83 persen Konflik Agraria di Indonesia terjadi di Sumatera

Ketua Umum Serikat Petani Indonesia, Henry Saragih mengatakan, konflik angraria di Indonesia mencapai 649.973,044 hektar. Pulau

Laporan Wartawan Tribun Medan / Jefri Susetio

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Ketua Umum Serikat Petani Indonesia, Henry Saragih mengatakan, konflik angraria di Indonesia mencapai 649.973,044 hektar. Pulau Sumatera merupakan sentral perkebunan paling dominan mengalami konflik.

"83 persen dari total presentasi konflik agraria secara nasional. Selanjutnya diikuti Sulawesi dan Jawa yang memiliki presentasi 6 persen. Jadi sebenarnya konflik agraria terkosentrasi di Pulau Sumatera," ujarnya saat dihubungi, Sabtu (20/12/2014).

Dia menjelaskan, lahan-lahan yang menjadi konflik merupakan perkebunan, kehutanan dan pertambangan. Banyaknya industrialisasi perkebunan di Sumatera berdampak pada konflik.

"Pemerataan distribusi tanah harus berpihak dan adil, sehingga masyarakat merasakan betul keberpihakan pemerintah dalam menyelesaikan konflik agraria," katanya.

Selain itu, kata dia, kerumitan penyelesaian konflik tersebut karena konflik sudah terpelihara sejak lama. Bahkan beberapa kasus dianggap menjadi laten dan diwariskan kepada keturunan. Adapun, pihak-pihak yang terlibat di antaranya, pemerintah, BUMN, BUMD, swasta nasional maupun asinh.

(tio/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved