Ngopi Sore

Tugas Bang Buyung Sudah Selesai

Akibat kenekatannya, tak sekali dua kali Adnan Buyung Nasution dijebloskan ke balik jeruji.

Tugas Bang Buyung Sudah Selesai
ANTARA/ANDIKA WAHYU

SIANG menjelang sore, 13 Juni 1967, dalam satu pertemuan di Istana Negara, Jakarta, seorang lelaki kurus berkulit legam membuat suasana menjadi tegang. Ia melontarkan kalimat yang waktu itu haram bahkan untuk sekadar disusun di dalam pikiran: ABRI rakus.

Waktu itu, era Orde Baru sedang dalam "masa bulan madu". Soeharto memerintah dengan gaya yang 180 derajat berbeda dari Soekarno. Geliat politik ditekan. Di pos-pos penting, termasuk yang terkaitpaut dengan ekonomi dan pembangunan, Soeharto meletakkan petinggi-petinggi ABRI. Satu mekanisme kerja yang kemudian disebut dengan istilah Dwi Fungsi.

Bersama sejumlah rekannya yang "sama gilanya", Adnan Buyung Nasution, lelaki kurus berkulit legam itu, menentang kebijakan Soeharto. Ia menyebut dwi fungsi ABRI sebagai celah bagi para petinggi militer untuk melakukan korupsi, juga kolusi dan nepotisme, sehingga harus ada rambu-rambu untuk mencegahnya.

Buyung tak lelah menyampaikan pemikiran ini. Ia berbicara di mimbar-mimbar terbuka maupun bawah tanah. Ia menulis di koran, menulis di pamplet, menyebarkan selebaran. Ia berdemonstrasi. Dan dua rangkai kata itu menjadi puncaknya. Bersama Harjono Tjitrosoebeno, Erie Sudewo, Fuad Hassan, dan Reen Moeliono, ia datang membawa sejumlah dokumen tertulis.

"Saya bilang, ABRI rakus dan makin dalam terlibat kasus korupsi. Saya membawa dokumen- dokumennya dan meminta pada Pak Harto untuk membersihkan para koruptor ini, menyeret mereka ke pengadilan. Sesudah saya mengatakannya, Pak Harto menatap saya tajam-tajam. Wajahnya memerah. Sejenak, dadanya naik turun cepat pertanda nafasnya memburu. Saya tahu dia marah sekali. Tapi kemudian, Pak Harto, bisa menguasai diri. Dia pergi meninggalkan kami begitu saja. Besoknya, di koran-koran, muncul berita yang antara lain berisi kalimat, 'kalau bukan saudara Buyung yang mengatakan, pasti sudah saya tempeleng'. Mungkin kalau kesempatannya berbeda, Pak Harto benar-benar akan menempeleng saya," kata Buyung seperti dipapar dalam bukunya, "Pergulatan Tiada Henti: Dirumahkan Soekarno Dipecat Soeharto."

Adnan Buyung memang pembangkang kelas satu di panggung kekuasaan Soaharto yang begitu absolut. Dia tidak cuma berani berbicara. Dia berteriak lantang saat bahkan orang berpikir seribu kali untuk sekadar membantah. Ia tegak menantang Soeharto dan orang-orang kepercayaannya, tak terkecuali empat jenderal penegak panji-panji Orde Baru: Leonardus Benjamin Moerdani, Soedomo, Ali Moertopo, dan Yoga Soegama (plus orang dekat sekaligus penasihat spiritual, Soedjono Hoemardani).

Apakah Buyung tidak takut? "Saya masih manusia. Saya takut. Kadang malah takut sekali. Tapi saya tidak bisa diam ketika banyak orang menjadi korban ketidakadilan."

Akibat kenekatannya, tak sekali dua kali Adnan Buyung Nasution dijebloskan ke balik jeruji. Ancaman kekerasan tentu lebih sering. Beberapa kali ke kantornya, juga ke kediamannya, dialamatkan paket atau pesan berisi teror. Desakan penerintah Orde Baru sempat pula membuatnya hengkang dari Indonesia. Diasingkan dengan alasan klasik "disekolahkan". Buyung menelan semua itu, dan tetap melawan, tetap ribut.

Dalam satu momentum usai Kopassus menuntaskan drama pembajakan pesawat Garuda Indonesia DC-9 Woyla di Bandara Don Muang, Thailand, tahun 1981, Panda Nababan, wartawan Sinar Harapan yang di kemudian hari menjadi politisi, menuliskan bagaimana dia dipanggil oleh Benny Moerdani.

Panda, seperti dituliskannya dalam buku "Menembus Fakta", diminta Benny agar menuliskan laporan untuk Sinar Harapan sesuai kronologis yang dikeluarkan ABRI. Bahwa seluruh pembajak mati tertembak. Padahal menurut Panda, ada dua pembajak yang tertangkap hidup-hidup.

Halaman
12
Penulis: T. Agus Khaidir
Editor: T. Agus Khaidir
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved