Ngopi Sore

Gara-gara Asap Kalian, Kami Tak Jadi Nonton Lewis Hamilton

Pemerintah memang harus didesak supaya tidak bekerja terlalu "selow"

Gara-gara Asap Kalian, Kami Tak Jadi Nonton Lewis Hamilton
AFP PHOTO
FOTO udara,ruas jalan yang akan digunakan sebagai track GP Formula One di Singapura, akhir pekan ini. Kabut asap yang melanda Singapura dikhawatirkan dapat membuat ajang ini dibatalkan. 

RAUNG buldozer gemuruh pohon tumbang. Berpadu dengan jerit isi rimba raya. Tawa kelakar badut-badut serakah. Dengan HPH berbuat semaunya.

Petikan lagu Iwan Fals, Isi Rimba Tak Ada Tempat Berpijak Lagi, mampir lagi di benak saya beberapa saat setelah mendapatkan pesan bernada nyaris serupa dari tiga kawan di Pekanbaru, Malaysia, dan Singapura. Kekesalan atas kabut asap akibat kebakaran hutan. Asap yang kian lama kian pekat, bahkan makin jauh melakukan ekspansi hingga ke bilik-bilik paling pribadi.

"Bro, hari ini, belasan sekolah di lima kawasan di negeri kami, harus libur. Pemerintah kami tak mau murid-murid makan asap kalian," tulis kawan dari Malaysia.

"Sebentar lagi ada Formula One. Tapi penyelenggara mempertimbangkan untuk melakukan peninjauan ulang. Gara-gara asap kalian, kami tidak jadi lihat Lewis Hamilton," sebut kawan dari Singapura.

Grand Prix Formula One Singapura, seperti halnya Monte Carlo, adalah "balapan jalan raya". Tidak ada sirkuit karena jet-jet darat itu melesat di ruas jalan yang sehari-hari juga dilalui oleh bus dan taksi. Namun berbeda dari Monte Carlo, Grand Prix Singapura digelar pada malam hari. Lampu jutaan watt menyala bersamaan, menelan kegelapan malam. Sungguh satu sensasi yang luar biasa.

Tapi teknologi tingkat tinggi itu ternyata tak mampu melawan serbuan asap. Tiga hari terakhir, asap dari Riau, Jambi, Sumatera Selatan, dan Sumatera Utara, mulai melakukan ekspansi ke negeri ini. Makin tebal, dan Formula One akan digelar akhir pekan ini. Penyelenggara telah mewanti-wanti, apabila jarak pandang berada di bawah batas toleran, Grand Prix Singapura akan dibatalkan. Tak ada negosiasi. Sebab ini menyangkut nyawa.

"Ini akan menjadi laga yang seru, Brother. Dan kami sudah menunggunya selama satu tahun," tulisnya lagi.

Saya paham dia kesal. Kawan saya ini penggemar berat Lewis Hamilton dan berharap tahun ini, pebalap Inggris tersebut dapat meraih gelar juara dunia. Dan dia ingin menjadi saksi bagi keberhasilan itu.

Akan tetapi, kekesalan kawan dari Singapura ini, saya kira, belumlah seberapa jika dibanding dengan kekesalan kawan dari Pekanbaru.

"Semestinya Pemerintahan Jokowi bisa menjadikan Kota Pekanbaru andalan untuk menambah divisa, hitung-hitung membantu perekonomian supaya tidak makin merana ditindas dolar. Pekanbaru bisa dijadikan sebagai lokasi wisata asap," ujarnya.

Halaman
12
Penulis: T. Agus Khaidir
Editor: T. Agus Khaidir
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved