Inilah Misteri Kumpulan Kata yang Hilang dalam Bahasa Karo

Bahasa adalah satu bagian dari budaya yang memiliki hubungan yang sangat erat dan kini sudah muali memudar.

TRIBUN MEDAN / NIKSON SIHOMBING
Bedah buku Bunga Dawa karangan Tarigana di Medan Club, Jalan R.A Kartini, Medan. 

Laporan Wartawan Tribun Medan / Nikson Sihombing

TRIBUN-MEDAN.com,MEDAN - Demi tetap mempertahankan budaya Komunitas Peduli Bahasa Ibu (KPBI) bekerjasama dengan program studi masgister (S2) Penciptaaan dan pengkajian Seni, Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Universitas Sumatera Utara (USU) mengadakan bedah dan apresiasi seni di Medan Club, Jalan Raden Ajeng Kartini, Medan.

Buku yang dibahas pada saat itu ialah Bunaga Dawa, Pincala II yang berisikan tentang Antalogi Puisi Karo Indonesia karangan Tariganu, Kamis (23/7/2015)

Koordinator KPBI, Oki Teger M Bagun mengatakan Bunga Dawa diharapakan menjadi sumbangan kebudayaan Karo untuk Sastra Indonesia. Menjadi sumbangan karena berdasarkan penelitian UNESCO, setiap 10 menit, satu bahasa dari seluruh dunia punah.

Oleh karena itu dalam buku bunga dawa yang dibahas ialah kumpulan kata yang sudah tidak mengerti dan tidak dipakai zaman sekarang. Beberapa kata yang hilang masih menjadi misteri, kenapa kata itu tidak lagi digunakan oleh masyarkat Karo.

Menurutnya contoh bahasa Karo yang sudah sudah tidak dimengerti oleh generasi pada zaman sekarang adalah Gana. Pada zaman dahulu gana ialah kata yang digunakan untuk boneka. Namun saat ini orang Karo untuk menggunakan kata gana lagi.

Ia mengatakan, selain itu kata dalam bahasa Karo yang sudah punah dalam buku Bunga Dawa halaman 159 ialah Ergugu yang artinya ikut nampati erdahin dan dalam bahasa indonesia artinya ikut membantu bekerja. Zaman sekarang untuk bilang membantu justru mengatakan kata Nampati saja.

"Dengan kegiatan peduli bahasa ibu menjadikan kearifan lokal budaya daerah menjadi pegangan. Dengan begitu budaya itu menjadi sebuah komunikasi umum antar masyarakat dan lebih mengarah ke budaya," katanya.

Ia mengatakan buku antologi pusi tersebut menjadi kamus bahasa Karo karena memiliki perbendaharan kata yang sudah tidak umum lagi digunakan zaman sekarang. Namun buku tersebut dirangkum dalam sebuah buku antologi. Menurutnya bahsa ialah sebuah alat komunikasi untuk memindahkan pengetahuan antar generasi.

Saat diwawancarai Tribun-Medan.com, sang penulis buku mengatakan, buku antologi puisinya tersebut menggunakan bahasa karo asli yang kini sudah banyak orang tidak mengerti. Ia menambahkan, untuk membuat buku tersebut butuh waktu seumur hidup untuk belajar.

"Buku karangan saya merupakan cerminan latar belakang saya waktu kecil. Di buku Pincala I saya sudah membahas tentang proses cipta dalam sekapur sirih. Agak susah menjelaskan apa yang telah saya lakukan, biarlah orang yang menilai karya saya," ujarnya.

(cr6/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved