Si "Tua" Warisan Keluarga Toyota Corolla DX KE70
Untuk mengoleksi mobil retro pabrikan Toyota memang tidak mudah, butuh perjuangan dan startegi, agar si empunya mau melepas mobil tua warisan keluarga
Laporan Wartawan Tribun Medan / Jefri Susetio
TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Untuk mengoleksi mobil retro pabrikan Toyota memang tidak mudah, butuh perjuangan dan startegi, agar si empunya mau melepas mobil tua warisan keluarga. Seperti yang dirasakan dr Riski Arviahdi saat merayu pegawai Bank demi mendapatkan Corolla DX KE70.
Kecintaan dr Riski Arviahdi pada dunia modifikasi otomotif khususnya mobil-mobil retro kian menggeliat sejak bergabung di Komunitas Binjai Retro Club. Namun demikian, sejak aktif menjadi mahasiswa kedokteran kerap membaca majalah-majalah mobil retro. Apalagi, setelah memiliki Toyota Corolla KE 20, hasrat berburu mobil antik makin menjadi-jadi.
"Mobil Corolla DX KE70 saya miliki belum lama ini. Tapi saya sudah mengoleksi satu unit mobil klasik, Toyota Corolla KE 20. Pada mobil pertama kesulitan untuk membangun mobil seperti masa kejayaan terletak pada pencarian suku cadang. Tapi, untuk mobil kedua, kesulitan sangat dirasakan ketika merayu seorang perempuan untuk melepas mobil warisan orangtuanya itu," katanya saat berbincang-bincang bersama Tribun Medan di Jalan Karya Wisata, Jumat (3/10/2014)
Laki-laki yang berprofesi sebagai dokter ini, menjelaskan membangun mobil retro seperti kejayaan pada masanya berbeda-beda. Bahkan, proses pengerjaan setiap mobil tidak sama kerumitannya. Oleh karena itu, untuk membangun mobil klasik tidak hanya butuh uang, tapi harus cerdik mencari membaca peluang.
"Untuk mendapatkan Corolla DX KE70 tidak mudah saya bersama teman-teman harus merayu seorang perempuan yang bekerja di sebuah Bank Nasional milik pemerintah, agar dapat menjual mobil tersebut. Bahkan, proses negosiasi serta rayuannya berjalan selama dua pekan. Apalagi, saya menjanjikan mobil harus terawat dan seperti baru," ujarnya.
Dia menceritakan terpincut untuk memiliki Corolla DX KE70 saat melihat seorang perempuan sedang mencucikan mobil kuno ke sebuah bengkel langganannya di seputaran RSU Bunda Thamrin. Pada saat itu, ia hanya melihat seluruh keadaan mobil dari mesin hingga seluruh bodi.
"Setelah melihat seluruh aksesoris serta bagian mesin, saya langsung tertarik dengan kondisi mobil dan berkeyakinan dapat dibangun seperti baru keluar dari pabrik. Sehingga, saya langsung ngobrol dengan pemiliknya, upaya saya untuk membujuk agar orangtua menjual mobil gagal. Meskipun demikian, setiap hari saya menjalin komunikasi agar pemiliknya mau menjual," katanya.
(cr6/tribun-medan.com)