Berawal dari Salah Jurusan, Patrick Kini Jadi Bos Produsen Oli
Sedikit perusahaan asli Indonesia yang berhasil bertahan melawan kerasnya kompetisi persaingan pasar. Apalagi
TRIBUN-MEDAN.com, JAKARTA - Sedikit perusahaan asli Indonesia yang berhasil bertahan melawan kerasnya kompetisi persaingan pasar. Apalagi hegemoni pasar bebas makin memicu serbuan berbagai produk asing untuk terus masuk ke Tanah Air, seraya memaksa putra-putri terbaik Indonesia wajib mampu menunjukkan kemampuan terbaiknya.
Adalah Patrick Adhiatmadja, pria berdarah Jawa Tengah, kelahiran Semarang, 1964, yang berhasil menjawab tantangan ini dalam memimpin PT Federal Karyatama (Federal Oil), perusahaan pelumas otomotif lokal. Menjabat Presiden Direktur, setiap langkah, strategi, keputusan, dan penyelesaian masalah yang diambil Patrick ada;ah hal vital demi kemajuan perusahaan.
Lantas bagaimana alumnus Universitas Katolik Parahyangan jurusan Arsitektur ini mencapai jabatan puncak tertinggi di perusahaannya?
KompasOtomotif menemui Patrick di kantor pusat Federal Oil, Kawasan Industri, Pulogadung, Jakarta Timur, Rabu (20/5/2015). Ketika sampai langsung diajak ke lantai tiga, bangunan utama di kompleks pabrik pengemasan pelumas itu. Sambil menyeruput kopi hitam, pria yang ramah senyum ini menyambut kedatangan kami.
"Saya memang suka kopi, tapi pahit. Dulunya, minum kopi harus pakai gula, tapi setelah kelamaan jadi suka yang pahit. Tapi, memang seperti ini seharusnya minum kopi, pahit. Kita jadi bisa mengetahui taste jenis-kopi yang ada," celoteh Patrick, sambil menyuguhkan kartu namanya.
Jurusan IPA
Patrick tumbuh dan besar di Jakarta, meski dilahirkan di Semarang. Ibunya berasal dari Semarang, sedangkan sang ayah merupakan putra Demak, Jawa Tengah. Memulai cerita perjalanan karirnya, Patrick remaja mengaku belum punya tujuan hidup pasti menggapai masa depan.
"Saya dulu SMA di Pangudi Luhur, lulus 1983 mengambil jurusan IPA (Ilmu Pengetahuan Alam), tapi tidak suka dengan pelajaran eksakta. Waktu lulus dan beranjak kuliah, saya masih belum tahu mau jadi apa. Tapi, karena lulusan IPA, pemikiran masih agak chauvinist, dari semula teknik tapi berfikir jurusan yang agak ada seninya, juga mahasiswinya cantik-cantik, akhirnya pilih Arsitektur. Waktu itu dasar pemikirannya masih sangat dangkal," kenang Patrick.
Langkah pendidikannya kemudian berlanjut di bangku kuliah, menjadi mahasiswa di Universitas Katolik Parahyangan jurusan Teknik Arsitekur. Setelah menjalani kuliah di Bandung, Jawa Barat selama enam semester, langkah Patrick terasa berat pada jurusannya itu. Ia merasa tidak bisa menikmati kuliah arsitektur yang dijalaninya.
"Saya merasa ini bukan dunia saya, talenta saya bukan di sini. Sampai saya berdiskusi dengan ayah yang juga berprofesi dosen, masih mengajar di Universitas Tarumanegara sampai sekarang. Ayah bilang, toh keputusan itu Anda yang ambil, Anda yang menjalankan, jadi selesaikan!" cerita Patrick.
Dengan langkah yang berat dan konsekuensi yang harus dipikul, Patrick membuktikan tanggung jawabnya. Motivasi utamanya, adalah dengan lulus secepat mungkin, melalui berbagai macam rintangan dan hambatan. Akhirnya, ia tetap melanjutkan pendidikannya di jurusan yang sama sampai lulus, pada 1988.
Minat pemasaran
Patrick mengatakan, minat meneruskan karir di dunia arsitek semakin surut setelah dirinya mulai menyentuh ilmu ekonomi, khususnya penjualan dan pemasaran. Pengaruh ini diperolehnya dari sesama teman kos yang di dominasi oleh mahasiwa jurusan ekonomi.
"Kami dulu sesama alumni PL (Pangudi Luhur) tinggal di kos yang sama, dari seluruh penghuni kos, ternyata 80 persennya anak ekonomi. Ketika malam, saya merasa nyaman dan asyik mendengar mereka saling berdiskusi soal makro ekonomi dan sebagainya. Saya kemudian juga pinjem salah satu buku, sampai akhirnya benar-benar tertarik di dunia ini," beber Patrick.
Lewat latar belakang itu, Patrick lantas semakin mantap menentukan arah karir setelah berhasil menyelesaikan kuliah. Meski salah jurusan, pria penggemar olahraga menyelam ini, mulai menentukan langkah selanjutnya.
Ketika mau memutuskan masuk dunia kerja, perusahaan yang dibidiknya adalah yang memiliki program sistem Manajement Trainee yang apik. Lewat sistem ini, Patrick berharap bisa memulai lagi pengetahuannya dari nol. Pasalnya, program ini merupakan sistem pembentukan karyawan berupa pelatihan dan terjun langsung ke lapangan di semua sektor bisnis penunjang. Biasanya, perusahaan yang menerapkan metode ini, mewajibkan calon karyawannya untuk memenuhi nilai tertentu dari level jabatan terendah pada perusahaan.
Akhinya, Patrick memutuskan untuk melamar di PT Metrodata Indonesia - sekarang PT Metrodata Electronics Tbk - dan diterima. Bekerja di bidang Teknologi Informasi menjadi tantangan baru bagi Patrick.
"Saya mulai menemukan yang namanya sales dan marketing itu menarik. Saya pikir, tidak ada yang tidak mungkin, karena ilmu ini lebih kepada akal sehat, belajar bagaimana berhubungan dengan orang, meyakinkan orang lain, dan bagaimana bisa mengembangkan diri," ujar Patrick.
Menggeluti dunia penjualan dan pemasaran semakin mengasyikkan bagi Patrick, sampai akhirnya ia merasakan hasil yang diperoleh kerja kerasnya berkarir di Metrodata mulai terlihat. "Saya bersyukur, setelah 5 tahun setengah kerja baru terasa hasilnya. Ternyata mulai ada head hunter yang menanyakan diri saya. Waktu itu saya manajer jabatannya, bahkan sempat tercatat sebagai manajer termuda di perusahaan. Dari tawaran-tawaran ini, baru saya sadar dunia profesional ini ternyata luas," kenang Patrick.
Ikuti kelanjutan karir Presiden Direktur Federal Oil Patrick Adhiatmadja di artikel selanjutnya. (Bersambung)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/presiden-direktur-pt-federal-karyatama-patrick-adhiatmadja-tribunmedancom_20150522_115920.jpg)