Ngopi Sore

Tak Datang ke Istana, Apakah Pak SBY Balas Dendam pada Ibu Mega?

Apakah jangan-jangan bagi Pak SBY, rangkaian acaranya di Pacitan lebih penting dari sekadar seremonial di Istana Negara? Atau karena Megawati?

Tak Datang ke Istana, Apakah Pak SBY Balas Dendam pada Ibu Mega?
KOMPAS

ADA satu pemandangan menarik di Istana Negara dan Gedung DPR RI dalam kurun sepekan terakhir. Ada Megawati Soekarnoputri di sana. Duduk dengan wajahnya yang dingin dan ketat. Dalam balutan busana adiluhung yang megah. Iya, Presiden keempat Indonesia ini, akhirnya datang, setelah 10 tahun absen.

Sekadar menyegarkan ingatan (siapa tahu lupa), para mantan presiden memang selalu diundang dalam acara-acara resmi kenegaraan. Baik yang berlangsung di istana maupun gedung dewan. Namun sepanjang 10 tahun, tepatnya sejak ia kalah dalam pemilihan umum dan kursi keprisidenan diduduki Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Megawati tidak pernah hadir.

Tiap tanggal 17 Agustus selama 10 tahun itu, ia memilih tetap berada di rumahnya, Jalan Teuku Umar, Jakarta, atau berkunjung ke daerah-daerah lain. Dan saat ditanya, ia hampir-hampir tidak pernah memberikan jawaban. Bahkan tidak untuk sekadar berbicara.

Sekarang rezim berganti. SBY harus menepi dari arena politik karena undang-undang memang tak memperbolehkan ia untuk berpartisipasi lagi. Presiden dijabat Joko Widodo, kader PDI Perjuangan. Dan entah berhubungan dengan pergantian kepemimpinan ini atau tidak, Megawati mengakhiri ma.sanya untuk "berjarak" dari tampuk kekuasaan.

Tapi ada pemandangan lain yang membuat kehadiran Megawati jadi terasa lebih menohok lantaran menciptakan rangkaian cerita yang lebih panjang. SBY tidak hadir. Ada Megawati di sana. Ada BJ Habibie, presiden ketiga.

Ada sejumlah mantan wakil presiden, termasuk Budiono, mantan wakil SBY di periode terakhir kepemimpinannya. Namun tak ada SBY. Konon, menurut Ruhut Sitompul, juru bicara Partai Demokrat, "Bapak sudah punya acara lain yang sudah terencana sejak jauh-jauh hari."

Rencana ke mana? SBY ternyata berada di Pacitan. Berziarah, berburu kuliner, berdialog dengan warga, lalu ikut upacara tujuhbelasan di kantor camat.

Saya paham Bang Ruhut sering keliru omong, entah karena tak cermat dalam data atau kelewat percaya diri hingga akhirnya jadi blunder. Tapi Pak SBY jelas bukan orang yang acak-kadut. Bukan orang yang centang-prenang main hantam-kromo. Bahkan dalam berbicara, melangkah, menoleh, mengangguk, dan tersenyum, ia mengaturnya sedemikian rupa, dengan sangat teliti dan hati-hati.

Pertanyaannya, apakah Pak SBY tidak sadar, atau jangan-jangan (memang) lupa, bahwa tiap tanggal 17 Agustus, para mantan presiden (kecuali yang sudah almarhum), diundang untuk hadir dalam upacara kenegaraan di istana?

Saya ragu. Pak SBY tentu sadar benar beliau sudah jadi mantan dan tidak akan lupa bahwa pada tanggal 17 Agustus para mantan presiden akan diundang untuk hadir di istana. Sinyalemen ini sudah ia papar dalam penjelasan yang ia sampaikan lewat akun Twitter-nya. Atau jangan-jangan bagi Pak SBY, rangkaian acaranya di Pacitan lebih penting dari sekadar seremonial di Istana Negara? Begitukah? Atau penyebabnya tidak lebih dari Ibu Megawati belaka?

Halaman
12
Tags
Ngopi Sore
Penulis: T. Agus Khaidir
Editor: T. Agus Khaidir
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved