Ngopi Sore

Jokowi Rasa Erdogan, Atau Jokowi Rasa Pak Harto?

Andaikata Guinness Book of Record memilih presiden yang paling banyak mendapatkan hinaan dan makian dari rakyatnya sendiri, Jokowi pasti menang.

Jokowi Rasa Erdogan, Atau Jokowi Rasa Pak Harto?
INTERNET

RECEP Tayip Erdogan, Perdana Menteri Turki, beberapa waktu lalu datang ke Indonesia dan mendadak banyak rakyat negeri terkasih ini yang keblinger. Tersungkur-sungkur jatuh cinta meski tanpa pandangan pertama (lantaran cuma baca di koran atau nonton sekilas pintas di televisi).

Lalu darimana datangnya rasa cinta itu? Entahlah. Mungkin googling. Atau barangkali lewat lini masa Facebook dan Twitter, di mana memang tersuguh 1001 kedahsyatan Erdogan sebagai pemimpin yang dengan gagah berani menentang Amerika dan Yahudi. Erdogan adalah Hugo Chavez versi muslim dan tak berpaham sosialis.

Bentuk cinta itu kemudian bermacam-macam. Ada yang menuliskan puja-puji. Ada yang memajang foto-fotonya. Ada yang berandai-andai meminjamnya setahun saja, menjadikannya presiden menggantikan Joko Widodo.
Andai Erdogan yang bertubuh tinggi tegap dan berwajah tampan dan intonasinya ketika berbicara amat sangat berwibawa itu menjadi presiden Indonesia, maka tentu saja negeri ini akan kembali gemah ripah loh jinawi toto tentrem karta raharja seperti di zaman Majapahit dan Sriwijaya.

Jokowi memalukan dan sungguh tak pantas jadi presiden dan karenanya memang pantas diolok-olok. Dia kurus, jelek, plengak-plenguk, hobi cengengesan, bahasa Inggrisnya belepotan pula. Andaikata Guinness Book of Record memilih presiden yang paling banyak mendapatkan hinaan dan makian dari rakyatnya sendiri, Jokowi pasti menang.

Saya tidak tahu apakah ada hubungannya secara langsung dengan pembanding-bandingan ini atau tidak. Yang jelas, dalam kurun dua pekan terakhir, mencuat keriuhan perihal wacana penerapan kembali pasal penghinaan presiden.

Sebelum melangkah lebih jauh, mari kita tengok dulu mahluk seperti apakah pasal penghinaan terhadap presiden ini. Dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana Bab II tentang Kejahatan-Kejahatan Terhadap Martabat Presiden Dan Wakil Presiden , tadinya terdapat 11 pasal. Namun kemudian, berkaitan dengan Undang-undang No. 1 Tahun 1946, pasal VIII, butir 21, 25, dan 28, dan Putusan MK No. 013-022/PUU-IV/2006, dari kesebelas pasal ini, hanya tersisa satu pasal. Yakni Pasal 131: "Tiap-tiap perbuatan penyerangan terhadap diri Presiden atau Wakil Presiden, yang tidak termasuk dalam ketentuan pidana lain yang lebih berat, diancam dengan pidana penjara paling lama delapan tahun."

Sepuluh lainnya, termasuk Pasal 134: "Penghinaan dengan sengaja terhadap Presiden atau Wakil Presiden, diancam dengan pidana penjara paling lama enam tahun, atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah", dinyatakan bertentangan dengan konstitusi dan tidak berkekuatan hukum mengikat.

Jika Anda sekalian masih ingat. Ribut-ribut soal pasal penghinaan ini terjadi pada Januari 2006. Tatkala pengacara Eggi Sudjana, dihadapkan ke depan meja hijau lantaran dituding menghina dan mencemarkan nama baik Presiden Indonesia ketika itu, Susilo Bambang Yudhoyono.

Eggi menyebut seorang pengusaha besar nasional telah menghadiahkan mobil mewah jenis Jaguar kepada sejumlah menteri, pejabat istana, dan presiden. Jaguar itu, kata Eggi, dipakai anak presiden. Anaknya yang mana, tidak dijelaskan.

Pengusaha yang dituding Eggi membantah keras dirinya telah menghadiahkan Jaguar. Eggi pun diseret ke pengadilan dan kemudian dinyatakan bersalah dan dijatuhi hukuman kurungan 3 bulan dengan masa percobaan 6 bulan.

Halaman
12
Penulis: T. Agus Khaidir
Editor: T. Agus Khaidir
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved