Kisah Inspiratif
Dua Bocah Berkebutuhan Khusus Ini Mudik karena Rindu Ibu
Saat sedang duduk di bangku tunggu di peron, Ahmad melihat satu mobil truk pengangkut barang-barang kebutuhan pokok. Mereka menyelinap ke dalamnya.
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
FIZI dan Ahmad, dua bocah yang memiliki keterbatasan fisik, hanya bisa mendengarkan rekan- rekannya di sekolah saling bercerita perihal kegembiraan menyambut Hari Raya Idul Fitri. Terutama terkait mudik ke kampung halaman.
Fizi, misalnya. Tidak seperti murid-murid yang lain, ia tidak merencanakan pulang kampung karena tidak memiliki siapa-siapa lagi. Satu-satunya kegembiraan baginya adalah uang sangu lebaran yang diberikan oleh pihak yayasan.
Namun kegembiraan Fizi tidak dirasakan Ahmad. Malam hari setelah tarawih, tatkala seluruh penghuni asrama sudah lelap, Ahmad yang masih terus terjaga menangis sesengukan sembari memanggil-manggil ibunya.
"Emak, Ahmad rindu emak..."
Ahmad dan Fizi bersahabat karena dua hal. Pertama, usia yang sebaya. Kedua, mereka melengkapi satu sama lain. Ahmad tidak bisa bicara dengan baik, Fizi tak dapat melihat. Fizi menjadi juru bicara bagi Ahmad, sebaliknya Ahmad adalah penunjuk jalan baginya.
Dengan kombinasi seperti inilah mereka nekat meninggalkan asrama menuju kampung Ahmad di Segamat, satu distrik di Johor, sekitar 172 km dari Johor Bahru, ibukota negara bagian Johor.
Mula-mula keduanya hendak menumpang bus. Namun karena tiket habis, mereka mencoba peruntungan dengan kereta api, tapi tetap gagal mendapatkan tiket. Saat sedang duduk di bangku tunggu di peron, Ahmad melihat satu mobil truk pengangkut barang-barang kebutuhan pokok. Mereka menyelinap ke dalamnya.
Aksi ini ketahuan oleh sopir setelah pick up setelah mereka tanpa sengaja menjatuhkan kardus- kardus. Sopir bus sempat marah dan mengusir mereka, tapi lelaki itu terenyuh setelah mendengar Fizi dan Ahmad memohon.
"Maafkan kami, Pakcik. Kami anak yatim. Kami nak tumpang ke kampung."
"Kenapa tidak bagi tahu dari awal-awal tadi. Kau orang mau pergi mana?"
Sopir truk itu kemudian menyuruh Fizi dan Ahmad untuk duduk di depan. Selepas subuh, truk berhenti di depan satu masjid. Dengan heran sopir truk menggumam. "Mana ada rumah dekat sini?"
Pertanyaan ini terjawab kemudian. Fizi dan Ahmad memang tidak akan mengunjungi rumah siapapun. Mereka melintas negara bagian untuk berziarah ke makam ibu Ahmad. Ibu yang melahirkannya dan dipanggil Allah saat Ahmad masih sangat kecil. Ahmad hanya mengingatnya lewat selembar potret yang semakin lama semakin kusam karena kelewat sering dipegang.(ags)