Ngopi Sore

Kenapa Tunjangan Wakil Rakyat Naik Sedikit? Mereka Sudah Kerja Keras

Kecuali Anda sekaya Donald Trump, maka barangkali Anda memang akan menganggap jumlah pendapatan para wakil rakyat ini tidak seberapa.

Kenapa Tunjangan Wakil Rakyat Naik Sedikit? Mereka Sudah Kerja Keras
DOK.KOMPAS

PRESIDEN enak, punya pesawat sendiri. Sedangkan kita, Kalau tidak ada anggaran, kita tidak bisa pergi.

Rangkaian kalimat ini meluncur dari Fahri Hamzah. Tentu, Anda sekalian sudah mengenalnya, bukan? Jika belum, saya sarankan berhenti di sini dan silakan bertanya pada Google. Sebab penting mengetahui siapa beliau demi agar Anda tidak salah duga, menyangka saya sebagai antek-antek pemerintah di satu sisi dan pembenci PKS di sisi yang lain.

Percayalah, saya tidak punya ketertarikan apa-apa pada politik. Saya bukan Jokowi Lovers. Bukan PKS Haters, atau orang yang memandang koalisi-koalisi kontra dan pro pemerintah di DPR RI, sebagai kesalahan-kesalahan terbesar dalam sejarah perjalanan bangsa. Saya cuma pecinta sepakbola yang baru saja merasa sangat berbahagia setelah PSMS berhasil membawa pulang tropi Piala Kemerdekaan ke Medan.

Baiklah, Anda sudah selesai mencari? Saya anggap saja begitu. Saya anggap Anda telah mengetahui siapa Fahri Hamzah dan sedikit banyak jadi lebih paham mengapa dia, lagi-lagi, melepaskan lelucon yang sungguh tak lucu.

Kalimat-kalimat yang menyiratkan ketidakpuasan tadi dikedepankan Fahri menyikapi keputusan pemerintah menaikkan tunjungan para wakil rakyat, termasuk dirinya. Sampai di sini tentu mencuat pertanyaan. Dinaikkan, kenapa tetap tidak puas?

Rupanya karena jumlahnya yang kecil. Cuma naik sedikit dari angka awal, dan jauh dari usulan yang disodorkan ke pemerintah. Begini perinciannya. Tunjangan Kehormatan, tiap-tiap anggota DPR RI mendapatkan Rp 5.580.000. Tunjangan Komunikasi Intensif Rp 15.554.000. Tunjangan Peningkatan Fungsi Pengawasan Rp 3.750.000. Dan Bantuan langganan listrik dan telepon sebesar 7.700.000. Total Rp 32.580.000.

Ini pendapatan bagi "anggota biasa". Para Ketua, Wakil Ketua, maupun Ketua-Ketua Komisi, memperoleh tunjangan lebih besar. Terkecuali biaya langganan listrik dan telepon, margin perbedaan antara Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta per tunjangan.

Tentu di luar itu masih ada gaji pokok. Jika tidak keliru ingat, gaji pokok anggota DPR RI adalah Rp 15.510.000. Kemudian ada yang disebut Dana Penyerapan (Reses), sebesar Rp 31.500.000 per satu kali reses. Dalam setahun, reses ini rata-rata empat kali. Dengan demikian, dari reses saja, mereka memperoleh Rp 118.000.000. Dan jangan lupa pula, pada tiap-tiap wakil rakyat ini diberikan gaji ke 13 yang jumlahnya mencapai Rp 16.400.000.

Sudah cukup? Belum! Masih ada pendapatan yang bersifat tentatif, tambahan yang tidak terjadwal. Misalnya dana rapat pembahasan Rancangan Undang Undang dan uang hadir dalam uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test), yang masing-masing berjumlah Rp 5.000.000 per kegiatan. Ada pula dana kebijakan insentif legislatif sebesar Rp 1.000.000 per RUU.

Halaman
12
Penulis: T. Agus Khaidir
Editor: T. Agus Khaidir
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved