VIDEO: Orang Tua Menduga Kematian Dicky Sudah direncanakan
Orang tua Dicky Sapriandi (16) warga Jalan KL Yosudarso Lingkungan II, kel. Jati Utomo, Kec. Binjai Utara yang tewas dengan kondisi mengenaskan
Laporan Wartawan Tribun Medan, M Azhari Tanjung
TRIBUN-MEDAN.com, BINJAI – Orang tua Dicky Sapriandi (16) warga Jalan KL Yosudarso Lingkungan II, kel. Jati Utomo, Kec. Binjai Utara yang tewas dengan kondisi mengenaskan setelah dibantai oleh orang tak dikenal di Jalan Pertamina, Kelurahan Cengkeh Turi, Binjai Utara atau yang sering disebut Pantai Obor meminta Polres Binjai segera mengungkap kasus pembunuhan anaknya tersebut. Pasalnya kematian anaknya tersebut diduga sudah direncanakan.
Hal tersebut diucapkan, Cipto Muninggar (47) ayah kandung Diki saat ditemui di rumahnya minggu sore sekira pukul 16.00. "Waktu kejadian saya lagi di Sigli dan terkejut setelah menerima telepon dari Binjai, bahwa anakku dibunuh. Selama satu bulan saya di Banda Aceh dan baru satu minggu ini saya di Sigli," kata buruh bangunan itu.
Dirinya meyakini, bahwasannya pembunuhan anaknya tesebut sudah sangat matang direncanakan. Hal ini mengingat, rentan waktu kematian anaknya tersebut begitu singkat dari kepergiannya dari rumah.
“Mamaknya bilang, pada malam Sabtu (10/4) sekira pukul 19.30 ba'da Isya Dicky masih berada di rumah dan belum pergi. Namun sekira pukul 20.30 mamaknya mendapat kabar si Dicky meninggal, kan begitu dekat waktu dari si Dicky pergi dari rumah sampai kabar meninggalnya anak saya itu,” terang Cipto.
Miniar ibu korban pun mebenarkan hal tersebut, ia begitu heran dari waktu kepergian anaknya tersebut dengan kabar meninggalnya. Dengan kata lain, kepergian Dicky dari rumah ke lokasi pembunuhan tersebut berkisar 30 menit.
“Kan 30 menit waktunya, cuman kami masih belum tahu apakah dia (dicky) menjemput si Dela Aprilia (saksi pembunuhan) atau tidak. Soalnya jarak dari rumah sini ke rumah Dea di Kuala madu itu berkisar 10 menit dan dari rumah Dea ke lokasi terbunuhnya anak ku juga 10 menit. Sedangkan si Dela kata pollisi saat anak ku terbunuh dia sempat melarikan diri. Ini kan betul-betul aneh dan janggal,” ucapnya berusaha menenangkan diri.
Sementara itu Indra (39), kakak sepupu Dicky mengatakan, pada saat kejadian, Suheri, tukang agen kambing saat hendak pergi ke rumah ibunya. Saat di lokasi, dia melihat Della berteriak meminta tolong. Kemudian, Suheri datang ke kolam pancing dan memberitahukan, bahwa di lokasi (Obor) ada pembunuhan. "Pada saat itu, kami ramai di kolam pancing sedang main catur, Suheri datang sama kami dan menyebutkan ada pembunuhan. Kami langsung pergi ke lokasi," sebut Indra.
Dilanjutkannya, awalnya Indra tidak mengenali korban, karena seluruh tubuh dan wajah korban dipenuhi darah. "Saya lihat motor yang dipakai korban, ternyata motor Paman saya, disitulah saya mengenali, bahwa Dicky lah yang menjadi korban pembunuhan itu," sebut Indra.
Kata Indra lagi, saat masih tergeletak di lokasi, dia melihat bahwa Dicky masih bernafas, kemudian warga langsung membawa Dicky ke klinik Sumatera. "Tapi, di dalam perjalanan, korban sudah meninggal," kata Indra.
Mengetahui adiknya terbunuh, dia bersama warga lainnya langsung mengejar pelaku yang melarikan diri ke arah Pusara, Pasar 6 Binjai. Saat sampai ke pasar enam tiga orang pelaku pembunuh dicky yang mengendarai motor Scopy sempat mau menabrak tukang sayur.
“Tiga orang pelaku itu sempat waktu melarikan diri sempat mau nabrak tukang sayur. Soalnya waktu di pasar enam itu, kata seorang pedagang sayur dirinya nyaris tabrakkan sama tiga orang naik scopy dan salah seorangnya bajunya penuh dengan darah,” jelasnya.
“tapi tukang sayur itu tidak begitu tanda muka tiga orang pelaku itu, karena ketiganya langsung mengebut. Cuman kata si tukang sayur itu, diperkiran ketiga orang itu remaja tanggung,” ucapnya lagi.
Masih disebutkan Indra, setelah mengetahui kasus pembunuhan itu, warga langsung membawa Della ke rumah pak Acai. Disana, Della ditanyai oleh warga yang sudah heboh akan kasus tersebut. "Kepada warga disitu, Della menceritakan, awalnya dua pelaku pembunuh Dicky itu menyerang Della, kemudian Dicky melerai dan menanyakan apa persoalan, disitulah dua pelaku tadi langsung menarik baju Dicky dan menikami Dicky," sebut Indra meniru ucapan Della saat itu.
Bahkan kata Indra, anak pak Acai menceritakan padanya, saat anak pak Acai mengantarkan Della ke rumahnya di Kwala Madu, Della sempat meminta kepada anak pak Acai, agar tidak memberitahukan kepada siapa pun letak rumah Della.
"Tadi saya ketemu dengan anak pak Acai. Kepada anak pak Acai itu, Della meminta supaya rumahnya tidak diberitahukan kepada siapa pun di Kwala Madu," ujar Indra.
Sementara itu keterangan Della (saksi mata) saat di Mapolsek Binjai Utara yang mengatakan dirinya sempat melarikan diri kepermukiman warga, berbeda dengan keterangan Suheri warga yang mengetahui kasus pembunuhan tersebut. Saat itu dirinya hendak pergi ke rumah mamaknya, namun ia melihat Della minta tolong.
“Ku lihat ada pembunuhan, aku langsung berlari ke arah kolam pancing yang jaraknya hanya 100 ucapnya meter dan bersama warga kami langsung berlarian kelokasi pembunuhan. Kalau kolampancing itu rame saja setiap harinya dan kami tidak ada mendengar suara jeritan saat itu,”
“Saya yang pertama kali mengetahui posisi si Dela dan jaraknya si Dela saat itu cuman satu meter saja,” terangnya.
Dugaan keluarga tersebut ternyata sama dengan keterangan polisi yang menduga pembunuhan siswa kelas 1 SMK Abdi Negara Binjai ini, adalah unsur dendam pribadi antara pelaku dan korban. "Saat ini, kasusnya masih dalam penyelidikan polisi. Dugaan sementara adalah unsur dendam diantara korban dan pelaku," ujar Kapolsek Binjai Utara, Kompol Nodi Torong, Minggu (12/4) siang.
Diterangkan Nodi lagi, untuk kasus perampokan tidak ditemukan tanda-tanda, karena dompet korban, motor dan handphone nya tidak hilang.Sementara itu, dari keterangan saksi mata, Della Aprilia (16) wanita yang bersama Dicky pada malam kejadian mengaku, dia sama sekali tidak mengenal pelaku, karena kondisi malam tersebut gelap gulita.
"Saksi (Della) tidak mengenali pelaku, tapi dia memberitahukan ciri-ciri pelaku," sebut Nodi lagi.
Disinggung bahwa pembunuhan itu sudah direncanakan oleh pelaku, Nodi membantahnya. "Itu bukan pembunuhan, saat ini kami menilai ini adalah penganiayaan yang mengakibatkan hilangnya nyawa orang lain," kilah Nodi.
Dimana sambungnya, kronologis pembunuhan Dicky kata Nodi berdasarkan keterangan saksi, bahwa pelaku yang menggunakan motor jenis Honda Scoopy berboncengan tiga oran. "Saat korban dan saksi sedang duduk di atas pipa gas milik Pertamina, 3 pelaku langsung berhenti di depan mereka. Disitu, pelaku turun dan langsung menarik Dicky ke badan jalan dan menikami Dicky," sebut Nodi dan saat itni kasus masih dalam pengembangan.
Sebelumnya usai pemeriksaan di Polsek Binjai Utara, Kepada wartawan Della mengaku tidak jelas melihat wajah pelaku yang membunuh Dicky, karena pada saat kejadian, obor (api pipa gas pertamina) yang biasanya nyala, pada saat itu sedang redup. "Aku tidak kenal, aku tidak jelas melihat wajahnya, karena obor saat itu mati. Maka, suasana pembunuhan Dicky pun gelap," kata siswi kelas 3 SMP Abdi Karya itu.
Saat disinggung lebih jauh, apakah ada laki-laki yang dekat dengan Della dan merasa kalah saing dengan Dicky untuk meluluhkan hatinya, Della mengaku tidak ada. "Nggak ada pak," ujarnya.
Sebelumnya pada jumat malam (10/4) Dicky Sapriandi (16) warga jalan KL Yosudarso Lingkungan II, kel. Jati Utomo, Kec. Binjai Utara. Pasalnya dirinya harus merengang nyawa dengan cara yang sangat sadis, setelah di bantai tiga pria di Jalan Teraktor Kel, Cengketuri Kec. Binjai Utara.
Informasi yang berhasil dikumpulkan, saat itu korban bersama Aprilia (16) warga Kuala Madu, sedang asik berpacaran di areal persawaan di jalan traktor. Keduanya mengendarai sepeda motor dan parkir di pinggir jalan. Dilokasi tersebut tergolong sepi, pasalnya lokasi kejadian berjarak 200 meter dari pemukiman rumah warga.
Kemudian sedang asik bermadu kasih, sepasang remaja ini pun didatangi 3 orang pemuda dengan mengendarai sepeda motor berbonceng tiga. Lalu ketiga pemuda ini menghampiri korban bersama pacarnya.
Seketika itu ketiga pemuda yang identitasnya belum diketahui ini menyerang korban dengan senjata tajam. Para pelaku langsung membantai korban hingga tewas.
Sementara itu, melihat cowoknya di aniaya ketiga pemuda itu, lantas Aprilia lari sambil berteriak minta tolong, menuju ke pemukiman warga. Selanjutnya warga sekitar TKP langsung berkeluaran dan akhirnya menemukan korban bersimba darah tidak bernyawa lagi dengan kondisi 3 luka tusukan dibagian perut, leher digorok dan lidah dipotong hingga putus.
Sedangkan motor korban masih berada di TKP, diduga korban sempat membuang kunci motornya, saat ketiga pemuda tersebut menghampirinya. Dan akhirnya warga membawa korban ke klinik Sumatra, dan melaporkan kasus ini ke Polsek Binjai Utara.(ari/tribun-medan.com)