Konflik Pasar Timah, Wali Kota Medan Diminta Blusukan ke Pedagang
Di seluruh Indonesia proses revitalisasi pasar pasti mendapatkan penolakan hanya saja upaya komunikasi yang dilakukan harus baik dan intensif
Laporan Wartawan Tribun Medan / Jefri Susetio
TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Pengamat Kebijakan dan Politik dari Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara, Arifin Saleh Siregar, mengatakan Pemerintah Kota Medan bersama PD Pasar harus membangun komunikasi yang intensif kepada para pedagang Pasar Timah agar mendapatkan solusi yang terbaik.
"Di seluruh Indonesia proses revitalisasi pasar pasti mendapatkan penolakan hanya saja upaya komunikasi yang dilakukan harus baik dan intensif agar pedagang ngerti program pemerintah. Maka dari itu, saya menyarankan Eldin untuk blusukan kepada pedagang Pasar Timah agar dapat memahami kemauan pedagang dan mencari jalan keluar yang baik," katanya saat dikonfirmasi, Rabu (29/10/2014).
Dia mengemukakan Pemerintah Kota Medan harus optimal melakukan komunikasi, agar pedagang dan pemerintah tidak mempertahankan egoismenya. Namun harus saling memahami, pedagang harus memahami kebijakan pemerintah dan pemerintah harus ngerti kepentingan pedagang. Sehingga masing-masing kepentingan dapat diakomodir.
"Eldin harus menyampaikan program Pemerintah Kota Medan kepada pedagang dan harus mengerti kebutuhan pedagang intinya harus ada komunikasi yang baik antara pedagang dengan PD Pasar. Bagi saya ini masalah tidak rumit hanya komunikasi saja, tidak ada masalah lain kecuali komunikasi yang tak bagus," ujarnya.
Selain itu, lanjut dia, Pemerintah Kota Medan harus kembali melihat tata ruang dan tata kota. Apabila dalam aturan di Bappeda kawasan Jalan Timah tidak kawasan bisnis, maka Pemko Medan harus mengurungkan niatnya. Namun, ketika memang masuk kawasan bisnis harus kembali bangun komunikasi agar pedagang dapat mengerti program pemerintah.
Sebelumnya, puluhan pedagang Pasar Timah, Medan tampak antusias menyampaikan aspirasi di Balai Kota Medan, Selasa (28/10) siang. Mereka terlihat melakukan aksi unjukrasa menolak rencana revitalisasi Pasar Timah lantaran akan merugikan pedagang.
Dari pantauan Tribun Medan, di lokasi, puluhan pedagang yang mayoritas perempuan itu melakukan aksi demonstrasi dengan menggunakan payung sembari menempel berbagai tulisan sebagai bentuk penolakan mereka terhadap pembangunan Pasar Timah. Bahkan mereka menuding, PD Pasar melakukan kerjasama dengan anggota dewan kota untuk membuat pedagang "bangkrut".
"Mau gila orang itu, Benny itu mau bikin mati kami pedagang ini, mereka mau kaya sendiri, bikin gedung dan mau diambil jalan Pemko Medan. Masak jalan mau dibuat pajak (pasar) termasuk menipu Benny itu. Makan uang pemerintah, ini kami sudah susah, jadi semakin susah lah nanti," kata seorang pedagang perempuan yang ikut aksi demonstrasi bernama Enguhiang.
Selain itu, kata Enguahiang, setiap harinya berjualan sejak pukul 08.00 WIB. Meskipun demikian, apabila siang, pembeli di Pasar Timah sudah sepi. Sehingga, mereka menolak proses pembangunan pasar tersebut. Apalagi, perempuan paruh bayah itu memprediksi pembangunan Pasar Timah sarat kepentingan antara PD Pasar dengan anggota dewan kota.
"Mereka mau bikin kami susah lho tak sesuai nanti pembangunan dengan harapan kami. Apalagi, anggota dewan kota adalah Sumandi Wijaya (Acoy) yang akan menjadi investor. Ini sudah jelas lho permainan antara mereka. Kami hanya menjadi korban saja, otak mereka ingin memeras kami pedagang Pasar Timah," ujarnya
Sedangkan seorang pedagang bernama Ahmad mengatakan Jalan Timah masih berstatus jalan kota. Namun demikian, sejak lama pedagang korban kebakaran pindah berjualan di Pasar Timah Medan. Adapun keinginannya PD Pasar tidak membangun pasar lantaran dapat membuat beban baru para pedagang pasar.
"Tidak hanya pedagang yang tidak setuju. Tapi penduduk diseputaran Pasar Timah tidak setuju adanya pasar. Begini mas, saya mendapatkan informasi apabila pasar sudah selesai, setiap pedagang harus membeli kios seharga Rp 300 juta. Manalah ada uang kami segitu, mending beli rumah pribadi," katanya.
Pria keturunan Tionghoa ini, menjelaskan apabila Pasar Timah telah di revitalisasi maka agen kios yang mendapatkan untung besar lantaran dapat membeli kios dengan mudah lantaran banyak uang. Sehingga
nambah beban pedagang. Apalagi, Pasar Timah tidak begitu ramai. Oleh karena itu, dia berpandangan kepentingan mendapatkan untung pribadi lebih dominan.
"Benny Sihotang kongkalikong, mau peras pedagang, belum ada dia menjumpai pedagang dan pedagang tak setuju revitalisasi. Bohong ketika dia mengklaim kami setuju. Mereka (PD Pasar) melakukan intimidasi ke rumah-rumah pedagang, agar mau direlokasi. Kita langsung tanya sama pedagang. Banyak penipuan tanda tangan, kalau enggak mau tak ada perpanjang kios, itu ancaman PD Pasar kepada kami," ujarnya. (Tio/tribun-medan.com)