Ngopi Sore

Tak Apa Koruptor yang Penting Muslim? LOL!

Korupsi perbuatan mengambil apa yang menjadi hak orang lain, Pak Profesor. Korupsi setara dengan mencuri, dan dalam Islam, mencuri sangat dinistakan.

Tak Apa Koruptor yang Penting Muslim? LOL!
INTERNET
ILUSTRASI 

SAYA membaca satu berita di satu portal berita nasional dan mendadak dibekap sedih. Dalam berita itu, sang narasumber, yakni Prof Jaih Mubarok, menyampaikan dua pendapat terkait penyelenggaraan pesta demokrasi. Lebih khusus lagi, kandidat pemimpin.

Pendapat pertama anggota Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (MUI) ini berbunyi: "pilihlah pemimpin muslim yang mualamahnya dan akhlaknya bagus, yang tidak korupsi."

Sebagai muslim, dengan hati lapang saya menerima pendapat ini. Bagi saya, ini adalah kandidat terbaik, dan bila ada, saya tanpa ragu menuntaskan riwayat kegolputan saya. Pertanyaannya, apakah ada yang seperti ini?

Nah, pendapat kedua, berhubungan dengan pertanyaan saya barusan. Dan menurut Prof Jaih Mubarok, apabila tidak ada yang bagus mualamahnya dan akhlaknya, maka daripada calon non-muslim yang menang, tak apa memilih calon pemimpin yang korup.

Dan profesor kita menambahkan pendapatnya dengan kalimat: "masyarakat atau pemerintah harus membuat regulasi, agar dia tak korupsi lagi. Korupsinya harus dicegah ketika memimpin, dibuat kapok ".

Kalimat profesior kita, saya kira, tidak lepas dari keriuhan di media massa (baik media umum maupun media sosial, dan juga blog), yang menyoroti soal kenekatan (dan sangat boleh jadi ketidaktahumaluan) sejumlah politisi korup yang maju sebagai kandidat dalam pemilihan umum kepalda daerah.

Sepengetahuan saya ada tiga kandidat. Mereka adalah koruptor, bukan terduga atau tersangka, melainkan mantan-mantan narapidana. Artinya, mereka terbukti bersalah melakukan tindak pidana korupsi dan atas kesalahan itu telah dikurung dalam bui selama beberapa tahun.

Pertanyaannya, apakah orang-orang seperti ini pantas mengedepankan diri sebagai kandidat pemimpin? Mereka sudah pernah mendapatkan amanah sebagai pemimpin dan telah mengkhianati amanah tersebut. Masih pantaskah mereka untuk dipilih?

Mengacu pada pemikiran Pak Profesor, tentulah pantas. Sebab sekiranya lawan-lawan dari kandidat yang memiliki rekam jejak sebagai koruptor tersebut adalah orang-orang yang tidak beragama islam, maka mereka lebih layak untuk dipilih ketimbang lawannya, meski dari sisi apapun, sang lawan lebih baik daripadanya.

Kenapa demikian? Profesor kita punya alasan, yang lagi-lagi, membuat saya bersedih. "Agama adalah persoalan akidah dan korupsi adalah persoalan akhlak. Mana yang yang bisa diperbaiki atau diubah? Akhlak yang bisa diubah dan diperbaiki."

Halaman
12
Penulis: T. Agus Khaidir
Editor: T. Agus Khaidir
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved