Ibu Ini Enam Tahun Tunggui Anaknya di Rumah Sakit
Kasih ibu memang sepanjang masa. Tak peduli duka lara terus menggandeng di setiap detik perjalanannya. Kalimat itu sangat pas
Laporan Wartawan Tribun Medan / Abul Muamar
TRIBUN-MEDAN.com, SIANTAR - Kasih ibu memang sepanjang masa. Tak peduli duka lara terus menggandeng di setiap detik perjalanannya. Kalimat itu sangat pas diberikan kepada Melur Panjaitan (47). Sejak 22 Maret 2009, hingga kini, ia tetap setia menemani putrinya, Bulan Magdalena Hutagaol (24), yang sakit di salah satu ruangan RSUD Djasamen Saragih.
"Waktu itu pertama masuk (RS) Vita Insani. Teris pindah kemari tanggal 16 Mei 2009. Dia anak ke 2 dari 3 bersaudara," ujar Melur, saat ditemui Senin (22/12/2014), saat ia tengah menyulangi Magdalena.
Bagi Melur, menjaga anaknya yang sedang sakit adalah hal terindah yang tak tepermanai. Sehari-hari dihabiskannya untuk mengurus dan merawat anaknya. Memasakkan bubur, menyulangi, hingga membersihkan kotorannya.
"Kecelakaan dia waktu itu. Dibonceng kawannya. Kena sarafnya, jadi gini. Jadi kayak bayi dia sekarang. Ngulang dari awal. Gak bisa apa-apa," katanya.
Tak ada kata bosan, jenuh, sedih. Juga tak ada alasan untuk mengeluh. Bagi Melur, Tuhan punya rencana terbaik dari yang dijalaninya saat ini.
"Gak ada saya ngeluh atau bosan. Kuasa Tuhan sangat luar biasa. Sekarang udah luar biasa perkembangan anakku ini. Udah bisa dia ngunyah," katanya menguatkan hati, meskipun anaknya masih belum bisa apa-apa, kecuali berbaring dan makan dengan disuapi.
Kesabaran Melur memang luar biasa. Pasien tetangganya silir berganti. Tapi ia tetap terus di ruangan itu, seakan ia ditakdirkan selamanya di situ. Tapi ia tetap bersyukur. Ia merasa Tuhan selalu mendampinginya dan putrinya yang tak berdaya itu.
"Buktinya aku di sini sehat-sehat. Gak pernah saya sedih karena ini. Enggak. Justru saya bersyukur. Saya belajar banyak dari ini semua," ujarnya.
Kesabaran Melur pun berbalas rezeki. Entah bagaimana, Melur yang "bertangan kasar" karena sejak kecil bertani, tiba-tiba berubah lentik dan mampu berkreasi. Ia kini mampu membuat kerajinan tangan yang bernilai ekonomi. Semua itu dilakukannya sembari menunggui kesembuhan putrinya.
"Entah dari mana aku pun gak ngerti. Aku ini petani kampung kiannya dari Balige. Ini aku tiba-tiba merangkai ini. Memang Tuhan Yesus itu mukjizatnya luar biasa. Gak henti-henti aku mengucapkan syukur sama Tuhan," katanya.
Hasil kerajinan tangan Melur bahkan kini laku di pasar-pasar kampus. "Anak-anak USI, Nommensen sering datang. Mereka bantuin jualin ini," katanya. Natal tahun ini adalah untuk keenam Melur dan putrinya di rumah sakit. Namun ia tetap yakin, suatu saat, putrinya akan sembuh, dan mereka pulang ke rumah dengan happy ending.
"Aku tetap percaya, anakku bisa sembuh. Kasih Tuhan Yesus tak pernah terputus. Rencana Tuhan itu rencana paling indah. Bukan yang manis aja. Yang pahit pun rencana Tuhan. Gak ada yang mustahil. Sebelum Tuhan memanggil kami. Saya tetap berharap kepada Tuhan. Inilah ujian iman pada diriku sendiri. Dan ini pasti berakhir. Saya tetap sabar dan tetap berpengharapan kepada-Nya," katanya.
(amr/tribun-medan.com)