Ngopi Sore

Rupiah, Orde Baru, dan Meme Haters Jokowi

Tidak sedikit yang memang senyata-nyatanya menggambarkan kebencian personal. Misalnya meme "Siapa suruh pilih Jokowi, salam gigit jari."

Rupiah, Orde Baru, dan Meme Haters Jokowi
INTERNET

NILAI tukar rupiah terhadap dolar Amerika terus mengalami perlemahan. Saat ini sudah menembus angka 14 ribu per 1 dolar.

Banyak argumentasi dikemukakan pemerintah. Mulai dari spekulasi menguatnya dolar yang membuat perusahan melakukan aksi beli, investor tarik dana, devaluasi Yuan (mata uang China), dan yang paling belakang, memanasnya konflik di semenanjung Korea.

Ingatan pun melayangkan pada kondisi serupa 17 tahun silam. Saat itu, rupiah juga merosot tajam hingga mencapai angka 16 ribuan per dolar. Huru-hara meletus. Harga-harga yang melambung tinggi membuat rakyat "kepanasan" dan cepat tersulut. Sedikit provokasi kelas teri sudah mustajab untuk menggiring massa turun ke jalan, berunjukrasa, memblokir, membakar.

Di kota-kota besar, terjadi perusakan, penjarahan, bahkan pemerkosaan dan pembunuhan. Puncaknya, tingkat kepercayaan masyarakat pada pemerintah terjun bebas ke titik beku. Mahasiswa menyuarakan reformasi. Soeharto yang sudah berkuasa 32 tahun, dituntut turun.

Apa hasil dari revolusi sosial ini sudah sama-sama kita tahu. Sampai hari ini, orde reformasi sudah berjalan 17 tahun. Selama itu, pelan-pelan, pemerintah berupaya melakukan perbaikan. Tapi upaya ini ternyata tak terlalu berhasil.
Badai ekonomi yang melanda banyak negara ikut menyapu Indonesia. Tentu, tidak ada orang waras yang menginginkan kita kembali ke kondisi 1997-1998. Kita semua ingin menghindarinya.

Tapi begitulah. Di saat-saat seperti ini, saat di mana kita semestinya bersatu suara dan satu tindakan, yang mencuat justru keriuhan-keriuhan yang tak efektif.

Sasaran utama keriuhan, tiada lain dan tiada bukan, adalah Presiden Joko Widodo. Persis Soeharto 17 tahun lalu, ia diserang. Bedanya, selain di dunia nyata, lewat unjuk-unjukrasa atau opini di media massa, Jokowi juga mendapatkan hantaman dari dunia maya. Facebook, Twitter, Path, bahkan Instagram dan LinkedIn, menjadi panggung bagi para pengeritik.

Akan halnya pengeritik ini terbagi tiga. Pertama, pengeritik yang benar-benar mengeritik, dalam arti kritikannya memang memiliki dasar serta menyodorkan ide dan jalan keluar dan membuka peluang untuk berdiskusi. Kedua, pengeritik yang nyinyir. Ketiga, para haters, kaum pembenci, yakni orang-orang yang barangkali menganggap tindakannya mengejek dan memaki-maki Jokowi sebagai semacam jihad, sehingga apabila pada saat sedang melakukannya takdir memutuskan ia mati, maka matinya adalah syahid yang dijanjikan surga.

Salah satu bentuk serangan dari para haters adalah meme. Beberapa di antaranya memang menggelitik. Lucu dan cerdas. Misalnya meme yang memajang foto Brigadir Dewi yang disandingkan dengan foto Jokowi. Meme ini bertuliskan kalimat, "Dolar tembus angka 14.000, situ kok gak sedih-sedih?"

Atau meme yang dibuat dengan mengaitkan pada salah satu call center makanan cepat saji. Sungguh kebetulan, nomor call center itu sama dengan nilai tukar rupiah terhadap dolar. Maka ditulislah, ""Itu call center atau nilai tukar rupiah?"

Tapi tidak sedikit yang memang senyata-nyatanya menggambarkan kebencian personal. Misalnya meme yang menyudutkan para pemilih Jokowi pada Pilpres 2014: "Siapa suruh pilih Jokowi, salam gigit jari."

Meme-meme ini, tak bisa dimungkiri, adalah representasi kekecewaan. Kecewa terhadap kinerja pemerintah, kinerja presiden, juga kabinetnya. Satu sikap yang sesungguhnya wajar. Akan tetapi, tiap kewajaran tentu memiliki batasan.

Berbagai upaya pemerintah untuk menyehatkan rupiah, sejauh ini, teradang situasi global yang serba tak pasti. Belum ada pergerakan berarti.

Pertanyaannya, dalam situasi seperti ini, apakah yang sebaiknya kita lakukan? Terlepas didengar atau tidak, apakah kita akan mencoba ikut memberi sumbangsih pemikiran? Atau sekiranya tak punya pandangan lebih baik diam dan menunggu apapun hasil dari kerja pemerintah? Atau memang lebih senang dan nyaman menunjukkan ketidaksabaran dengan makian dan ejekan?

Twitter: @RyanJuskal

Editor: T. Agus Khaidir
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved