Ngopi Sore

Jamaika: Bob Marley, Linting Ganja, dan Para pelari Cepat

Persepsi memang bisa membentuk dunia sendiri. Dunia rekayaan yang celakanya dikhayalkan nyata.

Jamaika: Bob Marley, Linting Ganja, dan Para pelari Cepat
INTERNET

DARI gelanggang Bird's Nest, stadion sarang burung yang berdiri tegak di tengah kota Beijing, Jamaika sekali lagi menunjukkan diri sebagai negara yang ambivalen.

Terletak di kawasan Kepulauan Karibia, selama bertahun-tahun dunia mengenal Jamaika dari dua hal yang memiliki keterkaitan satu sama lain: Robert Nesta Marley dan ganja.

Nama pertama sohor dengan sapaannya yang lebih pendek, Bob. Bersama band yang ia bentuk, The Wailers, Bob Marley menduniakan salah satu musik tradisional kawasan Karibia (termasuk di Jamaika), reggae.

Ganja, kita tahu, adalah nama lain dari marijuana. Taksonom menyebutnya sebagai cannabis. Tumbuhan dengan daun hijau berjari lima, yang entah oleh "orang kreatif" mana, lantas dirajang, dikeringkan, digulung, disulut dengan api, lantas diisap, dan isapan itu, konon, akan membawa pengisapnya "terbang ke nirwana".

Bob Marley mengisap ganja. Dalam banyak foto dan rekaman lama, sang legenda terekam menjepit segulung ganja di antara jemari tangannya. Dalam satu wawancara, Bob bilang: "How could a plant created by God be made illegal by humans? If growing cannabis is to be a crime then by man's laws God who made all plants was a criminal too."

Menurutnya, Tuhan menciptakan segala sesuatu yang ada di dunia adalah untuk kebaikan. Apabila kemudian ada yang berubah jadi buruk, maka itu merupakan salah manusia. Bob mengisap ganja saat menuliskan lagu-lagunya. Juga saat bernyanyi. Karena baginya, hanya gerak tubuh yang telah terpapar ganjalah yang paling cocok dengan tinggi-rendah nada dalam reggae.

"You know I smoke'a de ganja all a de time/Smoke'a de ganja when I'm with friends/We gonna smoke'a de ganja until the very end," katanya dalam lagu Ganja Gun.

Reggae sesungguhnya memiliki kemiripan dengan dangdut. Bukan dari filosofi tentunya. Melainkan sekadar "tabiat". Sebagaimana halnya dangdut, sepedih dan setragis apapun syair-syair dalam reggae, entah itu perjuangan memerdekakan diri atau derita patah hati, nada dan iramanya akan tetap menyeret pendengar-pendengarnya untuk bergoyang.

Bedanya, goyang dangdut kadangkala bisa berubah menjadi amburadul. Goyang yang hantam kromo karena nada dan iramanya sendiri sudah melenceng dari koridor dangdut. Reggae tidak. Dalam situasi seperti apapun, goyang reggae tetap "selow", tetap santai, bahkan sering kelewat santai.

Persepsi inilah yang kemudian membuat segala yang terkaitpaut dengan Jamaika juga disimpulkan "selow". Maka ketika tim nasional sepakbola Jamaika lolos ke putaran final Piala Dunia 1998 di Perancis, semua orang terkejut. Jamaika? Maka yang terbayang adalah Bob Marley and The Wailers, dengan kostum tim sepakbola. Di bawah pengaruh ganja, sanggupkah mereka berlari sepanjang 90 menit?

Halaman
12
Penulis: T. Agus Khaidir
Editor: T. Agus Khaidir
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved