Permakaman Keluarga Nan Megah di Samosir, Kebanggaan Masyarakat Batak
Masyarakat batak menghormati leluhurnya dan menunjukkannya dengan membangun monumen untuk sosok yang menjadi cikal bakal dari keluarga besar.
Laporan Wartawan Tribun Medan/Silfa Humairah
TRIBUN-MEDAN.com, SAMOSIR-Suasana berbeda saat mengunjungi Danau Toba dan Pulau Samosir, Sumatera Utara, adalah pemandangan perkampungannya yang masih lekat dengan budaya. Ini dapat dilihat pada bangunan pekuburan yang megah seperti rumah mewah atau tugu.
Masyarakat batak menghormati leluhurnya dan menunjukkannya dengan membangun monumen atau tugu untuk sosok yang menjadi cikal bakal dari keluarga besar atau marga.
Permakaman megah menjadi kebanggaan setiap marga pada suku batak, bahkan wisatawan akan melihat tugu atau kuburan megah berdiri di tengah persawahan, bahkan di tepi jalan hingga di perbukitan.

Ada juga kuburan tua dari batu, yang paling terkenal di Samosir yakni kuburan Raja Sidabutar di Tomok. Kemudian kuburan dari semen dengan ornamen dan relief Batak yang juga disebut tambak modern.
Pemandangan itu akan wisatawan lihat sepanjang perjalanan di Kabupaten Simalungun hingga Sibolga.
Ilo Simangunsong menuturkan bagi orang batak, membangun kuburan megah bukan sekadar menghormati, tapi juga hal yang sakral.
"Begitu sakralnya, keluarga akan membela mati-matian bila kuburan nenek moyang mereka diganggu atau dirusak," katanya.
Menurutnya, leluhur mereka sudah melakukan ritual membuat pekuburan dari semen sejak tahun 50-an.
Awalnya, kata Simangunsong, kuburan orang batak dibuatkan batu besar atau di bawah pohon beringin. Namun kini sudah berkembang dengan bangunan dari semen, dan ada juga yang diukir dengan relief dan ornamen khas batak serta dilengkapi dengan patung berbagai bentuk dengan makna yang diyakini orang batak dapat 'jaga badan keturunan' yakni tidak kelaparan, jauh dari bala dan lain-lain.

Menurutnya, biasanya pihak keluarga juga menjamu tukang yang membangun kuburan leluhur mereka dengan sebaik-baiknya. Seperti diberi makanan dan penginapan yang memadai.
"Bahkan, sebelum memulai pekerjaan, para tukang didoakan pendeta agar jangan diganggu roh halus saat membangun kuburan atau tugu leluhur atau keluarga,"katanya.
Awina Sari, wisatawan, menuturkan pemandangan kuburan megah sangat berbanding terbalik dengan keadaan rumah penduduk di sekitar Kabupaten Samosir. Di sana rumah penduduk sangat sederhana dan bahkan masih banyak yang tinggal atau menghuni rumah adat peninggalan keluarga.
"Penduduk masih menjaga adat istiadat dan peninggalan leluhur, hal yang jarang sekali masih dilakukan penduduk di perkotaan. Pemandangan ini menjadi hal yang paling menarik saat berada di Samosir," katanya. (sil/tribun-medan.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/kuburan_keluarga_samosir_20150721_115403.jpg)