"Mau Tinggal Dimana Kami Kalau Digusur Pemko"

Pemindahtanganan lahan Kebun Bangun milik PTPN III kepada Pemko Pematangsiantar meninggalkan kecemasan bagi masyarakat

Tribun Medan / Ammar
Sebuah plang pemberitahuan bahwa bekas lahan PTPN III Kebun Bangun telah berpindahtangan kepada Pemko Pematangsiantar, Kamis (18/12/2014) 

Laporan Wartawan Tribun Medan / Abul Muamar

TRIBUN-MEDAN.com, SIANTAR - Pemindahtanganan lahan Kebun Bangun milik PTPN III kepada Pemko Pematangsiantar meninggalkan kecemasan bagi masyarakat setempat yang selama ini menetap di lokasi. Pasalnya, mulai sekarang, Pemko Pematangsiantar bisa menggusur para warga yang notabene menggarap di lahan tersebut.

Setelah belasan tahun terbengkalai dan digarap oleh banyak masyarakat, kini, lahan tersebut telah resmi menjadi milik Pemko Pematangsiantar. Dengan itu pula, mereka berarti terancam akan digusur. (Baca:Sekda Siantar Belum Berpikir Soal Penggusuran Warga Penggarap)

Pantauan www.tribun-medan.com di lokasi, Kamis (18/12/2014), rata-rata rumah yang berdiri di atas lahan tersebut termasuk bangunan permanen dan semi permanen. Bahkan ada pula beberapa yang nampak megah, dengan dinding beton dan lantai keramik. Banyak pula bangunan rumah permanen yang disewakan. Aliran listrik juga nampak sampai ke rumah-rumah di sana.

Namun, tetap saja, mereka yang menggarap di situ lantaran tak sanggup membeli tanah secara resmi karena keterbatasan ekonomi, resah dengan kabar tersebut. (Baca:Bekas Lahan PTPN III di Tanjungpinggir Resmi Milik Pemko Siantar)

"Cemaslah kami. Mau tinggal dimana kami kalau kami digusur. Masak kita digusur gitu aja. Apa mereka senang kita digusur," ujar Trisni (41), salah seorang warga setempat yang menghuni rumah bekas rumah dinas pegawai PTPN III.

Trisni mengatakan, dirinya bersama keluarga telah menetap di lokasi selama 13 tahun.

"Udah 13 tahun kita di sini. Kita di sini, kan, eceknya, kita ngurus anak sekolah. Kita bukan orang senang. Kalau orang senang ya, gak mungkin kita tinggal di sini. Ya, udah beli tanah aja di kota sana," katanya.

"Anak-anak pun bilang, 'Cemana mak kalau kita digusur. Mau dimana kita tinggal'. Sedih aku dengarnya. Anak saya empat. Dua lagi masih sekolah SMP kelas 2, SD kelas 6," lanjut wanita yang hanya berjualan jajanan di depan rumahnya ini.

"Bapak (suaminya) pun kerjanya cuma mukul batu. Kalau ada baru bisa dapat upah. Kalau gak ada ya gak ada. Kayak kami ya nangis lah kalau sempat digusur. Nengok di TV-TV itu rumahnya digusur, aduuuh, sedihnya."

Halaman
12
Penulis:
Editor: Sofyan Akbar
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved