Ngopi Sore

Bagaimana Jika di Indonesia Ada Partai Seks

Di Indonesia, orang lebih mudah menerima partai berideologi nasionalis, atau beraliran agama, atau partai berideologi kabur.

Bagaimana Jika di Indonesia Ada Partai Seks
INTERNET

SAAT hendak mencari kabar-kabar yang lebih rinci perihal pertandingan Real Madrid versus Manchester City yang digelar di Kota Melbourne, Australia, tanpa sengaja saya kesasar ke satu kanal laman milik ABC dan membaca berita yang sama sekali tidak berhubungan dengan sepakbola.

Berita tersebut berjudul: "Australian Sex Party re-Enters Politics Two Months after Deregistration". Jika diterjemahkan langsung ke dalam Bahasa Indonesia, judul tersebut kurang lebih akan berbunyi: "Partai Seks Australia Kembali ke Panggung Politik Setelah Dua Bulan Dinyatakan Tidak Memenuhi Syarat".

Syarat apa? Tiada lain dan tiada bukan adalah syarat untuk mengikuti proses pemilihan umum Australia yang akan digelar dalam waktu dekat. Australian Electoral Commission (AEC), KPU-nya Australia, menyebut Partai Seks gagal menunjukkan secara sah bahwa mereka memiliki 500 anggota untuk lolos pendaftaran.

Terlepas dari perkembangan verifikasi yang kemudian diubah setelah 2x24 jam, saya didera keheranan dan rasa penasaran yang tidak bisa dikatakan sederhana. Sungguh, saya baru tahu kalau di Australia ada partai bernama Sex Party atau Partai Seks, yang ternyata sudah ada sejak tahun 2009.

Pendirinya bernama Fiona Fatten, seorang perempuan yang andaikata sebelum 2009 terpantau radar Raam Punjabi atau Chand Parwez, niscaya akan diajak membintangi sinetron kejar tayang untuk melakoni peran sebagai ibu mertua atau tante yang culas dan selalu berpikiran kotor.

Iya, Fiona Fatten memang berparas lumayan. Namun garis-garis tegas di sekitar tulang pipi, dagu, dan seputaran alis, membuat kejelitaannya tertutupi, berganti jarak yang membuat siapa pun akan berhati-hati untuk menjatuhkan kekaguman.

Tahun ini ia berusia 51. Usia matang untuk seorang perempuan yang telah melakukan hampir seluruh pekerjaan yang barangkali tak pernah Anda bayangkan, termasuk menjadi pramusaji di bar striptease, pemijat spa, dan pekerja seks komersial.

Namun hal ini ia lakukan semata-mata demi mendapatkan fakta-fakta valid menyangkut industri seks di Australia. Sejak tahun 1992, ia berkecimpung di dalam satu lembaga hukum yang berkonsentrasi membela pekerja industri seks.

Saya membuka laman Austalian Sex Party (www.sexparty.org.au) dan makin dilanda keterkejutan. Tidak ada ajakan untuk melakukan seks bebas. Bahkan sama sekali tidak ada gambar-gambar seronok. Terdapat lima kanal utama (Polities, News, Video, Get Involved, dan Social Media), dan masing-masing kanal berisi ide, pendapat, saran, atau imbauan cemerlang tentang penyelesaian persoalan-persoalan terkait paut seksualitas (perlakuan dan bisnis) yang terjadi di Australia.

Contohnya tulisan berjudul "Historic Move on X Rated Films in Victorian Parliament", yang pada intinya mendesak pemerintah untuk memberlakukan peraturan resmi dan berketetapan hukum mengenai batas usia dalam menonton film rate X (erotis). Partai Seks mengusulkan batasan 18+.

Tidak berhenti sampai di sana, mereka juga mengusulkan semacam tutorial, penjelasan atau pendidikan seks yang diberikan sedini mungkin kepada generasi muda (artikel berjudul: "Melbourne Youth Push for More Comprehensive Sex Education in Schools").

Untuk sejenak, terus terang, saya sempat merasa terpesona pada partai ini dan berandai-andai partai serupa berdiri di Indonesia. Namun tidak sampai hitungan menit, saya kira pengandai-andaian ini konyol belaka sebab sampai dunia kiamat pun Partai Seks tidak akan pernah bisa berdiri di Indonesia.

Australia yang sangat terbuka saja memandang partai ini dengan kacamata berbeda. Di sini, orang lebih mudah menerima partai berideologi nasionalis, atau beraliran agama, atau partai berideologi kabur, separuh nasionalis separuh agamis, atau bahkan tidak berideologi sama sekali.

Seks, sebagaimana komunis, terjaga sebagai tabu, sehingga di televisi, para pengelola harus bersedia repot-repot mengaburkan potongan paha atau belahan dada perempuan. Sebab konon, selain bisa merobohkan iman, potongan paha dan belahan dada itu bisa memicu persetubuhan massal.

Jika untuk sekadar perkara remeh-temeh begini saja mesti ditanggulangi dengan cara yang sungguh sangat merepotkan dan kampungan, maka tentu sudah bisa dibayangkan bagaimana peluang untuk memampangkan dan membicarakan seks secara terbuka.

Iya, begitulah. Di negeri terkasih ini, seks, entah sampai kapan, akan tetap menjadi realitas anomali. Tabu yang diam-diam dirayakan, dengan beda perlakuan. Persis dipapar Rotra, yang mencelotehkan Ora Cucul Ora Ngebul, puisi Sindhunata: "Nek wong gede konangan selingkuh malah kondang/Nek wong cilik sing konangan diarak telanjang."

Twitter: @aguskhaidir

Penulis: T. Agus Khaidir
Editor: T. Agus Khaidir
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved