Pascakenaikan BBM, Tren Pasar Modal di Medan Tetap Positif
Kepala Pusat Informasi Pasar Modal (PIPM) Kota Medan, Pintor mengaku, satu minggu terakhir pasca naiknya BBM dan isu UMK
Laporan wartawan Tribun Medan/Irfan Azmi Silalahi
TRIBUN-MEDAN.COM, Medan-Kepala Pusat Informasi Pasar Modal (PIPM) Kota Medan, Pintor mengaku, satu minggu terakhir pasca naiknya BBM dan isu UMK di Medan, aktifitas pasar modal di Medan tidak mengalami gangguan berarti. Bahkan, sesi kedua bursa pasar modal pada Jumat lalu menunjukkan sentimen positif ditandai dengan kartu hijau dari setiap emiten.
"Kalau kenaikan BBM dan UMK seminggu ini gak ada pengaruh langsung. Pertama BBM, jika dilihat dari pergerakan angka saham, justru lampu hijau marketnya bukan lampu merah. Dan itu terbukti hingga sesi kedua Jumat lalu," urainya, Minggu (23/11).
Menurut Pintor, tetap positifnya pergerakan harga saham berindikasi bahwa sebagian masyarakat memandang kenaikan BBM dengan respon positif. "Itu indikasi dinaikkan BBM, pasar menilai itu tindakan perlu yang harus dilakukan Jokowi," urainya.
Memang menurut Pintor, pengalaman tahun-tahun sebelumnya sebelum dinaikkan BBM oleh pemerintah terjadi tren negatif di pasar modal. Dirinya sendiri menilai, banyak masyarakat yang tadinya berfikiran dan memiliki ancang-ancang membeli saham-saham di bursa, dengan harapan ketika BBM naik harga saham anjlok.
"Pertama prediksi negatif, belajar dari pengalaman. Nah kemarin malah jauh dari ramalah. Saya pikir banyak yang tadinya menunggu untuk membeli, tetapi batal. Sebab harga saham malah tetap," urainya.
Machruzar selaku pihak manajemen Millenium Plaza menyampaikan sejauh ini belum ada terjadi kepanikan ataupun penurunan minat daya beli masyarakat terhadap dampak kenaikan BBM. Dirinya beralibi, bahwa sebelum dinaikkan BBM, masyarakat sebenarnya sudah melakukan persiapan dikarenakan isu kenaikan BBM sudah didengung-dengungkan sejak lama.
"Pantauan saya di mal tetap bagus. Berarti masyarakat sudah menerima kenaikan Rp 2000. Untuk kami sendiri belum ada pengaruh sampai saat ini. Mungkin karena BBM bersubsidi," terangnya.
Machruzar menjelaskan, untuk UMK Medan yang sudah ditetapkan pihaknya tetap memilih menerima apa hasilnya. Dari sisi pengusaha sebenarnya UMK bisa saja ditetapkan sedemikian tinggi, namun konsekuensinya akan terjadi penyesuaian angka perekrutan pada tahun-tahun berikutnya.
"Kalau UMK tinggi otomatis akan terjadi penyesuaian. Sebagai pengusaha UMK berapa (pun) kita berikan, konsekuensinya ya seperti itu. Penyesuaian," terangnya.(Irf)