Ngopi Sore

Pergi ke New York Ketemu Donald Trump

Benar bahwa press conference ini bukan kampanye. Namun secara umum, ia merupakan bagian dari kampanye.

Pergi ke New York Ketemu Donald Trump
AFP/GETTY IMAGES/SPENCER PLATT

SATU hal yang membuat saya angkat topi pada Fadli Zon adalah kemampuannya mengendalikan intonasi suara dan mimik muka tatkala berada pada posisi terdesak dalam debat. Meski melontarkan kalimat-kalimat yang ngawur, rendah, bahkan menyiratkan kedunguan, sungguh, tidak pernah terbesit sedikit pun rona malu di wajahnya.

Biasa-biasa saja. Datar saja. Selain itu, dia juga sangat dingin. Saya pernah mengikuti debatnya yang sengit perihal sastra di Twitter. Lawan debatnya kelas berat, penyair Saut Situmorang. Debat itu berlangsung sengit, dan baik Fadli Zon maupun Saut sama-sama degil mempertahankan pendapat.

Setelah beberapa lama, tampak bahwa Saut sebenarnya sudah di atas angin. Tapi Fadli Zon tetap tidak mau kalah dan mulai mengeluarkan jurus mabuk. Sampai di sini, debat yang bersopan-sopan pun berakhir. Dinding-dinding kesungkanan runtuh. Saut menyerang Fadli dengan kalimat-kalimatnya yang khas: tajam, keras, menjurus kasar.

Fadli Zon, dalam kapasitasnya sebagai anggota dewan redaksi Majalah Sastra Horison dan keponakan penyair Taufiq Ismail, menerima gempuran dahsyat itu dengan "selow". Tak ada nada marah. Tak ada ancaman, tak ada dendam, apalagi bertindak lebih jauh semisal melaporkan Saut ke polisi dengan tudingan penghinaan atau pencemaran nama baik, seperti yang sekarang dilakukan oleh Fatin Hamama, seorang perempuan yang merasa "terusik keperempuanannya" setelah berdebat perihal buku dagelan berjudul 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh.

Maka jika ada pemilihan manusia paling selow se-Indonesia, saya kira, Fadli Zon patut dikedepankan sebagai salah satu kandidat pemenang. Dan apa yang ditunjukkannya sebagai reaksi atas kehebohan terkait kehadirannya dalam press conference yang dilakukan oleh Donald Trump, multimilyuner yang berambisi maju pada gelaran Pemilihan Presiden Amerika Serikat 2016 lewat Partai Republik.

Fadli Zon, politisi Gerindra dan Wakil Ketua DPR RI, tidak sendiri. Ia hadir di Trump Tower, gedung pencakar langit megah yang berdiri di jantung Manhattan, New York, bersama koleganya, Setya Novanto. Politisi Partai Golkar yang didapuk sebagai Ketua DPR RI ini bahkan diberi kesempatan oleh Trump untuk menyampaikan sepatah dua patah kata.

Panggung politik tanah air pun seketika bergolak. Fadli Zon dan Setya Novanto adalah pejabat- pejabat negara, elite legislatif, dan keduanya berada di New York dalam rangka perjalanan dinas. Apa yang membuat mereka berada di Trump Tower dan menghadiri press conference tersebut?

Dalam wawancara televisi, Fadli Zon, mengatakan bahwa dirinya dan Setya Novanto, juga sejumlah elite legislatif lain, melakukan pertemuan yang membahas perihal investasi dan kemungkinan-kemungkinan bagi bisnis Trump di kawasan Asia Pasifik, termasuk di Indonesia. Juga hal-hal terkait aliansi strategis Indonesia dan Amerika Serikat ke depan. Istilah Fadli Zon, melakukan networking.

"Setelah melakukan pertemuan, Donald Trump bilang bahwa dia ada press conference di lobby, dan dia menawarkan pada kami untuk turut hadir. Kami sendiri bertemu di ruangannya di lantai 26. Karena ini bukan termasuk kampanye, kami hadir. Selain itu, kita, kan, orang timur, ya. Tentu tak sopan jika kita menolak tawaran," ujarnya.

Mendengar kalimat-kalimat ini, saya ingin tertawa. Fadli Zon dan Setya Novanto adalah politisi- politisi yang sudah lama beranjak dari kelas teri. Mereka kelas hiu. Karenanya, hemat saya, sungguh kelewatan apabila mereka tidak dapat mencium apakah press conference itu berbau politik atau tidak.

Halaman
12
Penulis: T. Agus Khaidir
Editor: T. Agus Khaidir
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved