Gunung Sibayak, Penuh Bebatuan Namun Diminati Pendaki Pemula
Sibayak menawarkan pemandangan matahari terbit dari puncak, awan putih yang menyelimuti kawah, hingga batuawas yang menyemburkan asap belerang.
Laporan Wartawan Tribun Medan/Silfa Humairah
TRIBUN-MEDAN.com, BERASTAGI-Bebatuan kecil hingga besar memenuhi tanah Pegunungan Sibayak, Berastagi, Sumatera Utara. Kondisi ini menjadi daya tarik pendaki untuk menaklukkannya.
Tapi pendaki pemula yang tidak pernah naik gunung jangan langsung mundur ketika mengetahui ini.
Bisa dikatakan, Gunung Sibayak menjadi primadona bukan karena proses pendakian yang memacu adrenalin, alias sulit. Gunung ini diminati karena menawarkan pemandangan matahari terbit dari puncak, awan putih yang menyelimuti kawah, hingga batuawas yang menyemburkan asap belerang.
Arwin, pendaki profesional, meskipun Gunung Sibayak memiliki banyak bebatuan yang harus dilewati, namun jalannya tidak terlalu terjal.
"Cukup direkomendasikan untuk pendaki pemula," katanya.

Menurutnya, di gunung ini ada akses yang diberikan untuk pemula, ada juga pilihan untuk pendaki yang suka memacu adrenalin atau akses yang menantang.
"Ini juga menjadi kelebihan Gunung Sibayak, banyak jalan menuju Sibayak, dan semuanya menawarkan proses pendakian yang memberikan pengalaman berbeda," tambahnya.
Ia menuturkan, rute yang bisa dilalui diantaranya melalui Desa Semangat Gunung, akses yang banyak digunakan pendaki pemula. Pendaki bisa naik sepeda motor ke atas dengan melewati tikungan tajam, dan memarkirkan motor tepat di kawasan hutan.
Kemudian, hanya sekitar 40 menit pendakian melewati semak belukar, dan sedikit bebatuan terjal, pendaki sudah dapat melihat pemandangan di atas gunung Sibayak.
Akses yang kedua, bisa melalui Kota Berastagi melalui Desa Jarang Uda, atau desa wisata pemandian air hangat tepat di kaki gunung. Akses ini menawarkan pendakian dengan anak tangga hingga sampai ke puncak, atau sekitar 2,5 jam tanpa harus melewati hutan belantara dan bebatuan terjal.
Atau bagi yang suka tantangan, bisa melalui jalur cukup ekstrim yaitu Jalur 54 yang ditempuh di kawasan Penatapan yang terletak di Jalan Raya Medan-Berastagi.
Aksesnya lumayan sulit dan memakan waktu sampai lima jam. Melewati hutan belantara, bebatuan terjal, jurang yang curam, namun banyak akan banyak menemukan aliran air gunung yang segar.
"Akses manapun yang pendaki pilih, ujungnya tetap akan membuat terperangah," kata pendaki yang sudah menaklukkan tiga akses ke Gunung Sibayak itu.
Pantauan Tribun Travel, banyak pendaki yang melakukan pendakian malam dan camping untuk menunggu matahari tepat di wajah. Ya, demi melihat sunrise memang ramai pendaki memilih mendaki di malam hari, dan melakukan camping di sana.
Selama berada di atas, pendaki tidak pernah berhenti mendengar suara letusan dari kawah belerang.
Di dalam kawahnya ada batu cadas dengan kawah belerang dengan kandungan solfatara yang membuatnya tak pernah berhenti menyemburkan uap panas.
Para pendaki yang menempati puluhan tendadi bagian landai kawasan kawah akan mendengarkan suara air mendidih yang banyak orang bilang seperti suara pesawat sebelum terbang.
Utami Tanjung, pendaki pemula, menuturkan sempat berdebar-debar saat mendengar suara kawah, dan mengira gunung akan meletus.
"Awalnya saya enggak bisa tidur. Tapi setelah dijelasin itu suara normal dari kawah yang berisi belerang, Saya pun mulai tenang dan mulai menikmati suasana malam di gunung. Berjalan di atas bebatuan, ada serpihan cahaya dari rumah penduduk di kaki gunung, hingga suara hening selain suara kawah," ujarnya.
Menurut, Arwan, pendaki yang sudah berulang kali mendaki Sibayak, di kawah ini juga sering digelar upacara bendera saat 17 Agustus.
Jika ingin lebih menikmati eksotisnya Gunung Sibayak, pendaki harus menuju puncak yang bernama Puncak Takal Kuda.
Takal Kuda sendiri merupakan bahasa Karo yang berarti “Kepala Kuda”. Di Puncak Takal Kuda ini, pendaki bakal disuguhkan pemandangan yang luar biasa indahnya, apalagi jika cuaca bersahabat.

"Mulai dari pemandangan matahari terbit dan melihat dari kejauhan kondisi Gunung Sinabung yang belakangan kerap mengeluarkan semburan debu dan beberapa kali awan panas," jelasnya.
Menurutnya, walaupun ada akses yang mudah bukan berarti pendaki boleh mengabaikan persiapan. Pendaki tetap harus memakan baju hangat karen cuaca sangat dingin di puncak sana.
Di sekitar kawah, ada juga kawasan landai yang basah karena semburan belerang. Di sini, para pendaki bermain-main dengan batu dan membentuk sebuah huruf. Ada yang menyusun nama pacar, istri, ada juga namanya sendiri.
Gunung Sibayak sendiri merupakan gunung berapi aktif yang memiliki uap panas. Terakhir kali pada tahun 1881. Orang suku Karo menyebut Gunung Sibayak dengan sebutan Gunung Raja.
Ketinggian dari Gunung Sibayak ini sendiri adalah mencapai 2094 Mdpl, dengan posisi kordinat puncaknya adalah pada 97° 30 BT dan 14 ° 16 LS.
Pendaki hanya diminta uang distribusi untuk naik sebesar Rp4.000 dan biaya parkir Rp15 ribu jika menginap.
Jaraknya juga tidak terlalu jauh dari Medan, hanya 77 km atau sekitar dua jam perjalanan. (sil/tribun-medan.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/gunung_sibayak_20150810_115645.jpg)