Ngopi Sore

Crane Roboh Gara-gara Jokowi, Tragedi Mina Karena Syiah

Sebagaimana musibah crane roboh, tragedi Mina juga melahirkan sejumlah isu yang "melenceng kemana-mana".

AFP PHOTO

Tak sulit menebak negara mana yang menjadi pihak tertuding. Iran, Lebanon, dan barat, yang dalam beberapa waktu belakangan memang paling sering mengusik Arab Saudi. Tak terkecuali dalam hal proyek-proyek pembangunan fasilitas di sekitar Masjidil Haram, yang tahun ini ternyata ikut meminta korban pula.

Bagaimana di Indonesia? Di antara 717 korban tewas ada tiga jemaah Indonesia. Sampai Sabtu sore, sebanyak 225 orang belum kembali ke tenda. Mereka hampir pasti selamat, namun diduga tersesat, atau masih berada di rumah sakit karena mengalami luka-luka atau gangguan kesehatan, dan belum terdata.

Sebagaimana musibah crane roboh, tragedi Mina juga melahirkan sejumlah isu yang "melenceng kemana-mana". Jika pada insiden terdahulu pemelencengannya adalah kunjungan kerja Joko Widodo ke Arab Saudi, maka atas musibah kedua sasarannya Syiah.

Sampai di sini saya ingin menyela sebentar dengan kalimat yang dilontarkan penulis Eka Kurniawan, saat berbicara di forum terkait peluncuran novelnya Beauty Is a Wound (versi Inggris dari Cantik itu Luka) di New York, Amerika Serikat.
Eka memapar, Indonesia berpenduduk 250 jutaan, namun satu judul buku rata-rata hanya dicetak 3.000 eksemplar dan hanya sedikit yang mengalami cetak ulang. Dan jika pun dicetak ulang, lebih sedikit lagi yang jumlah cetakannya lebih besar dari cetakan pertama.

"Menjadi penulis di negeri kami, sangat sulit, Tuan-tuan dan Puan-puan. Jika ingin hidup (layak) para penulis mesti memiliki pekerjaan lain. Masalah besar yang masih terjadi di negeri kami adalah orang-orangnya yang malas membaca," ucapnya.

Saya kira Eka benar. Tapi belum 100 persen. Karena kata 'malas' di sini, bukan berhenti pada sekadar malas dalam membaca, namun lebih jauh, malas pula untuk mencari tahu kebenaran atau kejanggalan atau kesalahan dari apa yang mereka baca. Celakanya, dengan pengetahuan yang serba cekak dan bermodalkan menebak-nebak, mereka tak sungkan mencecarkan asumsi, kesimpulan, tudingan, kecaman, ejekan, bahkan vonis.

Kecenderungan-kecenderungan inilah yang membuat pekerjaan para peramu provokasi jadi makin mudah. Insiden crane roboh di Masjidil Haram, misalnya, disambut salah satu portal berita nasional dengan berita berjudul Crane Timpa Ratusan Jamaah di Mekkah, Saat Jokowi Tiba di Jeddah.

Berita ini langsung dikunyah dengan ganas, lalu dikloning, dipreteli, ditambah- tambahi, dan disebarluaskan oleh portal berita lain maupun akun-akun media sosial, lantas disimpulkan: (1) Jokowi pembawa sial; (2) Jokowi tak diterima tanah suci; (3) Jokowi jelmaan dajjal.

Jokowi, saat musibah jelang ritual Lempar Jumrah terjadi, sungguh kebetulan tidak sedang berada di Arab. Beliau di Kalimantan, rapat di tengah hutan yang masih terbakar dan membubungkan asap pekat. Yang berada di Arab adalah para pimpinan DPR yang beberapa pekan sebelumnya bertemu dan hadir dalam kampanye bakal calon Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, di New York.

Tidak ada media di tanah air yang menghubung-hubungkan keberadaan beliau-beliau di tanah suci dengan Tragedi Mina. Saya tak menyesalinya. Sebaliknya, saya justru sungguh bersyukurlah. Sebab jika dilakukan juga, maka artinya kita lebih makjleb nyungsep dibandingkan keledai.

Halaman
123
Penulis: T. Agus Khaidir
Editor: T. Agus Khaidir
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved