Becak Siantar
Cegah Kepunahan, Harga Becak BSA Siantar Dibanderol Tinggi
Untuk mencegah kepunahan, para pemilik becak BSA di Siantar kompak mematok harga yang tinggi terhadap becaknya jika ada yang ingin
Laporan Wartawan Tribun Medan / Abul Muamar
TRIBUN-MEDAN.com, SIANTAR - Untuk mencegah kepunahan, para pemilik becak BSA di Siantar kompak mematok harga yang tinggi terhadap becaknya jika ada yang ingin menawar. Harga yang mereka patok untuk satu becak atau motor BSA Siantar kini berkisar Rp 25 juta hingga Rp 40 juta.
"Dulu orang modal 6-7 juta, udah bisa ngambil becak ini. Sekarang nggak bisa lagi. Sekarang sudah kita sepakati, minimal 25 juta kalau ada yang minat," kata presiden BSA Owners Motorcycle's Siantar (BOM'S) Erizal Ginting, Sabtu (11/1/2014), saat menerima bantuan dana hibah dari Pemko Siantar untuk perawatan salah satu benda cagar budaya itu.
Erizal mengatakan, cara tersebut merupakan strateginya dalam mempertahankan ikon Kota Siantar itu agar tetap ada. Ia juga berencana untuk terus menaikkan harga becak BSA menjadi 100 juta. "Itu sebenarnya cara saya supaya becak BSA ini nggak punah. Kalau bisapun kami buat nanti harganya jadi 100 juta," katanya.
Zakaria Nasution (72), salah satu pemilik becak BSA, mengaku tak akan menjual becaknya meski ditawar dengan harga tinggi sekalipun. "Nggak saya jual. Udah dari dulu saya narik pakai ini,"katanya kepada www.tribun-medan.com, Sabtu.
Jumlah becak Birmingham Small Arms (BSA) Siantar kini hanya tinggal 330. Mahalnya biaya perawatan dan terpaan angin modernitas membuat becak yang telah ada sejak 1958 itu kini semakin terancam punah. Dalam 7 tahun terakhir, populasi becak ini telah berkurang lebih dari 400 buah.
"Kalau kemarin populasi kita sampai 800. Walaupun ada yang nggak gabung dengan BOM'S. Yang gabung dulu memang cuma sekitar 700,"kata Presiden BOM'S
(cr1/tribun-medan.com)