Ngopi Sore

Crane Roboh Gara-gara Jokowi, Tragedi Mina Karena Syiah

Sebagaimana musibah crane roboh, tragedi Mina juga melahirkan sejumlah isu yang "melenceng kemana-mana".

Crane Roboh Gara-gara Jokowi, Tragedi Mina Karena Syiah
AFP PHOTO

DUA hari setelah Tragedi Mina yang menewaskan 717 orang dan melukai lebih dari 800 orang, menyeruak perdebatan seputar penyebab musibah. Tak terkecuali di media massa (cetak, online, dan elektronik). Dari sekian banyak, perdebatan-perdebatan itu dapat diklasifikasikan ke dalam dua kelompok besar.

Pertama, perdebatan yang menjadikan Arab Saudi sebagai biang kesalahan. Kelompok lain adalah pendukung Arab Saudi. Mereka mengedepankan alasan-alasan, alibi, bahkan pengkambinghitaman, baik yang memiliki pijakan logika maupun yang senyata-nyatanya menggelikan.

Kelompok pertama dimotori oleh media massa yang berkedudukan di Iran. Satu sikap yang beranjak dari fakta bahwa 131 korban tewas dari jumlah keseluruhan 717, berasal dari negeri ini.

Tehran Times, harian berbahasa Inggris terbesar di Iran, misalnya. Pada penerbitan Sabtu, 26 September 2015, tiga dari lima berita di halaman depan mengupas tentang Tragedi Mina. Pernyataan Pemimpin Revolusi Islam Iran, Ayatollah Seyyed Ali Khamenei, diturunkan sebagai headline dengan judul Arabia Must Admit Responsibility for Mina Disaster.

Dua berita lain adalah Iranian Official Hold Saudi Officials Responsible for Hajj Tragedy dan Call Rise to Put Hajj Under OIC Authority. Editorial yang ditempatkan di halaman pertama, juga membahas topik serupa, Who Should Take Responsibility for Mina Catastrophe?, ditulis langsung oleh Pemimpin Redaksi Tehran Times, Hassan Lasjerdi.

Media-media dari Lebanon, Turki, Inggris, Jerman, dan Amerika Serikat, berada di kelompok yang sama. Setelah serangkaian perkembangan kabar dari Mina, dalam kolom berjudul The Iranian-Saudi Rivalry is Overdone yang ditulis Rami G. Khouri, harian berbahasa Inggris yang terbit di Beirut, The Daily Star, menunjukkan ke arah mana mereka berpihak.

Pula demikian harian dari Inggris, Guardian dan Daily Mail, dan juga The New York Times, Washington Post, Boston Globe, serta jaringan televisi raksasa seperti CNN dan BBC. Guardian bahkan menuliskan satu laporan panjang yang mencoba memberikan gambaran lebih jelas perihal pergesekan itu, Iran Blames Saudi Mismanagement for Deadly Hajj Crush.

"Lawan" mereka adalah media-media Arab Saudi. Koran-koran beroplah besar seperti Al Jazirah, Al Riyadh, Al Watan, maupun koran-koran berbahasa Inggris seperti Asharq al Awsat, Arab News, dan Saudi Gazette, ramai-ramai berdiri di belakang Pemerintah Kerajaan Arab Saudi. Sembari memaparkan langkah-langkah dan strategi kerajaan dalam menyikapi tragedi, media-media ini melancarkan serangan balik ke Iran.

Arab News, misalnya, menuliskan feature berjudul Overcrowding to Blame for Stampede: Eyewitnesses. Di sekujur tubuh tulisan dipaparkan perihal pra dan pascamusibah, dan tidak ada satu kalimat pun di sini yang mengarah pada selentingan bahwa tragedi terjadi karena human error dari panitia penyelenggara haji Arab Saudi.

Pembelaan lebih keras terdapat dalam berita Saudi Army Not Behind in Reaching out to Hajis dan King: No One Will Be Allowed to Disrupt Islamic Harmony, yang secara terbuka "menuding" ada pihak-pihak yang merusak keharmonisan Islam di Timur Tengah.

Halaman
123
Penulis: T. Agus Khaidir
Editor: T. Agus Khaidir
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved