Raja Abdullah yang Wafat di Usia 90 Tahun Berjuang dari Sakit Pneumonia
Raja Arab Saudi Abdullah bin Abdulaziz yang merupakan sekutu kuat Amerika Serikat telah tutup usia.
TRIBUN-MEDAN.com - Raja Arab Saudi Abdullah bin Abdulaziz yang merupakan sekutu kuat Amerika Serikat telah tutup usia. Raja yang mangkat di usia 90 tahun dan berusaha kuat untuk melakukan memodernisasi kerajaan Muslim ultrakonservatif dengan reformasi yang cukup signifikan itu berada di rumah sakit sejak Desember kemarin berjuang dari sakit pneumonia yang menyerangnya.
Saudara tiri Raja Abdullah, Salman diangkat menjadi raja menurut sebuah pernyataan di televisi negara itu. Kematiannya Jumat pagi ini waktu Saudi ditandai dengan lantunan ayat-ayat suci Al-Quran yang ditayangkan di televisi sebagai sebuah tradisi yang mengiringi kematian sang Raja.
Raja Abdullah akan dimakamkan hari ini sesuai tradisi Islam bahwa penguburan harus dilakukan dalam waktu 24 jam dari kematiannya.
Sebuah pernyataan yang dirilis dari Kerajaan Saudi seperti yang dilansir The Daily Mail menyatakan: 'Yang Mulia Salman bin Abdulaziz Al Saud dan semua anggota keluarga dan bangsa meratapi Penjaga Dua Masjid Suci Raja Abdullah bin Abdulaziz, yang meninggal tepat pada pukul 1:00 pagi ini. "

King Abdullah saat bersama Ratu Elizabeth di tahun 2007
Salah satu keputusan terakhirnya diduga telah merujuk kasus Raif Badawi, karena dituduh menulis dalam bloggernya yang menghina Islam telah dijatuhi hukuman 1.000 cambukan ke Pengadilan Tinggi pekan lalu.
Raja yang menjadi ayah 22 anak dengan sekitar selusin istri telah memerintah Arab Saudi sebagai raja sejak tahun 2005, telah menjalankan negara sebagai wali selama satu dekade setelah pendahulunya Raja Fahd yang meninggal karena serangan stroke.
Raja Salman yang kini berusia 79 tahun merupakan putra mahkota telah menjalankan tugas sebagai menteri pertahanan sejak tahun 2012. Dia merupakan gubernur provinsi Riyadh selama lima dekade sebelumnya.
Dengan segera menunjuk Muqrin sebagai ahli warisnya, yang tunduk pada persetujuan dari keluarga Dewan Kepatuhan, Salman sebelumnya telah ditunjuk sebagai pengganti raja dari negara pengekspor minyak terbesar didunia itu.
Namun, Raja Salman pernah sekali menderita penyakit serangan jantung. Gangguan kesehatan itu menjadi kekhawatiran yang bisa berarti kalau dia bukan calon yang cocok untuk peran itu.
Raja Salman kini merupakan kepala negara penghasil minyak terbesar di dunia baru-baru ini juga telah mengambil alih tanggung jawab kerajaan itu. Dia terkenal moderat dengan pengalaman yang baik serta tuntutan dari ulama konservatif, suku yang kuat dan populasi yang semakin muda.
Dalam pertemuan dengan duta besar AS di bulan Maret 2007 lalu, dijelaskan dalam kabel yang dirilis oleh WikiLeaks, Salman mengatakan reformasi sosial dan budaya yang digagas oleh Raja Abdullah harus bergerak perlahan karena takut reaksi para ulama konservatif.
Ia juga menentang pengenalan demokrasi di kerajaan, mengutip divisi regional dan suku, dan mengatakan kepada duta besar itu bahwa solusi bagi konflik Palestina-Israel diperlukan untuk stabilitas Timur Tengah.
Dia digambarkan sebagai sosok yang mengesankan secara fisik, dan mengendalikan salah satu kelompok media terbesar dunia Arab.
Raja Salman telah menjadi bagian dari kelompok penguasa pangeran selama puluhan tahun dan diperkirakan akan terus menyodorkan kebijakan strategis Saudi yang utama, termasuk mempertahankan aliansi dengan Amerika Serikat dan bekerja menuju stabilitas pasar energi. (Fahrizal Fahmi Daulay)