Penyesalan Seorang Ibu Sukses yang Kini Bercerai dan Menelantarkan Anaknya
Kalau saja aku punya kesempatan kedua, aku pasti sudah berhenti kerja ketika anak-anakku lahir waktu itu. Aku ingat, dulu aku selalu punya alasan
TRIBUN-MEDAN.com – Ini adalah curahan hati seorang wanita yang menyesali hancurnya pernikahan antara ia dan suaminya. Karena keasyikan kerja, ia tak hanya mengorbankan dirinya sendiri, tapi juga menelantarkan anak-anaknya.
“Kalau saja aku punya kesempatan kedua, aku pasti sudah berhenti kerja ketika anak-anakku lahir waktu itu. Aku ingat, dulu aku selalu punya seribu alasan. Dan alasan yang paling sering mereka (anak-anakku) dengar adalah “Maaf, aku harus bekerja”. Begitu dan begitu seterusnya. Padahal tidak semuanya benar. Aku terkadang berbohong.
Sebenarnya aku tidak terlalu sibuk. Aku hanya sedikit enggan mengurusi tetek bengek masalah rumah tangga. Lebih gampang bagiku untuk menyewa seseorang yang bisa mengasuh anak-anakku.
Babysitter lah yang mengasuh bayiku berbulan-bulan lamanya. Seharusnya aku yang membesarkan mereka. Bukan malah babysitter. Suami dan mertuaku harusnya melihatku mendidik mereka hingga besar. Bukan malah babysitter.
Ibu mertuaku selalu geleng-geleng kepala melihatku terlalu sibuk bekerja. Ia ingin aku sendiri yang mengasuh dan mengurus keperluan rumah tanggaku. Membawa anak-anakku jalan-jalan di akhir pekan. Tapi tak pernah kulakukan.
Sampai akhirnya aku bercerai dengan suamiku. Kami tinggal terpisah. Semakin tidak ada yang mengurus anak-anakku. Dan selalu mengatakan sibuk sebagai alasan tak bisa menemani anak-anak kami di rumah.
Aku terlalu terobsesi dengan hidupku. Bagaimana aku harus menjalani hidupku. Bagaimana aku harus mencapai targetku. Mencari uang, have fun, bergaul kesana dan kemari, memiliki banyak teman dan hal-hal menggembirakan lainnya. Tapi apakah ada kebahagiaan yang kubagi dengan anak-anakku?
Aku benar-benar egois. Mementingkan diri sendiri. Aku harap aku bisa kembali ke waktu itu dan memperbaiki semua kesalahan ini.
Sekarang gantian. Bukan balas dendam. Tapi anak-anakku tak lagi memiliki waktu untukku. Awalnya aku marah. Tapi akhirnya aku mengerti. Aku juga dulu melakukan hal yang sama kepada mereka. Aku bahkan pernah mengajak anak-anakku hangout bersama teman-temanku. Dan mengatakan itu adalah quality time buat kami. Padahal bukan. Itu hanya alasanku saja agar aku bisa berkumpul dengan teman-temanku yang lain.
Sekarang semuanya sudah terlambat. Anak-anakku sudah memiliki kehidupan sendiri. Aku? Hanya sibuk bekerja dan bekerja. Tapi aku sangat tidak nyaman dengan keadaan ini. Berbeda dengan anak-anakku, mereka tampaknya nyaman dengan kehidupan mereka saat ini.
Aku ingat dulu selalu memenuhi kebutuhan mereka. Mereka minta uang sekolah, kami berikan. Mereka minta uang untuk membeli kebutuhan, kami berikan. Padahal bukan itu yang seharusnya kami berikan. Tapi waktu..waktu dan waktu. Dulu kami punya kesempatan untuk memberikannya tapi tak kami lakukan.
Aku harap aku masih bisa mengubah masa lalu. Rumah yang besar, TV layar lebar, mobil baru yang berganti setiap beberapa tahun, makan yang mahal dan bisnis yang keren. Kupikir aku menginginkan itu semua. Tapi ternyata bukan. Aku tidak butuh itu semua. Tidak!
Sekarang mereka memang masih bisa melihat kami. Tapi aku sadar, itu hanyalah karena kewajiban. Aku harap ketika mereka menjadi orangtua kelak, mereka tidak akan melakukan apa yang pernah kami lakukan. Tapi aku khawatir, mereka dendam dan akan melakukan hal yang sama dengan anak-anak mereka nantinya. (Hufftington Post)
Baca juga: Mengharukan, Penyesalan Terdalam Seorang Bankir Sukses
(Eris Estrada/tribun-medan.com)