Ngopi Sore

Revolusi Mental dan Tulisan yang Gagal

Revolusi mental adalah semacam jelmaan keinginan banyak orang yang selama ini ingin terkatakan dan terwujudkan, tapi tak kunjung terlaksana.

Revolusi Mental dan Tulisan yang Gagal
INTERNET

SENIN lalu, Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) meluncurkan situs www.revolusimental.go.id.

Situs yang merupakan bagian dari Program Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM) tersebut dikabarkan menelan biaya Rp 140 miliar yang dicomot dari APBN 2015 (meski kemudian Sekretaris Kemenko PMK, Sugihartatmo, membantahnya, dan menyebut biaya pembuatan situs tersebut "hanya" Rp 200 juta).

Selepas peluncuran, badai cacian, sindiran, dan ejeken pun menerjang dengan kencang. Mulai dari soal biaya yang dianggap teramat besar, tampilan yang dianggap picisan dan tiruan pula, hingga kapasitas hosting yang dianggap tak memadai. Kerunyaman pun semakin sempurna tatkala situs tersebut diretas dua hari setelahnya.

Di antara ejekan dan sindiran yang mengemuka, satu yang terbilang paling keras datang dari pakar telematika dan mantan Menteri Pemuda dan Olahraga, Roy Suryo. Menurut Roy, pembuat situs itu tak becus.

"Katanya ratusan miliar. Kok, gampang sekali dibobol?" kata Roy dengan nyinyir, seraya menambahkan bahwa "Revolusi Mental" hanyalah retorika palsu yang tak laku dan tak perlu dipercaya.

Tapi itu Roy, dan saya tak hendak memperpanjang pembahasan perihal kecacatan-kecacatan situs tersebut.
Saya lebih tertarik pada frasa 'Revolusi Mental' itu sendiri, yang sejak awal didengung-dengungkan Presiden Jokowi. Frasa ini menggugah dan sangat menarik untuk dibahas. Bagi saya, frasa ini merupakan semacam jelmaan keinginan banyak orang yang selama ini ingin terkatakan dan terwujudkan, tapi tak kunjung terlaksana.

Kata Jokowi, revolusi mental tidak selalu tentang hal-hal besar. Revolusi dimulai dari hal yang kecil yang dapat menjadi pintu masuk kepada hal besar. Salah satu pintu masuk itu adalah tulisan. Tepatnya tulisan-tulisan serba gagal yang bertaburan dan bisa ditemukan dengan mudah di berbagai medium nonformal, seperti halaman media sosial atau bahkan SMS.

Sebelum melangkah lebih jauh, sekaligus untuk menghindari ketersinggungan, saya perlu tekankan bahwa apa yang saya paparkan adalah pendapat saya pribadi. Saya juga tak bermaksud memberi kuliah tata bahasa. Bukan sama sekali. Toh, tulisan saya sendiri masih jauh untuk dibilang bagus. Saya hanya hendak menyampaikan bahwa persoalan kegagalan menulis dengan benar ini termasuk satu hal penting yang perlu diatasi dengan revolusi mental.

Karena itu pula sudah barang tentu saya tidak memiliki hak untuk memaksa. Artinya, jika tak sependapat, Anda tak perlu mengamininya. Jadi baiklah, ya, saya anggap kita bersepakat.

Sejak entah kapan yang saya tak ingat pasti, saya memperhatikan (untuk tak menyebutnya "meneliti"), makin ke sini makin banyak tulisan yang gagal menjadi tulisan yang benar. Ironisnya, penulisnya pada dasarnya bukan orang bodoh. Sebaliknya, mereka orang pintar, atau setidak-tidaknya orang yang pernah sekolah atau mengenyam pendidikan. Tak jarang berijazahkan sarjana strata satu, bahkan bergelar master pula.

Halaman
12
Editor: T. Agus Khaidir
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved