Ngopi Sore

Jokowi, SBY, dan Retorika Mereka

SBY bicara soal retorika, menyebut pemerintah sekarang lebih banyak bicara ketimbang bekerja.

Jokowi, SBY, dan Retorika Mereka
KOMPAS.COM

SAYA membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia dan mencari apa sesungguhnya makna dari kata 'retorika'. Saya menemukannya di halaman 1171.

Saya kutipkan sebagaimana aslinya: re.to.ri.ka /retorika/n 1 keterampilan berbahasa secara efektif; 2 studi tt pemakaian bahasa secara efektif di karang-mengarang; 3 seni berpidato yg muluk-muluk dan bombastis.

Kata retorika ini mendadak jadi populer setelah digunakan presiden keenam RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), untuk mengeritik kinerja pemerintah (terutama di bidang ekonomi) yang sekarang dipimpin suksesornya, Joko Widodo (Jokowi).

Menurut Pak SBY, "tolong berhenti beretorika. Jangan beretorika ideologis. Rakyat tidak membutuhkan retorika ideologis. Mereka ingin barangnya ada, untuk membeli bisa terjangkau."

"Kalau harga bergejolak, tetapi pemerintah terus beretorika, tidak akan selesai masalahnya," bilangnya pula.

Dua kalimat menohok ini dikemukakannya saat berbicara di depan sidang pleno pengurus pusat Partai Demokrat di Cipanas, Cianjur, Jawa Barat, 28 Juli 2015. Dan tentu saja, para peserta sidang yang merupakan pengurus-pengurus pusat, majelis tinggi, dewan pembina, dewan kehormatan, komisi pengawas, dan anggota Fraksi Partai Demokrat di DPR RI, ini memberikan tepuk tangan riuh.

Saya bukan kader Partai Demokrat. Juga bukan simpatisan. Dua episode Pemilu di mana Demokrat menjadi "pemain yang kompetitif", saya tidak memilih mereka (sebenarnya tidak memilih siapa-siapa juga). Dari sekian ribu kader partai ini seluruh penjur tanah air, saya hanya menyukai dua orang.

Pertama, mendiang Adjie Massaid. Bukan lantaran beliaunya politisi yang hebat dan vokal menyuarakan amanat hati nurani rakyat, melainkan karena keberhasilannya memperistri Angelina Sondakh, dan pada satu masa dalam hidupnya yang singkat, ia pernah berkostum Ajax Amsterdam, meski sekadar di tim usia remaja.

Pencapaian-pencapaian ini menurut saya hebat sekali. Angelina Sondakh bukan cuma cantik, tapi juga pintar. Ia jadi ambasador organisasi ini itu, menjadi pembicara di forum-forum itu dan ini. Dan Anda tentu tahu, cantik lagi pintar adalah kombinasi yang maut sekali, dan jika ada laki- laki yang mampu menaklukkan perempuan seperti ini, maka dia layak mendapatkan acungan jempol.

Adapun soal Ajax tidak perlu dibahas lagi. Tepatnya, tidak perlu dipedebatkan. Adjie memang gagal jadi pemain bola hebat lantaran cedera. Tapi setidaknya ia pernah berada di akademi yang sama dengan para pesepakbola berkualitas wahid macam Patrick Kluivert, Edgar Davis, Marco van Basten, atau yang masih berkiprah dan tengah mengejar kebintangannya, Daley Blind.

Halaman
12
Tags
Ngopi Sore
Penulis: T. Agus Khaidir
Editor: T. Agus Khaidir
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved