Ngopi Sore

Pelukan Maut Amien Rais

Politik lebih mirip kisah-kisah pewayangan, di mana tidak ada yang benar-benar putih dan hitam. Politik adalah dunia yang serba abu-abu.

Pelukan Maut Amien Rais
ANTARA FOTO/REGINA SAFRI
Mantan Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN), Amien Rais memberikan pernyataan sikap kepada wartawan di kediamannya, Sleman, Kamis (3/9). Amien Rais menyatakan menyetujui dan merestui PAN untuk bergabung dengan pemerintahan pimpinan Presiden Joko Widodo. 

DI tengah-tengah gejolak ekonomi yang berputar-putar menyerempet bahaya seperti pengendara motor di dalam atraksi tong setan, dari panggung politik mencuat kabar mengejutkan. Partai Amanat Nasional (PAN), satu dari tiga partai dedengkot oposisi, menyatakan diri menyeberang ke kubu pemerintah.

Tentu saja, kabar ini memang mesti disikapi dengan kening yang berkerut. "Pembelotan" politik lazim terjadi. Istilahnya macam-macam, tapi tujuannya dan momentumnya boleh dikata nyaris seragam. Paling umum, misalnya, menjelang perombakan kabinet.

Partai yang lelah terus-menerus berseberangan dengan pemerintah dan hanya mendapatkan pepesan kosong, ingin sedikit mengubah nasib. Satu dua jatah kursi menteri, bolehlah.

Namun dalam perkara PAN, kelaziman ini terjungkirbalikkan. Perombakan kabinet sudah lewat. Menteri-menteri baru sudah terpilih dan bekerja. Kenapa PAN justru baru melakukannya sekarang? Apakah mereka berharap akan ada perombakan lagi? Atau jangan-jangan mereka sudah tahu bahwa memang akan ada perombakan lagi?

Ketua Umum PAN, Zulkifli Hasan, melontarkan kalimat yang normatif dan diplomatis. "Ini untuk kepentingan NKRI, untuk kepentingan Indonesia, bukan pribadi, partai ataupun golongan," bilangnya.

Lalu, dari Jogja, sesepuh PAN yang juga tokoh reformasi, Amien Rais, menguatkan kalimat Zulkifli. "Harapannya rangkulan pemerintah yang dilakukan terhadap PAN tidak menjadi "rangkulan maut", yang hanya bertujuan memecah belah kekuatan politik. Sebab jika Pemerintah mengajak PAN hanya untuk menguasai DPR, untuk kepentingan politik jangka pendek, maka angkah tersebut berpotensi membuat kondisi politik makin gaduh. Kita bergabung untuk tujuan jangka panjang."

Politik memang tidak berjalan seperti alur cerita dalam sinetron Tukang Bubur Naik Haji, atau Ganteng-ganteng Srigala, atau 7 Manusia Harimau. Mudah tertebak karena baik protagonis maupun antagonis dipaparkan sedemikian konyolnya.

Politik lebih mirip kisah-kisah pewayangan, di mana tidak ada yang benar-benar putih dan hitam. Politik adalah dunia yang serba abu-abu. Puntadewa atawa Yudhistira pernah berjudi dan berbuat curang, sementara Suyudana alias Duryudana pun sesekali melakukan kebajikan.

Tapi kedua tokoh ini merupakan pemuncak-pemuncak dari dua kutub politik. Kemilau yang memancarkan pesona tersendiri bagi rakyat. Politik yang sesungguhnya berada di pusaran tengah, yakni sepak terjang para pengabdi.
Siapa saja mereka? Ada pengabdi yang setia. Ada petualang, kaum absurd yang berpikir dan bertindak pragmatis atas dasar kepentingan diri sendiri.

Untuk pengabdi setia kita perlu menyebut dua nama: Semar dan Togog, dua mahluk ajaib yang konon hidup abadi. Oleh Sanghyang Tunggal, begitulah dikisahkan, Semar mendapat perintah untuk mengasuh para penguasa keturunan dewata. Pangeran-pangeran yang di dalam dirinya memiliki persentase kebaikan, kebijakan, dan welas asih lebih besar dibanding benih-benih kejahatan.

Halaman
12
Penulis: T. Agus Khaidir
Editor: T. Agus Khaidir
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved