Hobi Burung Sejak SMP, Akhirnya Jadi Juri Burung

Syaf (54) adalah salah seorang juri lomba burung yang ada di Medan. Ia bercerita awalnya sehingga bisa menjadi juri lomba

Editor: Muhammad Tazli

Laporan wartawan tribun-medan / Nikson Sihombing

TRIBUN-MEDAN. com, MEDAN - Syaf (54) adalah salah seorang juri lomba burung yang ada di Medan. Ia bercerita awalnya sehingga bisa menjadi juri lomba karena sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama tahun 1972 ia sudah mencintai dan memiliki hobi untuk memilihara burung. Ia mengatakan, dulu kelurganya pernah membawakannya burung Murai Daun, sehingga sejak itu ia semakin suka burung dan sungguh-sungguh merawat burung tersebut. Minggu (17/5/2015)

Syaf, bercerita dalam memelihara burung tidaklah susah tapi sangat membutuhkan ketekunan dalam merawat burung. Ia menuturkan dalam memelihara burung harus tekun dan sabar. Jadi setiap pagi hari jam 07.00 pagi burung tersebut harus dimandikan, diberi makan, dan dijemur agar tetap sehat, begitu juga pada jam 04.00 sore.

"Manfaat dari merawat burung ini bisa menghilangkan kecanduan terhadap hal-hal negatif karena setiap pagi dan sore hari harus memberikan waktunyabuntuk merawat burung tersebut. Jadi dengan merawat burung tersebut akan menghilangkan dan membuat lupa secara perlahan terhadap hal-hal negatif, baik itu narkoba, ketergantungan terhadap barang mewah dan belanja ke mall. Jadi daripada uangnya dihabiskan ke mall lebih baik untuk memelihara burung, " katanya.

Syaf menjelaskan setelah duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA) ia semakin menyukai dannmenjadikan burung adalah hobinya, namun pada saat itu belum ada lomba burung seperti sekarang. Yang ada hanyalah lomba terbang cepat burung merpati. Hingga akhirnya sejak lebih dari 15 tahun ia berkecimpung dalam bidang burung.

"Aku dulu mengikuti lomba di Medan, Pekanbaru, Banda Aceh, Semarang, Bandung, Jakarta dan berbagai kota lainnya. Hingga akhirnya bisa jadi juri seperti sekarang ini karena dulu saya adalah pemain burung. Di rumah ada banyak piala sih bahkan gak cukup satu lemari, " katanya.

Ia bercerita di rumahnya ia memiliki delapan ekor burung yaitu burung, Murai Kacer, Love Bird, Kenari, Kapas Tembak yang berkicau setiap pagi untuk membangunkannya. Ia menambahkan burung tertua yang ia miliki ialah burung Murai Batu yang berusia 15 tahun. Karena tuanya umur burung tersebut diberi nama Murai Batu Oppung.

"Saya pelihara sejak umur empat tahun. Sebelumnya dua tahun sama pemilik sebelumnya dr. Syahril Aritonang, dan sebelumnya lagi burung itu berada di hutan. Buring itu dapat dari batang toru. Jadi sama saya burung itu sejak umur empat hingga lima belas tahun. Jadi sudah sebelas tahun sama saya. Saya sempat sedih karena burung tersebut selalu berkicau ketika saya pulang ke rumah sebagai ucapan salam, " katanya.

Menurutnya burung ada tiga kategori yaitu, burung yang masih bakal dan jadi memiliki kisaran harga dua juta rupiah.
Kalau sudah bisa berbunyi tapi belum juara memilikinharga Rp. 3 juta rupiah.

Sedangkan harga burung yang sudah memiliki suara yang bagus dan sudah sering juara memiliki harga sepuluh hingga ratusan juta rupiah. Memiliki harga hingga ratusan juta rupiah karena sudah memenanhkan lomba kicauan burung untuk skala nasional.

Nama : Syaf Medan
Pekerjaan : Event Organizer (Juri Kontes Burung)
Alamat : Jalan Karya Kasih, lapangan Johor Kicau, Medan
Lahir : Medan, 24 Juli 1961
SD : Swasta, Mandala Medan
SMP : Negeri Medan
SMA : Negeri 2 Medan
Kuliah : S1 Ekonomi, UMA

(cr6,tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved