mengabdi,” tukasnya mantap.

Berapa dana yang disiapkan untuk kampanye nanti?

“Kalau saya biasanya natural saja. Tidak ada patokan. Andalan saya kan hasil kerja saya selama ini yang pastinya akan membuahkan hasil. Relasi banyak. Dan semua mendukung saya. Kalaupun harus dinominalkan, tidak lebih dari Rp 500 juta,” pungkasnya. (ers/tribun-medan.com)
Penulis:
Editor: Muhammad Tazli
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved