Laporan Wartawan Tribun Medan : Eris Estrada Sembiring

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Uda kanduang dirantau urang, pulanglah Uda di tanah jao. Rindo lah lamo indak basuo, apo ka dayo..

Penggalan lirik lagu “Pulanglah Uda” khas Suku Minang Barat ini memang menggambarkan kerinduan seseorang untuk pulang kembali ke tanah kelahirannya, Sumatera Barat. Tak pelak, setiap “urang awak” yang menyanyikan lagu yang pernah dipopulerkan Hetty Koes Endang ini, biasanya akan menyanyikannya dengan sepenuh hati.

Itu pula yang dirasakan Direktur Umum dan Sumber Daya Manusia (SDM) PT Inalum, Nasril Kamaruddin, ketika mendendangkan lagu ini diiringi denting piano di Niagara Hotel Parapat, akhir pekan kemarin. Mengenakan jaket hitam dan celana jeans kasual, pria yang gemar tersenyum ini tampak terharu ketika memulai intro lagu ciptaan Sjam Tanjung itu.

Di tanah jao di rantau urang..ah, lagu ini membuat saya rindu pulang kampung saja,” katanya ketika sedang membawakan beberapa lagu di hadapan para pimpinan redaksi media massa yang ada di Medan.

Kerinduannya tampak semakin jelas, karena ketika disinggung apakah akan tetap memimpin Inalum pasca diambil alih oleh Indonesia dari Jepang, ia belum memberikan kepastian.

“Saya tidak tahu. Jabatan sekarang ini saja sebenarnya sudah rekor. Sudah tiga periode saya menjabat posisi direktur,” katanya tersenyum. Ia kini memang menjadi orang kepercayaan Inalum di jajaran direksi. Jabatannya berada di posisi kedua, di bawah Presiden Direktur yang diisi oleh orang Jepang sebagai pemegang saham mayoritas.

Apalagi ia sudah 30 tahun berkiprah di perusahaan produsen “ingot” ini. Meniti karir mulai dari staf hingga jabatan tertinggi di Inalum, bukan tak mungkin terkadang membuatnya merindukan kampung halaman.

“Saya sudah 30 tahun bekerja di perusahaan ini. Lebih dari separuh hidup saya didedikasikan untuk Inalum,” katanya kepada Tribun, sembari menikmati lagu-lagu nostalgia yang dibawakan oleh para penyanyi di hadapannya. (ers/tribun-medan.com)