NEWSVIDEO: Berwisata Hutan Bakau di Kampung Sicanang Layaknya di Amazon

Semilir angin berhembus menyibak dedaunan pohon-pohon yang tumbuh lebat di air payau itu. Tak ada suara. Hanya kehidupan hewan-hewan

Laporan Wartawan Tribun Medan / Abul Muamar

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Semilir angin berhembus menyibak dedaunan pohon-pohon yang tumbuh lebat di air payau itu. Tak ada suara. Hanya kehidupan hewan-hewan pemalu yang sayup. Kepak sayap burung-burung kuntul putih, kerasak-kerusuk monyet-monyet kecil, memecah hening kemudian.

Itu adalah sekilas pandang yang ada di tengah-tengah jalur wisata dayung sampan di sungai hutan bakau yang ada di Kampung Sicanang, Kelurahan Belawan Sicanang, Kecamatan Medan Belawan, Kota Medan.

Itu baru permulaan. Berwisata dengan sampan dayung tradisional di tengah hutan bakau ini, pengunjung akan menempuh rute yang berkelok-kelok, melewati hutan-hutan bakau dan rumbia, sepanjang 5 kilometer. Sepanjang rute pula pemandangan liar itu akan terus kita rasakan. Mirip di hutan Amazon. Maka tak heran jika sesekali hewan-hewan itu iseng mendekat, karena sejatinya kita sedang bertamu ke rumah mereka.

Sugiarno, warga setempat yang memandu Tribun Medan memasuki hutan bakau ini, mengatakan, wisata dayung sampan ini sudah ada sejak delapan bulan lalu.

"Dari paluh ujung sana ke paluh ujung sana panjangnya 5 kilo (meter). Kita bisa melihat muara lepas di ujung sana. Kayak di Amazon ini," ujarnya, Jumat (30/10/2015).

Selain bisa berkeliling hutan dengan sampan dayung, pengunjung juga bisa sekaligus memancing di atas sampan.

"Kita sediakan pancing juga kalau mau mancing. Di sini ikannya ikan mahal semua. Kayak ikan kakap, ikan kerapuh, kepiting ijo," kata Sugiarno.

Sejatinya, hutan bakau di Kampung Sicanang ini memiliki luas mencapai 700 hektare. Namun, sebagian hutan saat ini masih dalam proses pengembakbiakan.

"Dari sini kita bisa tembus ke Hamparan Perak, Stabat, ke Terjun, Danau Siombak," Sugiarno meneruskan.

Untuk berwisata alam di hutan bakau ini, pengunjung cukup membayar sewa sampan sebesar Rp 50 ribu.

"Bebas, sepuasnya sampai sore. Itu kalau dayung sendiri. Kalau mau minta didayungi, ya, tergantung nego sama pendayungnya," kata Sugiarno.

Meski begitu, Sugiarno mengakui bahwa wisata hutan bakau ini masih butuh peningkatan, seperti penambahan jumlah sampan hingga kebersihan air yang mengaliri hutan.

"Pelan-pelan kita tingkatkan teruslah. Kita berusaha terus supaya airnya bersih," ujarnya.

Adanya wisata hutan bakau ini menambah koleksi daya tarik Kampung Sicanang, satu-satunya kelurahan di Sumatera Utara yang masuk dalam daftar Kampung Iklim 2015 oleh Kementerian Lingkungan Hidup. Seperti diketahui, di kampung ini juga ada rumah kompos dan bank sampah.

(amr/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved