Ngopi Sore

Doa Menyentak Kiai Politisi

Entah kurang cermat atau memang tidak sadar, mereka juga mengutip paragraf dari Kyai Muna, yang sedikit banyak sesungguhnya ditujukan untuk mereka.

Doa Menyentak Kiai Politisi
YOUTUBE

KONDISI negara yang tak juga beranjak baik (setidaknya dilihat dari gejala) meski reshuffle kabinet telah dilakukan, membuat banyak pihak bereaksi.

Kaum pembenci tentu berada di urutan terdepan, tapi apa yang mereka lakukan tidak perlu kita bahas di sini karena selain akan menghadirkan ketakutan dan kebencian, juga menjerumuskan kecerdasan ke level paling rendah. Kedudukan mereka setara dengan kaum pembela pembela pemerintah (dalam hal ini khususnya Joko Widodo). Tentu, sebagaimana kaum pembenci, pembelaan di sini juga dilakukan dengan membabibuta.

Lalu kaum penggerutu. Mereka terbagi dua. Satu kelompok condong menjadi penyokong kaum pembenci. Sedangkan kelompok yang lain merapat ke kaum pengeritik, yang antara lain juga berisi orang-orang dari kaum pembela pemerintah/Jokowi. Mereka mengedepankan analisa- analisa yang tajam dengan dasar pemikiran dan data yang bisa dipertanggungjawabkan.

Belakangan muncul kaum keempat. Yakni kaum yang berdoa. Kita semua berdoa, menurut agama dan kepercayaan masing-masing. Tapi kaum ini, kadangkala (atau malah sering?) mengedepankan doa dengan tendensi khusus, sehingga justru membuatnya jadi bias.

Pendengarnya, atau pembacanya (sebab kini banyak sekali doa yang dipampangkan di halaman Facebook dan Twitter), jadi bertanya-tanya. Apakah maksud dari doa itu sebenarnya. Ajakan tuluskah? Atau ada maksud lain di baliknya? Atau sekadar sindiran?

Dalam kurun tiga hari ini, Indonesia ditohok oleh dua doa yang menyentak. Doa pertama dihadirkan KH Khairul Muna dalam penutupan Sidang Paripurna MPR 2015. Kiai Muna, atau kerap juga disapa Gus Muna, merupakan Pimpinan Pondok Pesantren Mambaul Hisan, Tempuran, Magelang, Jawa Tengah.

Ia menantu almarhum Mbah Mad, KH Ahmad Abdul Haq Dalhar, satu dari sekian kiai khos NU yang sangat dihormati kaum Nahdliyin. Mbah Mad adalah "guru spiritual" Wakil Presiden Indonesia HM Jusuf Kalla, serta dua Presiden Indonesia, Megawati Soekarnoputri dan Susilo Bambang Yudhoyono.

Kiai Muna sendiri Pada Pemilu Legislatif 2014 maju dalam pertarungan memperebutkan kursi anggota dewan di Senayan, lewat Partai Nasional Demokrat (Nasdem), dari Daerah Pemilihan (Dapil) Jawa Tengah 6. Sebelumnya, ia adalah kader Partai Golkar.

Kalimat-kalimat Kiai Muna dalam doanya, sebagaimana isi pidato kenegaraan Joko Widodo, tidak "mengawang-awang". Jika Jokowi banyak menyodorkan data dan dari data-data itu kemudian bergerak ke proyeksi dan potensi, Kiai Muna mengemukakan fakta-fakta. Dia 100 persen benar. Kondisi Indonesia di hari-hari ini, memang sebenar-benarnya seperti disebutkannya dalam doa itu.

Sekali lagi, tidak ada yang salah. Seluruh ajakannya merupakan ajakan terpuji. Dan memang langkah-langkah seperti itulah yang harus diambil oleh pemerintah dan didukung oleh kita sebagai rakyat.

Halaman
123
Tags
Ngopi Sore
Penulis: T. Agus Khaidir
Editor: T. Agus Khaidir
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved